. Pengalaman Mengubah Hidup Part 33 | Kisah Malam

Pengalaman Mengubah Hidup Part 33

0
33

Pengalaman Mengubah Hidup Part 33

hari semakin dekat dengan ujian pendadaranku, pak Sadewo semakin sering mengajak bertemu denganku untuk menyempurnakan skripsiku. sejak aku kembali kesini dari liburan dikampung dan di Surabaya yg tak akan kulupakan, sama sekali aku belum bertemu Sandra, aku sms dan telepon tak ada jawaban, aku semakin khawatir dengan dia. selain itu pak Sadewo juga mencarinya untuk melanjutkan progress skripsinya yg tinggal selangkah lagi selesai. kabar terakhir yg dengar ya pada waktu dia menelponku jika dia akan dijodohkan dengan orangtuanya, setelah itu aku tak mendengar lagi kabarnya, apakah lanjut atau tidak. aku juga tak mencari info mengenai dia ke teman-temannya.

lain Sandra, lain Callisa. aku sudah mengetahui dari dirinya sendiri jika dia mengakhiri hubungan dengan pasangannya, ada rasa bersalah dariku, jika itu terjadi padaku. namun jika aku pikir, memiliki wanita secantik Callisa, aku pilih jalan dengan dia dibanding dengan club mobil atau hal lainnya kecuali acara keluarga. sejak kejadian lalu, kami jadi sering bertukar pesan dan kadang telepon. dia memberiku semangat yg lagi ngerjain skripsi, baru kali ini aku merasa diberi semangat oleh seorang wanita dan kontak-kontakan yg cukup intens. kusadari sebagai seorang introvert, ada rasa kecemasan yg berlebihan saat ingin mendekati seorang wanita, namun biasanya wanitanyalah yg agresif mendekatkan diri dengan seorang introvert, mungkin ini yg sedang terjadi padaku. Callisa agresif terhadapku.

hari ini sangat cerah menjelang tengah hari, rasa terik dan debu yg tertebangan membuat udara di ibukota menjadi kotor, aku berada dikampus beda suasana dengan dijalanan, kampus yg rindang dan asri membuat rasa adem bagi mahasiswanya yg sedang berkuliah. aku sudah janji dengan pak Sadewo untuk bertemu, hanya itu saja agendaku hari ini.
“yauda, ini revisi minor, dan masuk ke bab 5 ya, setelah itu kita check semua dari halaman 1”, ujar pak Sadewo dengan cepat dan padat mengingat banyak siswa yg antri untuk konsultasi.
“baik pak, terimakasih”, balasku singkat sambil memberesi kertas-kertas yg kubawa.
“eh siapa, Sarah mana?”, tanya dia padaku.
“haa Sarah siapa pak? Sandra?”, balasku dengan bingung.
“eh iya haha maklum nak, banyak pikiran”, ujar beliau sambil ngakak.
“haha gak tau ee pak, aku sms dan telpon gak ada respon”, balasku apa adanya.
“hmmm yauda terserah dialah mau apa”, ujarnya sambil menjulurkan tangan pertanda aku disuru keluar dari ruangan untuk bergantian dengan yg lain. saat aku berjalan keluar banyak siswa yg sudah menunggu dilantai menunggu antrian, tak lupa aku memberi salam pada mereka.

saat aku berjalan untuk mencapai mobilku untuk pulang namun aku bertemu Callisa yg sedang duduk sambil membuka laptopnya dengan secangkir kopi starbuck disebelahnya.
“hee Rendy”, teriak dia menyapaku.
“eh hello, sendirian aja?”, tanyaku, dan dia hanya mengangguk sambil tersnyum lebar dengan sumringah, “abis bimbingan?”, lanjutku.
“iya, kamu?”, tanya dia.
“iya sama, ini mau pulang”, balasku.
“gimana bimbinganmu?”, tanya dia.
“baik kok, udah masuk bab 5, kamu gimana?”, ujarku sambil menunjukkan mimick wajah yg lelah karena skripsi.
“lagi mau olah data, widiiiiw bentar lagi lulus dong”, ucap dia sambil menunjukkan ekspresi tak mau jauh dariku.
“haha iya syukurlah akhirnya, tak apa kan masih bisa sms/telpon”, terangku.
“hahahhaa”, tawa dia, “jalan yuk cari makan”, ajak dia.
“boleh, kemana?”, balasku.
“ke mall aja sambil ngadem”, ajak dia. lantas kami berdua bersiap dan on the way ke lokasi yg kami tuju untuk makan siang. selama pejalanan entah kenapa jantungku berdebar, bukan karena nafsu tapi hati kali ini yg berbicara. rasanya memang beda.

sebelum makan, dia mengajak untuk lihat-lihat barang-barang yg ditawarkan oleh kios di dalam salah satu mall terbesar di Indonesia. yg membuatku semakin deg-deg.an adalah Callisa menggandeng dan memeluk lenganku saat kami jalan. orang pada memandangiku antara takjub atau penuh tanya, kenapa cowok macam aku bisa memiliki pasangan secantik dan se-flawless Callisa. selama dia menggandeng tanganku tersinar wajah bahagia tersirat di tiap senyumnya, hatiku benar-benar meleleh olehnya, apa ini rasanya jatuh cinta.
“ini bagus ya, Rend”, ujar Callisa sambil menunjuk salah satu tas tangan di salah satu kios.
“iya”, ujarku singkat tak tau harus ngomong apa selain iya. lantas dia ngajak jalan lagi ke bagian sepatu, hal yg sama dia tanyakan padaku. kami berjalan menyusuri tiap lantai di mall ini, kadang dia tertawa sambil spontan memelukku, aku hanya roaming apa yg terjadi.
“awwwwww cincin berliannya lucu”, ujar dia lagi.
“wihhh 22 juta”, ucapku.
“ih mahal ya, udah dapet motor itu haha”, balas dia.
“iyaaa, kasian ya lelaki, kalau ceweknya minta ini itu mulu”, ujarku ngaco.
“kalau itu mah ceweknya gak tau diri”, ucap dia sambil kembali menarikku mengajak jalan.
“kalau aku sih, gak perlu branded, yg penting siapa yg makai, yg makai orang kaya, barang KW bisa dikira asli”, terangku dan dia memperhatikan.
“iya ya, aku juga gak suka yg mahal-mahal, ntar ujung-ujungnya kan juga rusak”, balas dia.
“dasarnya udah cantik, mau pakai apa aja ya lantes”, ujarku.
“siapa yg cantik, aku??”, tanya dia berhenti berjalan dan memandangiku.
“haha gak tau yaaa”, singkat jawabku yg membuat Callisa meremas tanganku.

setelah hampir sejam kami hanya berjalan dan memutari tiap kios yg ada di dalam mall ini, kamipun memutuskan untuk mencari makan.
“yuuk, cari makan, kamu mau apa?”, tanyaku.
“apa aja yg penting sama kamu”, balas dia ngegombal.
“oke, aku mau makan rumput”, balasku dengan bercanda.
“yeeeeee, aku lg mau sushi”, ujar dia dengan memeluk tanganku, akupun mengiyakan dan kami berjalan menuju ke tempat sushi yg dia inginkan.
“CIEEEEEEEEEEEEEE”, tak ada angin dan hujan tetiba terdengar suara keras dan lantang berupa ledekan saat lelaki dan wanita sedang bersama, suara nyaring itu terdengar dari salah satu sudut foodcourt yg kami lewati, kamipun clingukan siapa, Callisa melepas cengkramam ditanganku jika seandainya suara sorakan tadi tertuju pada kami. benar saja, suara tadi memang untuk kami yg sedang bergandengan tangan, rasanya bagai tersambar gledek saat ku ketahui dibalik suara itu berasal dari Helga, Andita dan Sandra………..
kami berdua salting, Callisa berjalan kearah mereka, dan aku berjalan pelan dibelakang Callisa. samar-samar terdengar.
“ooo pantesan putus yg kemarin”, ujar salah satu dari mereka dengan wajah senang.
“enggak woe, apaan sih hanya jalan biasa kok”, pembelaan Callisa.
“jalan biasa tapi peluk-peluk unyu”, ujar mereka lagi, aku hanya terdiam salting karena ada Sandra.
Sandra juga nampak senang, tapi dia sedikitpun tak menatapku, beda dengan Helga dan Andita juga turut menyapaku.

aku……matikutu, mampus, dead, fucked, buried alive, modar.

POV SANDRA

*flashback beberapa waktu lalu*

seperti yg sudah diceritakan, aku terlahir dari keluarga yg sangat tegas dan disiplin, dimana seorang anak harus patuh dengan perintah orang tua. namun aku bersyukur lahir di keluargaku ini, dari segi finansial sangatlah sangat cukup dan kami juga sangat bahagia, walau terkadang ada yg tak sejalan dengan pola pikirku.

aku kembali ke Kalimantan, dimana orangtuaku tinggal dan memiliki usaha, tapi kami bukan asli dari pulau ini, melainkan Jawa. rasanya sangat senang dan bangga bertemu mereka disaat nilai kuliahku sangat baik, namun layaknya semua orangtua mereka terus menuntut lebih.
“hello mami, Sandra pulang”, ujarku saat tiba dirumah habis dijemput oleh supir keluarga kami.
“ihhh anak mami yg cantik, mami bangga ah sama kamu”, ujar mamiku sambil memeluk.
“papi mana sama Savira”, tanyaku. Savira adalah adikku.
“papi mah masih di kantor seperti biasa, Savira masih sekolah dong”, terang mamiku sambil mengambilkan airminum untukku. papiku adalah seorang pengusaha batubara disini. maka bisa dikatakan kehidupan kami masuk pada kelas atas, namun orangtuaku mengajariku untuk hidup sederhana.

rasanya sangat plong mendengar mamiku bangga denganku, apalagi dengan skripsiku yg relatif sangat lancar dibandingkan dengan teman-temanku. jadi liburan kali ini aku merasa sangat tenang. tak bisa dibayangkan jika aku tak kenal dengan Rendy, mungkin aku memilih tak pulang menemui orangtuaku. orangtuaku tak kuceritain mengenai Rendy yg membantu dengan urusan akademikku. layaknya orangtua pasti dikira ada apa-apa jika seseorang menceritakan lawan jenisnya dihadapan orangtua, selain itu aku juga malu menceritakan dia, bukan karena apa, tapi memang kami belum ada hubungan yg sah atau komitmen yg jelas. susah nanti jika ditanya sudah berhubungan sejak kapan, aku harus menjawab apa selain hubungan badan.

papiku pulang malam seperti biasa, adikku sore sudah sampai rumah. walau papiku seorang pimpinan dan juga pemilik perusahaan batubara, tapi dia suka ikut mengawasi dilapangan, sehingga kulitnya menjadi gelap. papiku orang jawa asli sedangkan mamiku seorang chinese, dan aku lebih seperti ibuku. dengan komposisi seperti ini sehingga besar kemungkinan jika aku dengan orang jawa seperti Rendy. malam pertamaku di Kalimantan hanya ngobrol hal-hal yg ringan, seperti biasa papiku menanyaiku terkait akademikku, selain itu membicarakan kemungkinan sekolah lagi untuk S2 diluar negeri atau fokus pada bisnis.

skip skip
*beberapa waktu kemudian di Kalimantan*

keluargaku selalu membudayakan makan malam bersama di meja makan sambil ngobrolin hal yg kita kerjakan atau hal seru yg kita lakukan. menu makan malam ini, pembantuku yg bernama Mak Ijah memasak kare ayam, rasanya sungguh enak dan kental. keluargaku pernah memberinya kesempatan untuk keluar dari pekerjaan ini dan akan dimodalin jika ingin membuka warung, sangat disayangkan kemampuan masaknya hanya kami saja yg merasakan, namun Mak Ijah menolak pilih hidup mati ikut kami, dia tinggal disini dengan suaminya yg jadi supir pribadi mami dan Savira. sedangkan ketiga anaknya dibiayai sekolahnya oleh mamiku di kampungnya. makan malam kami lalui dengan nikmat, banyak tawa dan canda.
“Sandra, kamu sudah punya calon belum nak?”, ujar mamiku dengan halus.
“belum mi, skripsi aja belum kelar”, balasku datar.
“hmmmmm”, balas mamiku diiringi dengan jeda karena mami makan buah jeruk didepannya.
“lha rencana kedepan kamu bagaimana? mau sekolah lagi atau udah?”, tanya papiku.
“udah ya pi, sekolahnya sampai ini saja”, ujarku.
“hmmm papi kan semakin tua, papi ingin pensiun, tapi sebelum papi pensiun, papi ingin mengajari suamimu melanjutkan batubara papi sebelum papi bener-bener pensiun”, terang papiku yg menurutku masuk akal.
“lha gimana, Sandra belum punya calon”, ujarku semakin tertekan, “lagian belum ada pikiran nikah dekat-dekat ini”, lanjutku.
“hmmmmm mii…”, kata papiku berkata pada mamiku.
“jadi gini, mami sama papi, akan mengenalkan kamu dengan anak pak Hendra, namanya Radja, usianya hampir sama kok dengan kamu, ganteng juga, mau ya mami kenalkan?”, terang mamiku yg membuat jantungku shock dan aku terkaget. memang aku pernah bertemu Radja saat acara yg diselenggarakan papiku, dia ganteng dan gagah. kalau urusan cocok ya cocok, tapi urusan hati, entah. aku jadi teringat kata sastrawan, menikah itu nasib, mencintai itu takdir.
“apaan sih ini, kok main jodoh-jodohan, emang aku gak mampu ya cari sendiri?!”, teriakku marah, aku langsung meninggalkan meja makan, Savira pun terbengong dengan aku yg marah, aku berlari ke kamar sambil menangis.
aku dikamar menangis semenangisnya, aku tersendu-sendu tak karuan, aku tak mau keluar kamar, aku benci dengan hidupku yg selalu penuh tekanan. oranglain yg mendengar tangisanku pasti hatinya ikut tersayat. sudah tidak jaman main jodoh-jodohan, tangisan ini mengantarkanku hingga tidur.

keesokan harinya, aku mengurung diri dikamar, aku tak mau keluar kamar. bahkan sarapan dan makan siangku diantarkan oleh Mak Ijah. mamiku belum kemari, apalagi papiku, jika mereka memiliki kehendak pasti harus dituruti oleh anaknya, hanya Savira yg tadi pagi sebelum sekolah mampir ke kamarku. aku harus mengeluarkan uneg-uneg ini.
“hiks hiks hiks…Rend hiks hiks”, suara isak tangisku memulai pembicaraan dengan Rendy.
“eh kamu kenapa?”, tanya dia cemas dengan keadaanku.
“ahhhh aku benci orangtuaku”, balasku singkat dengan diiringi isak tangis.
“tarik nafas panjang Sandra, biar kamu tenang”, balas dia.
“huuuuuuuusm huuuuusm huuuuuuuusm, hiks hiks hikss..aku mau dijodohin sama orangtuaku, setelah lulus mau dinikahkan, aku gak mau, aku gak mau ngerjain skripsi biar gak lulus, kenapa sih aku selalu gini??!”, terangku panjang lebar.
Rendy hanya sedikit terdiam mungkin bingung mau bagaimana.
“aku gak tau harus jawab bagaimana, jika kamu ada disisiku, aku akan kasih pelukan terhangatku bagimu”, balas dia yg membuatku tersenyum dan menenangkan.
“aku gak pengen jawaban, aku hanya pengen cerita”, balasku dengan masih diiringi isak tangis, “aku gak tau harus bagaimana biar keluar dari ini”, kembali aku melanjutkan.
“coba kamu jelasin ke papahmu jika kamu gak ingin dijodohkan”, ujar dia ngasal.
“gak bisa Rend, hmmm apa aku hamil aja ya”, kataku semakin ngaco.
“eh jangan, gila kamu, udah to, yakinlah pasti akan ada jalan yg lebih baik, udah ayo ke sini dulu”, ucap dia menolak ideku.
“iya, mungkin akhir minggu ini”, balasku.
walau tidak menghasilkan apa-apa dari telepon tadi, setidaknya sudah sedikit keluar dengan bicara dengan Rendy.

“knock knock, sayang…”, pintu kamarku diketuk oleh mamiku. aku berdiri membukakan pintu.
“sini anak mami, jangan nangis terus”, ujar mami sambil memberikan pelukan hangatnya.
“kenapa sih mi, aku selalu ditekan?”, ujarku dipelukan mami.
“enggak sayang, kenapa merasa begitu?”, balas dia, aku tak membalas namun justru menangis kembali, mataku sudah bagaikan mata panda.
“hmm apa yg mami papi lakukan itu hanya untuk kebaikan kamu nak, mungkin kamu tak tau, mami dan papi juga hasil perkenalan kakek nenekmu, buktinya kami juga bisa bahagia dan menghasilkan kalian”, terang mami.
akhirnya pembicaraan panjang dan lebarpun terjadi, mamiku menjelaskan secara detail mengapa mereka begini, memang sih untuk kebaikanku juga. akhirnya aku luluh juga namun aku diberi kesempatan untuk membawa calon yg kuingankan ke orangtuaku, tapi jika aku tak bisa, aku akan menerima perkenalan itu, walau tak 100% harus menikah dengan anak pak Hendra, setidaknya kenal dulu dan biarkan mengalir natural. setidaknya ini membuatku tenang dan untuk meyakinkan diriku akan bagaimana.

*waktu sekarang*

selama aku di Kalimantan, memang aku selalu dikontak Rendy mungkin dia cemas setelah aku kabari kalau aku akan dijodohkan, tapi aku sama sekali tak merespon, bukan karena ingin menjauh, tapi lebih ke meyakinkan diriku, apakah dia yg pantas denganku, selain itu aku jg ingin tau seberapa keras dia menginginkanku, apakah hanya badanku saja atau hatiku. tak kupungkiri kalau aku manarik ulur dia, tapi hingga menjelang akhir semester dia masih saja sabar menghadapiku. mungkin jika Rendy sedikit berani untuk meresmikan, pasti aku akan menerimanya, sayang sekali dia sendiri tak berani, jadi aku hanya menunggu-menunggu dan menunggu. masa ya iya aku harus maju duluan.

sekembalinya di ibukota, aku melewatkan banyak cerita disini, termasuk obrolan ringan bersama temanku, sehingga bukannya aku ke kampus untuk menemui pak Sadewo, tapi aku justru jalan dengan Andita dan Helga.
“Callisa sama Manda gak bisa?”, tanyaku saat kami meet up di foodcourt salah satu mall tersebar ini.
“Callisa ada bimbingan, Manda katanya udah ada janji sama siapa gitu”, ujar Helga sambil memilih menu makanan.
“Callisa putus kan”, ujar Andita dan Helga mengangguk sambil tertawa.
“oh ya, kenapa, belum cerita doi?”, tanyaku penasaran.
“halah biasa, Callisa gak diperhatiin, udah biasa”, ujar Andita.
obrolan semakin seru, minuman yg kami pesan sudah habis hingga 2 gelas sebelum makanan utama datang, karena kami terlalu banyak tertawa dan bercanda. aku belum menceritakan masalah yg aku hadapi memang karena ingin ku ceritakan pada Rendy terlebih dahulu agar aku tau dia akan bersikap bagaimana terhadapku.

“lho lho bukanya itu Callisa, dengan siapa dia, anjir mesra banget”, ujar Helga.
“mana sih beb?”, tanyaku.
“itu tu tuuh, ketawanya khas banget”, ujar Helga dengan menunjuk dua orang insan yg sedang berjalan bahagia kearah kemari tanpa tau jika kami disini.
jantungku dan hatiku langsung runtuh saat ternyta yg digandeng mesra oleh Callisa adalah Rendy, aku ingin menangis tapi airmata tak keluar, tapi sebaliknya justru senyuman yg keluar dari bibir tipisku karena Callisa sahabatku yg tak mungkin aku musuhi gegara lelaki yg sama.
“CIEEEEEEEE”, suara lantang Helga dan Andita saat mereka berdua sudah dekat dengan kami, terlihat mereka salting dan Callisa melepas cengkramannya. tak terdengar lagi apa yg temanku katakan, hanyalah suara detak jantungku yg kencang hingga mendominasi suara gendang telingaku. aku sama sekali tak memandangi Rendy yg berada dibelakang Callisa. perasaanku campur aduk, baru ditinggal sebentar udah gandengan dengan yg lain, namun aku ikut bahagia pada Callisa.

POV RENDY

sejak kejadian yg tak mengenakkan tadi siang dimana saat aku bergandengan tangan Callisa, dan entah darimana ada Sandra. aku tak tau harus bagaimana, harus gimana untuk membenarkan keadaan ini, akankah hanya karena aku, Sandra dan Callisa akan bermusuhan, tapi kejadian tadi siang, Callisa dan Sandra juga masih cium pipi dan tawa canda seperti biasa walau hanya singkat. hatiku dirundung galau yg tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. hubunganku dengan Callisa semakin hari semakin dekat, walau ada kejadian tadi siang, Callisa tetap aja seperti biasa.

apakah aku mencampakkan Callisa untuk Sandra? Callisa jelas memberiku perhatian dan kasih sayang yg selama ini aku idamkan, namun Sandra sudah aku kenal sejak lama jadi tau luar dalam dia bagaimana. aku galau……..


Callisa

VS


Sandra​

—BERSAMBUNG—

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler