. Nirwana Part 72 | Kisah Malam

Nirwana Part 72

0
59

Nirwana Part 72

Purgatorio

Nusa Dewata, 10 Tahun lalu…

~Hujan~

Pijaran lampu blitz berkilau sekilas. Membias ke atas wajah remaja manis dengan poni dan kacamata ber-frame tebal.

Apabila hidup diibaratkan sebuah sinema dalam teater imajiner Maha Raksasa, di mana kita dapat merunut sebuah titik dari rol film dan memutar ulang perjalanan panjang yang bernama hidup tentu ‘dia’ akan masih berada di sampingnya: Pemuda bereragam putih-abu, berambut ikal, dengan sepasang mata yang menatap teduh, seperti sekumpulan uap air yang bergumpal putih di biru langit.

Cocok,” Awan berkata. Membidikkan lensa ke arah gadis kecil yang sedang asyik membuat sketsa di hadapannya.

Cocok napa?

Cocok jadi model! Gantiin Kak Luna.”

Ngejek, yah!

Eh, aku serius nih!” Awan mendekat, melepas kacamata Hujan. “Nah, gini kan cakep…” kata pemuda itu sambil memperhatikan wajah Hujan yang langsung merona.

Sheena tersipu sambil memainkan rambutnya. “Awan, kamu serius aku cocok jadi model?

Dua rius! Kamu lebih natural dari Kak Luna!” Awan menekan tombol picu. Kilatan blitz memberkas ke dalam mata Hujan.

Remaja itu menunduk tersipu.

Kenapa?

Kayaknya mimpinya ketinggian, deh.

Lho, apa salahnya punya mimpi?

Awan lalu menjelaskan tentang visi hidupnya. Bahwa hidup manusia harus dipenuhi mimpi. Kita harus berani bermimpi, tapi jangan hidup dalam mimpi! Kita harus mewujudkan mimpi itu!

Oke, sekali lagi ya kutanya: apa mimpimu?

Komikus!

Komikus? Hmm boleh juga… Nggak pengin jadi model?

Pengeen jugaa! Aku mau jadi model!

Kalau gitu aku yang jadi fotografer!

Terus?

Aku yang motret kamu buat Vogue!

Asyik!

Kita wujudin mimpi kita!

Serius?

“Serius!”

Janji?

Janji!

Dan mereka mengaikan jari, saling mengikat janji.

= = = = = = = = = = = = = = = = =

~Langit~

Hujan. Selama ini aku hanya mengenalnya dengan nama alias. Tiap malam anak itu selalu bercerita tentang ‘Hujan’, tentang matanya yang bulat lucu, tentang kegemarannya yang sama denganku, melukis. Namun ketika aku bertanya nama aslinya, Awan selalu mengelak. “Panggil saja ‘Hujan’. Aku Awan, dia Hujan, cocok kan?” Awan terkekeh-kekeh, “kami memang ditakdirkan bersama,” tambahnya dengan jumawa. 10 tahun yang lalu.

Kalau begitu aku jadi ‘Langit’, sahabat-nya Awan untuk mendapatkan Hujan.”

Kau? Bocah cengeng sepertimu? Apa yang bisa kau lakukan?

Tidak selamanya aku cengeng, tahu. Suatu saat aku akan mewujudkan mimpi-mimpiku sendiri menjadi pelukis paling hebat.

Senyum lebar mengembang di bibir Awan. “Nanti malam aku kencan sama Hujan,” anak itu berkata di suatu malam, di tahun 2002. “Di kafe di Jalan Legian yang kamu kasih tahu itu,” ucapnya, sambil menjepret-jepret tidak jelas.

Oh, well selamat, jadi kapan kamu ngenalin dia ke aku?

“Di sini, bro. Di sini ada fotonya, jegeg pokoknya.” Ia menepuk-nepuk roll film itu dengan bangga. “Nanti akan kukenalkan kalau kami sudah jadian, aku takut kamu malah naksir dia, hahaha…”

Hahaha, setiap hari selalu anak itu yang kamu ceritakan ke aku, dan nggak aneh kalau suatu saat aku naksir ‘Hujan’ cuma gara-gara mendengar ceritamu.”

Bisa jadi. Makanya tak bakal pernah kukenalkan.”

Aku hanya tergelak mendengar sahabatnya terbakar cemburu. “Ngapain cemburu. Aku yakin kita bertiga akan menjadi sahabat baik. Langit, Awan, dan Hujan.”

Tawa lebar hadir sebagai jawaban. “Pasti,” ucap Awan mantap sebelum menekan tombol picu. Aku segera memicingkan mata menghindari pijaran lampu blitz yang berkilat menyilaukan. Tedengar suara rana yang membuka dan menutup, mengabadikan kenangan dan sepasang sahabat yang saling memeluk dalam dunia yang satunya.

Awan. Bocah tengil yang kutemui saat aku pindah ke Nusa Dewata ketika ibukota sedang rusuh-rusuhnya, ketika penjarahan dan pembakaran merebak di mana-mana, ketika Tuan Presiden diturunkan secara paksa oleh unjuk rasa yang tak berkesudahan.

Awan. Bocah aneh di sebelah rumah yang selalu membelaku saat aku diganggu hanya karena namaku terdengar berbeda dengan nama mereka yang diawali Wayan, Made, atau Ketut. Bocah optimis yang selalu berhasil membesarkan hatikU yang pesimistis.

Awan selalu berkata, kita nggak pernah minta sama Tuhan dilahirkan di mana, dengan agama apa, dengan nama apa. “Orang bilang itu takdir, Samsara. Bisa apa kita dengan itu semua?

= = = = = = = = = = = = = = = = =​

Malam itu Awan berangkat menemui pujaan hatinya. Dari sebelah rumah kuperhatikan wajahnya berseri-seri sambil menstarter motornya.

Kalau berhasil, traktir-traktir,” ledekku.

Pasti, lah. Kau juga punya saham karena merekomendasikan tempat kencan.”

Jamin diterima.”

Doakan saja.”

Jangan lupa bawa uang lebih, harganya mahal!

Awan hanya tergelak-gelak lalu memacu motornya tanpa banyak kata.

Seharusnya aku tidak menyuruhnya ke sana…

= = = = = = = = = = = =

~Hujan~

Seharusnya aku tidak menerima ajakan itu

Malam itu Sheena kehilangan kata-katanya, ia hanya bisa tersenyum-senyum sendiri saat dibonceng melewati jalanan Kuta yang macet dan dipenuhi wisatawan. Hujan melingkarkan lengannya di pinggang Awan, menikmati malam yang sepertinya diciptakan hanya untuk mereka berdua.

Bilang ibumu, kita pulang agak malam ya,” Awan berkata, saat mereka sampai di sebuah kafe di Jl. Legian yang dipenuhi wisatawan.

Siap, Bos!” Sheena tersenyum jenaka, menikmati pemadangan dari tempat duduk mereka yang terletak di dekat jalan.

= = = = = = = = = = = =​

Alunan musik Bossanova merdu mengalun di kafe bergaya italia itu saat Fruit Parfait dihidangkan.

Enak!” Mata Sheena seketika berbinar melihat es krim yoghurt dengan buah-buahan dan astor di atasnya. Remaja itu mengunyah dengan pipi penuh. Lucu sekali. “Eh, tapi aku dibayarin, kan?” Hujan nyengir polos.

Awan mengangguk dan tersenyum mencurigakan.

Jangan bilang kamu nggak bawa uang.” Sheena mendelik, matanya menyelidik.

B-bawa kok! S-siapa b-bilang, hehe..” Awan berkata, cepat-cepat menyuap sesendok es krim.

= = = = = = = = = = = =

~Langit~

Malam itu Awan hanya mengirimkan pesan singkat: “SOS. Duit kurang. Besok kuganti.”

Sebagai seorang sidekick sejati, lekas aku menyusulnya, melewati jalanan Provinsi Nusa Dewata yang terkenal sebagai tujuan pariwisata dan dipenuhi oleh pelancong asing. Tak ada firasat, ataupun pikiran buruk yang melintas. Tidak sedikitpun.

Seharusnya aku tak pernah bisa melupakan saat itu.

= = = = = = = = = = = =

~Hujan~

Sepanjang malam itu, mereka berdua berbincang-bincang tentang berbagai hal, namun Hujan menyadari ada yang aneh dengan Awan malam itu, berkali kali pemuda itu menghela nafas panjang, entah kenapa.

Hujan,” Awan tiba-tiba berkata.

Hah?”

Hujan, nama belakangmu artinya ‘Hujan’ kan?

I-ya.” Sheena mengangguk cepat.

Cocok ya, Awan dan Hujan.” Awan berkata, agak bergetar.

Oh my God… Oh my God… Sekarang nih… Awan mau nembak aku… aduuuh… aku jawab apa? Sheena mengerjap-ngerjap panik, “I-ya…”

Hujan…”

A-apa?

Malam itu, Sheena tidak bisa melupakan senyum Awan, juga sepasang mata yang menatapnya teduh, seteduh kumpulan uap air di biru langit.

Awan menarik nafas panjang, “Hujan, boleh saya…”

Sheena menahan nafas, sebelum terdengar letupan kecil di kejauhan. Mendadak keduanya saling mengernyit dan saling lirik ke sekeliling, ke arah bule-bule yang bersorak sorai mendengar suara letupan kembang api.

Kembang apinya bagu-s...” Awan tidak menyelesaikan kalimatnya…

Sheena tidak tahu apa yang terjadi, ia hanya mendengarkan sebuah ledakan besar, lalu mendadak sekelilingnya terang benderang oleh warna merah menyala.

Dirinya seperti dihempas oleh tekanan maha raksasa, dan Awan hanya bisa memeluknya, melindunginya dari serpihan benda-benda yang berterbangan…

Kemudian pandangannya berubah putih, dan kian meredup…

= = = = = = = = = = = =

~Langit~

Seharusnya aku tak pernah bisa melupakan saat itu.

Tragedi Bulan Oktober...

Aku hanya mendengar sebuah ledakan keras dan bumi yang diguncangkan bak hari akhir yang tiba sebelum waktunya. Sedetik kemudian langit yang mendadak berwarna merah seperti darah.

Ada bom!” kata orang-orang yang berlarian ke arahku. “Di jalan Legian,” kata seorang bapak dengan kepala berdarah.

Seharusnya aku tidak menyuruhnya ke sana

Setengah mati aku menembusi kemacetan, berlari melawan melawan arus manusia, menembusi kerumunan orang yang panik berlarian ke sana kemari, bahkan tak menghiraukan petugas yang mencoba menghalangiku.

Seharusnya Awan tak perlu ada di sana...

Seharusnya aku tak bisa melupakan malam itu, di mana Neraka, telah dibawa ke dunia oleh pencari-pencari Surga. Teriakan minta tolong bergema di antara kaca-kaca toko yang pecah, dan kendaraan yang terjungkir balik. Jeritan kesakitan bersahutan di antara api berkobar-kobar, dan asap hitam yang berpusar ke udara. Inferno.

Bersambung

Daftar Part