. Cinta yang Liar Part 45 | Kisah Malam

Cinta yang Liar Part 45

0
83

Cinta yang Liar Part 45

Malam ini aku dan dian telah sepakat dengan kata hati kami berdua untuk melanjutkan cerita cinta kami berdua berjalan kembali. Aku sudah tidak peduli lagi dengan siapa saja laki-laki yang suka, cinta dengan dian, pacarku. Seandainya saja ada orang yang menyuruhku mundur, aku pasti akan menghajarnya. Aku laki-laki, fisik akan aku andalkan, masalah hati biar dian yang menenangkan aku. Karena aku yakin dian akan selalu bersamaku saat ini hingga akhir hayatku.

Setelah kedua tangannya meraih tanganku dan menuntunku ke dalam kamarnya. Dian kemudian melepaskan kedua tanganku dan menyalakan lampu. Aku begitu terkejut dengan apa yang aku lihat benar-benar aku tidak menyangka akan apa yang aku lihat kali ini.

“mas… mas kenapa?” ucap dian

“eh… ini?” ucapku dengan hati yang menganga heran, aku melihat ke arah dian yang menautkan kedua tanganya di belakang tubuhnya. Kepalanya tertunduk dengan bibir yang tersungging ke atas

“Ya seperti yang mas lihat hi hi …” ucapnya sambil tersenyum nakal

Aku melangkah ke tengah kamarnya, dan kemudian berputar melihat semua dinding yang membuatku terkejut. Semuanya memang benar-benar membuatku sangat terkejut.

“ini ketika aku masih bayi”

“ketika SD…”

“ini ketika aku SMP…”

“ini ketika aku bersama koplak ketika SMA”

“aku bersama kakek dan nenek”

“aku bersama om dan tante”

“aku bersama pak dhe dan bu dhe”

“aku bersama teman-teman kuliahku”

“Aku sendirian yang jelas itu adalah aku ketika sudah kuliah”

“kenapa semua foto-fotoku dia punya?” bathinku

“Ade… dari mana ade dapat foto-foto ini semua?” ucapku

“dari efbe” ucapnya sambil tersenyum

Aku kembali memutar tubuhuku melihar semua foto-fotoku yang menempel di dinding kamarnya, semuanya sejak aku bayi hingga aku kuliah. Menempel teratur dan rapi didalam dinding kamar dian, Dian Rahmawati. Ah, memang benar aku mengupload semua foto-fotoku ke dalam jejaring soial tersebut. Benar-benar hal gila yang pernah aku lihat…

“apakah benar ade yang melakukan ini semua” ucapku sambil memegang kedua lengannya

“hu’um…” jawabnya,

Aku langsung memeluk tubuhnya, tubuh yang selama selalu mengaggumiku. Bahkan aku sebagai lelaki yang mengaguminya tidak pernah melakukan hal segila ini. aku memeluknya dengan sangat erat, seakan ingin aku remas tubuhnya dengan pelukanku.

“seperti itulah ade, mas”

“seandainya mas tahu, sejak ade bertemu mas pertama kali di semester lima… semenjak itu ade tidak bisa melepaskan pikiran ade ke mas, sekalipun ade pernah terlena dengan felix untuk kedua kalinya, foto-foto itu tidak pernah sekalipun lepas dari dinding kamar ade. Siapapun itu yang mendekati ade, semenjak ade menemukan mas kembali… foto itulah yang selalu mengingatkan ade akan hati yang dulu selalu menyanjung ade, menggandeng tangan ade. Ade tidak peduli tentang status mas tidak pernah peduli, sekalipun ade adalah dosen mas. Ade tetap cinta mas” ucapnya sambil memelukku erat

“terima kasih hiks hiks terima kasih… maafkan aku yang selalu menyakitimu… maaf hiks….” ucapku dengan dian dalam pelukanku. Kenapa aku yang menangis, hufth…

“maafin ade juga ya mas..” jawabnya

“hiks… tapi mas ndak nyangka kalau ade bisa seperti ini…” jawabku sambil melepas pelukanku dan menatap kedua matanya yang juga mengalirkan air mata dipipinya

“sebenarnya ade mau nunjukin ke mas waktu mas dikejar-kejar sama orang-orang kemarin, tapi masnya ndak mau owk hiks…” ucapnya

“iya maafin mas ya ade’ku sayang… mas ndak akan jauh lagi, mas akan selalu dekat dengan ade” ucapku

“he’em… harus… harus dekat terus” ucapnya yang kembali kami berpelukan lagi

“sudah jangan menangis lagi mas… ternyata mas lebih cengeng daripada ade hi hi hi” ucapnya dalam pelukanku

“ade yang bikin mas cengeng… hiks hiks hiks seneng banget mas…” ucapku sambil melepaskan pelukanku dan memandangnya

Kami berdua berpandangan dan saling melempar senyum. Tak satupun dari kami melepaskan pandangan dari mata masing-masing. Benar-benar sesuatu yang membahagiakan, seperti orang baru menikah saja. Ku betet hidung mancungnya sambil aku goyang ke kanan dan kekiri. Dia hanya membalasku dengan senyuman dan saking gemasnya aku dengan dian aku menggoyangnya terlalu keras.

“iih…sakhhheet mas…” ucapnya dengan suara cempreng

“habis gemas lihat ade…”

“ade… ade… ade… ade…” ucapku

“Dalem (iya) maaaaas…” balasnya sambil tersenyum

Kami berpandangan lagi entah apa yang akan kami lakukan setelah ini…

“bobo yuk mas, ade ngantuk…” ucapnya

“he’em…” balasku

Aku kemudian beranjak keluar dari kamarnya…

“mas mau kemana?” ucapnya

“bobo diluar…” balasku dengan wajah polosku

“bobo sini, bareng adeeeee…” ucapnya manja sekali

“t… tt….tapi kan anu itu…” ucapku, sambil melihat wajahnya yang jengkel

“i.. iya bobo sini…” ucapku, Dengan gugup dan kebingungan aku berjalan menuju tempat tidur daripada semakin membantahnya bisa-bisa dia ngambek lagi.

“mau tidur pakai jaket mas?” ucap dian sedikit menggodaku

“ya seadanya saja” balasku yang sekarang berada di samping tempat tidur menghadap ke tembok. Aku lepas jaketku dan hanya mengenakan kaos lengan pendek berwarna hitam

“ni mas, pakai ini” ucapnya, aku kemudian berbalik seektika itu, kuraih celana pendek yang diberikannya.

Dian kemudian berbal menuju ke arah almari pakiannya, entah kenapa bisa ada celana pendek disini. Dian kini berdiri tepat didepan almari pakaian, posisiku tepat disamping almari pakaiannya. Tiba-tiba saja aku melamun memandang tubuhnya, dian yang entah kapan melepas jaket kaosnya itu terlihat sangat seksi sekali. Tubuhnya seperti halnya spanish-guitar patah, kenapa patah? Jelas karena kalau tidak patah leher dian pasti panang seperti jerapah. Segera aku berbalik lagi menghadap ke tembok dan bingung mau berganti celana dimana.

“ganti disini saja mas ndak papa” ucapnya memecah keheningan

“eh… iya, ndak papa disini?” ucapku

“memang kenapa?” balasnya

“eh… iya…” ucapku dengan gugup dan kebingungan,

Aku masih kebingungan dengan keadaan ini, bisa-bisa dedek arya bangun dan siap untuk perang. Aduh bagaimana ini? oke dia pacarku, oke dia kekasihku, oke aku sudah menyatakan cinta kepadanya tapi kan tidak langsung seperti ini. apa dian ingin memberikan sesuatu kepadaku dengan perlakuan yang hangat darinya ini? aduh tidak, tidak aku belum siap. Belum siap? Aku kan sudah berpengalaman, tapi hmmm… bagaimana ini? Aku menghadap ke arah tembok di dekat tempat tidur yang penuh dengan per didalamnya. Aku kemudian lepas jeansku, sambil melirik-lirik kebelakang, dan segera aku pakai celana pendek dari dian. sret… sret… sret…

“kalau sudah ganti mas bobo dulu ndak papa, ade mau cuci muka dulu, biar tambah cantik hi hi hi” ucapnya, aku menoleh ke arahnya

“ndak cuci juga sudah cantik” balasku

“iya sekali dua kali, kalau berkali-kali, mas mau ade jadi jelek?” balasnya

“benar juga ya, hu’um…” ucapku

“bener ade kan weeek…”

“dah mas bobo dulu saja, ade mau cuci muka dulu” ucapnya sambil melet dan masuk ke kamar mandi yang juga berada didalam kamar mandi

“eh iya…” balasku memandang dian masuk ke kamar mandi,

Aku kebingungan dan benar-benar kebingungan dengan posisiku sekarang. Tidur dimana? Aduh aku jadi bingung, kalau sama cewek lain saja bisa langsung brak brik bruk tapi kalau dengan dian aku malah yang kebingungan. Aku benar-benar bingung…

“Ade, mas kekamar mandi belakang dulu ya” teriakku mendekat ke pintu kamar mandi yang terbuat dari kaca buram

“mmmm…. myah….” balasnya

Kleeek….

“masmmm mau nglokohk?” ucapnya dengan kepala keluar dari pintu kamar mandi sambil menggosok gigi, aku hanya mengangguk melihat wanita cantik ini

“nantifffhhhh…” ucapnya dengan semburan busa pasta gigi, aku langsung mundur menghindarinya

“mmaaffff…” ucapnya yang kemudian masuk ke dalam kamar mandi kembali, setelahnya dian keluar lagi dengan sedikit busa di bibirnya

“mau ngrokok, nanti pas mau bobo gosok gigi dulu sama cuci muka, ade nggak suka bau rokok” ucapnya dengan wajah ngambeknya

“iya… ade…. iyaaaaa…” ucapku

“jangan lama-lama, ade dah ngantuk” wajah ngambeknya semakin menjadi

“iya ade, iyaaaa….” ucapku sambil membetet hidungnya, kami berdua kemudian tersenyum

Dian kembali ke dalam kamar mandi dan aku berjalan keluar kamar dian. Ketika hendak keluar dari kamar dian aku lihat poto aku dan ibu. seketika itu, aku berpikir mengenai kepura-puraan ibu sebelumnya. Apa ketika ibu berpura-pura jadi pacarku, dian sudah tahu ya? ah masa bodoh lah, aku ke dapur dan membuat minuman hangat. Sebuah tatanan dapur khas wanita yang benar-benar rapi. Setiap botol bertuliskan isi dari botol tersbut, gula, garam, merica dan lain-lain. Tak sulit bagiku untuk membuat teh hangat ketika didapurnya, hampir sama dengan Ibu ketika dirumah semuanya diberi label agar tidak tertukar. Dan yang jelas semua berwarna pink, putih dan warna-warna muda. Argh, dasar wanita semua harus terlihat cerah, secerah cinta dan senyum kaum hawa. Segelas teh hangat aku buat dan segera aku ke pekarangan rumah dan menyulut dunhill yang sudah aku ambil dari jaketku. Kupandangi pekarangan rumah dian yang lumayan luas ini, aku benar-bnear tidak menyangka kalau aku akan bersamanya malam ini. Untuk kedua kalinya bersama perempuan dengan kulit gelap ketika itu. sebatang dunhill telah menemani lamunanku, kesekeliling dengan hembusan asap dari bibirku dan…

“ssssshhhhhhh…….”

“what? Ternyata celana yang aku pakai berwarna pink? Berarti ini adalah celana dian?kenapa aku tidak menyadarinya sedari tadi? Tapi bagus juga, tak apalah hanya dian yang tahu kalau preman pakai celana dalam pink he he he he” bathinku

Tak kusangka celana yang aku pakai bermodel celana boxer. Lucu juga warna pink. Sebatang dunhill masih menemaniku walau dirinya telah berubah menjadi setengah abu. Teh hangat buatan sendiri memang terasa enak tapi lebih enak mungkin jika dian yang membuatnya. Hmmm… pikiranku semakin menerawang dari setiap detik pertemuanku dengannya. Oh iya? kenapa dia marah-marah ya waktu itu? tanyakan ke hati? Aduuuh… aku jug abingung jika harus menanyakan ke hati, hatiku sudah diambil olehnya masa aku ambil lagi. Aku angkat segelas teh hangat itu, dan…

“MAAAAS! Bobo sudah malam! Ade sudah ngantuk!” teriak dian dari dalam rumahnya

“uhuk uhuk uhuk uhuk…. iya huk huk iya sebentar huk huk huk…” ucapku terkejut dan tersedak oleh minumanku

“cepetaaaaaaaan! BOBO!” teriaknya dengan nada lebi keras dan sepertinya dia marah

“uhk uhuk iya ade iya… ini sudah selesai” ucapku

Sial, rokok masih 1 centimeter sudah diteriaki. Segera aku menghisap rokok itu hingga habis dan kuteguk minuman itu langsung. Aku beranjak dari tempatku duduk dan segera ke dapur dan kuletakan di tempat cucian.

“Kalau gosok gigi ada di dapur, di bifet sebelah kanan gula, kalau cuci muka pakai sabun muka ade saja!” teriaknya keras kelihatan sekali judesnya

“iya… ade… iya…” balasku dengan langkah cepat mengambil sikat gigi

“cepetaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan! Ade sudah ngantuk!” teriaknya kembali dari dalam kamar

“iya… ade… iya…” balasku dengan segera aku ke kamar mandi

Gosok gigi… srk srk srk srksr k… kuluk kuluk kulul ah…..

Cuci muka, tangan, kaki… blup blup blup blup…. ahhhh….

Aku ambil handuk kecil yang sudah nangkring di gantungan kamar mandi. Dan aku usap muka sekaligus memngeringkan tangan dan kakiku. Segera aku ke kamar lagi, kulihat sepi dan hanya aku dengan gemericik air di kamar mandi. Oh iya aku belum menceritakan tata letak kamar dian, ketika masuk ke dalam kamar dian disebelah kiri pojok ada kamar mandi. Tepat di depan pintu kamar mandi kurang lebih 2 meter ada tempat tidur yang bagian untuk kepala sejajar dengan pintu kamar mandi. Bagian kiri dari pintu masuk kamar, ada dua buah almari pakaian. Sedangkan didepan pintu masuk kamar berjarak kurang lebih 3 meter lebih ada sebuah meja rias yang disebelahnya ada sebuah almari kecil. Disebalah kanan pintu masuk agak ketengah ada sofa dan TV dalam ruangan yang pada dinding sebelah kanan dihiasi oleh jendela dengan gorden pink berumbai-rumbai bunga.

Dengan garuk-garuk kepala sebenarnya aku ingin keluar dari kamar ini, tapi kalau aku keluar kamar pasti akan di hajar oleh omelan sang dewi ini. Ddaripada perang dunia, aku segera berjalan menuju ke arah sepring bet. Aku tidur disebelah kanan dengan tubuh miring ke arah kamar mandi.

Kleeeeeek….

“Oh mas sudah masuk, ade kira masih ngrokok” ucapnya

Deg… aku langsung sedikit membenamkan mukaku ke bantal..

Bugh… duing duingh duing…. sebuah benda keras menghantam ke kasur sepring bet ini. masih terasa goyangan pegas dalam kasur ini.

“Mas ada apa? Hayooooo….” ucapnya

“iiih… jangan ditutup terus mukanyaaa maaaaaaaaaaas” ucapnya manja

“mmmmm… mmmm mmmmm mmmmm” jawabku

“ih ndak denger, ndak tahu” ucapnya

Aku membuka mukaku dan langsung dihadapanku sudah ada wajah dengan rambut yang sedikit acak-acakan. Senyumnya manis, senyuman itu tidur menyamping menghadapku. Aku membalasnya tanpa berani melihat pada bagian bawah.

“ada apa mas?” tanya dian

“eh… celana..” ucapku gugup

“celana? Celana apa?” tanyanya, aduuuuh… slah ngomong aku

“ini, celana mas ndak ada yang warna selain pink?”tanyaku mengalihkan pembicaraan

“ndak ada, ada putih sama hitam tapi lagi dicuci, oooooo…. pasti bukan itu yang mau mas tanyakan kan?” jawabnya, dengan jari memainkan ujung hidungku

“itu kok yang mau mas tanyainmmmmm” ucapku kembali membenamkan mukaku ke bantal

“iiiih… buka!” paksanya

“iya iya ade… ugh…” balasku, dan aku angkat wajahku kembali dan tepat dihadapnku sekarang dian sedang duduk dengan kaki berssimpuh. Aduh…

“adeeee…. pakai celana dong” ucapku yang memandang selangkagan yang hanya ditutup celana dalam itu, dan segera kualihkan pandanganku ke arah wajahnya

“ndak ada celana mas, tuh kan mas pakai yang lain lagi dicuci” balasnya santai

“eh… ya sudah cepetan tidur” ucapku segera mengakhiri pembicaraan dan membalikan badanku menghadap ke tembok

“huh… ternyata ade jelek ya? ya sudah pacarin itu tembok!” ucapnya judes kurasakan gerakan yang membuat kasur bergoyang, segera aku berbalik dan seketika itu wajah dian sudah didepanku

“auch… sakit ade…” ucapku hidungku dibetet

Kami saling berpandangan sebentar, tak kusangka sekarang aku satu ranjang dengan dosenku. Aku memang seharusnya berterima kasih dengan penulisku karena memposisikan aku seperti sekarang ini. seandainya bisa juga, tolong dimatikan juga semua karakter yang membuat aku pusing tanpa aku harus berlelah-lelah mengurusi mereka.

“hatching…. sialan ada yang ngomongin nubie” down hill

Aku memandangnya sekali lagi lebih dalam ke matanya. Kutelusupkan tangan kananku diantara leher dan kasur, sedang tangan kiriku menarik tubuhnya mendekat. Tanganya memelukku dan sekarang terasa sangat kenyal didadaku. Kepalanya tepat menghadap ke leherku.

“endus endus ada bau vagina… apa?! Tidak jadi, kalau ini seijin dari kakak” dedek arya

“ade, mas boleh tanya” ucapku sambil memeluknya

“apa?” ucapnya

“itu ada foto mas sama ibu, apa ade suda tahu kalau ibu adalah ibunya mas waktu, ibu ngaku pacarnya mas?” ucapku, kemudian tubuh dian berbalik membelakangiku, kupeluk perutnya dan didekapnya kedua tanganku oleh tangan kirinya

“belum, Ade tahu itu setelah ade mengantar mas pulang, ade kembali ke rumah sakit. Disitu ade ngobrol sama tantenya mas. Pas mas nganter ade pulang, ade nyari-nyari di efbe mas, ketemu tante asih dan disitu ada foto mas dan mama. Jadi ade sebenarnya lega juga waktu itu” jawabnya

“tapi kenapa waktu itu…” ucapku dipotong olehnya

“ya, pura-pura aja hi hi hi tapi ya cemburu sih” balasnya, aku hanya tersenyum mendengar jawabannya

“terus… mmmm” ucapku sedikit bingung memulainya

“apaaaa?” balasnya lembut

“waktu marah-marah?” tanyaku, kuberanikan diriku untuk bertanya

“auuuuuuuhcccc….” teriaku karena tanganku diangkat dan digigitnya

“mas itu, sejak mas ngomong yang ini itu dan buat ade nangis, terus mas pergi gitu saja. Ade itu kangen berat sama mas, mas sih ndak tahu rasanya. Dan tiba-tiba mas datang pas tahun baru, selain jengkel juga seneng banget mas bisa berduaan dengan mas. Tapi setelahnya mas pergi, jadinya ade jengkel. Pengen ngobrol sama mas, tapi mas ndak pernah hubungi ade lagi. Pas mas hubungi ade ya seneng tapi kalau seneng pasti respon mas jadi kaku dan hilang lagi. Makanya ade marah-marah, tapi maafin ade waktu itu kelewatan mas… namanya juga kangen… mas jahat!” ucapnya sambil mendekap erat tanganku. Mendengar jawaban itu seperti orang bodoh yang tidak mau mengerti mengenai orang lain.

“iya, maafin mas ya, sekarang mas sudah sama ade” balasku

Tanganku diraihnya, dibukanya telapak tanganku dan diletakannya di buah dadanya, susunya… Antara ego dan nafsu akhirnya logikaku mencoba bertahan.

“please… fix me” ucapku

“eh… but…” jawabnya

“selama mas bersama ade, mas pasti bisa” ucapku

“maaf, ade hanya berpikir dengan jalan itu mas bisa bersama ade terus. Maafin ade… tapi mas jangan main lagi diluar ya, janji sama ade” ucapnya

“janji, mas pasti bisa selama dengan ade… I Love you” ucapku lirih

“mee to honey” jawabnya

“yeah, i like that name honey” balasku

Aku memeluknya dalam tidur lelapku. Aku mencium wangi rambutnya dalam tidur lelapku. Aku merasakan hangatnya dalam tidur lelapku.

“I’m happy… “ ucapnya

“aku lebih bahagia lagi” balasku

o0o​

Di dalam sebuah rumah yang masuk dalam kategori mewah. Dua orang laki-laki sedang bercengkrama dengan seorang wanita setengah baya yang sangat cantik telanjang di bawah mereka. satu tangannya memgang penis dari seorang laki-laki tersebut dan mulutnya mengulum batang kemaluan yang satunya. Wanita yang bertelanjang dan memamkai sebuah ikat leher layaknya seekor biantang piaraan.

“setelah pertemuan besar besok kita akan menguasai semuanya” ucap laki-laki tambun tesebut

“tapi keluargamu itu bisa menjadi penghalang” ucap lelaki gempal

“ah itu beres, nanti setelah pertemuan itu aku akan menghabisi mereka semua, tepat setelah mereka pulang liburan” ucap laki-laki tambun

“anak istrimu?” ucap laki-laki gempal

“aku akan menghabisi mereka juga ha ha ha” jawab lelaki tambun itu

“ha ha ha… memang rencana yang sempurna, bagaimana dengan wanita menyakitkan itu?” ucap seorang lelaki gempal

“kita akan lempar mereka bersama anak mereka, dan kita akan menikmati mereka juga” jawab lelaki tambun

“ingat, kalau kita bisa menguasai para bandar-bandar besar, kita juga bisa menguasai daerah ini. dan aparat keamanan yang keparat dan juga para pejabat tak akan berkutik. Sekali mereka tidak melindungi kita, kita bantai. Akan kita buat daerah ini menjadi kekuasaan kita dan akan kita buat daerah ini sebagai negara meksikano kecil. We are the bos ha ha ha ha” ucap lelaki tambun itu diikuti tawa lelaki gempal

Pandangan wanita berikat leher itu seakan tak percaya dengan apa rencana lelaki yang telah memperbudaknya. Dalam hatinya ingin sekali berteriak minta tolong dan lapor ke aparat keamanan tapi apa dayanya, bisa saja mereka telah disusupi oleh komplotan dari kedua laki-laki ini. Hanya terbesit sebuah harapan kepada seorang pemuda yang pernah menemuinya. Berharap dia bisa menghentikan aksi kedua laki-laki tersebut.

Kriiing kriiing kriiing….

“ya halo” jawab lelaki tambun

“mungkin aku akan menikmati darah segar terlebih dahulu, kalian dapat sisa bagaimana?” ucap seseorang dari telepon

“Ha ha ha ha… yang penting masih sempit saja no problemo” ucap lelaki tambun

“ha ha ha ha ha… oke… oke… aku akan menjemputnya dulu, sampai jumpa tiga minggu lagi” ucap lelaki dari dalam telepon. Tuuut.

“bagaimana dengan orang itu?” ucap lelaki gempal

“kita akan habisi dia juga, hanya kita berdua yang akan berkuasa” jawab lelaki tambun

HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA… tawa kedua orang lelaki yang mengiris hati seorang wanita yang diperbudaknya.

Matahari mulai merambat naik, memberi hari baru kepada siapa saja yang menyambutnya dengan senyum dan tawa. Sinarnya mulai memasuki dari lubang-lubang kecil rumah yang aku tinggali ini. kepalaku terasa sangat berat untuk bangun, kucoba membuka mata. Segera aku duduk, ku garuk-garuk kepalak sambil sesekali menguap. Kulihat wanita yang semalam bersamaku tidak ada lagi disampingku. Kupandangi sekali lagi kamar yang menjadi tempat aku tidur ini. perasaan bangga tapi juga malu ketika harus melihat kembali foto-foto kenangan yang pernah aku unggah ke jejaring sosial. Tawa dan senyum difoto itu membuatku teringat akan masa-masa indah tanpa ada yang harus dipermasalahkan. Kulirik jam dinding yang menempel indah di kamar ini, jam dinding bertuliskan arya pada titik pusat jam dinding. Aku hanya tersenyum melihat tulisan itu tapi…

“Sial sudah jam 10, aduh kenapa tidak dibangunkan” bathinku

Aku melangkah ke luar kamar dengan mengucek-ucek mataku tanpa melepaskan garukan di kepalaku. Langkahku terhenti ketika sampai didapur melihat seorang wanita memakai tang-top putih dan hanya bercelana dalam. Wanita itu sedang asyik meracik sayur dan bumbu untuk dimasak, tampak anggun sekali. Tak kusangka aku akan mempunyai seorang wanita secantik bersamaku.

“hoaaaaaaaaam….” aku menguap

“ih, mas sudah bangun ya?” ucapnya tersenyum kepadaku

“bu dian kenapa ndak bangunkan aku” ucapku, kulihat wanita itu kembali ke aktifitasnya dan tak ada jawaban darinya

“bu diaaaaan… ditanya malah diem saja to” ucapku, tak ada respon darinya sama sekali.

Apa ada yang salah dengan apa yang aku ucapkan? Kenapa wannita ini malah diam dan wajahnya sedikit cemberut? Aku berpikir sambil melangkah mendekatinya, semakin dekat aku baru sadar.

“Ayang… kenapa ndak bangunin mas?” tanyaku yang berjarak kurang lebih satu meter darinya

Seketika itu wanita yang sedang asyik dengan acara masaknya melepaskan semua yang dia pegang dan berbalik kearahku sambil tersenyum lebar. Dia kemudian melompat kearahku, digantungkannya kedua tangannya ke leherku. Jelas sekali sekarang terlihat tank-top berenda pada bagian atasnya.

“habis tadi ayang tidurnya lelap sekali” ucap dian kepadaku

“ya kan dibangunin subuh dong yang” ucapku

“Suka deh dipanggil ayang sama mas” ucapnya, aku tersenyum dan kukecup keningnya

“awas kalau tidak dikampus jangan panggil ade dengan sebutan itu” ucapnya

“iya… iya… ayang, adeku” jawabku

“ugh… bau sana, mandi dulu sayang… bauk”ucapnya sambil memundurkan kepalanya dan menutp hidungnya

“yee… bau bau gini ayang juga suka kan?” ucapku

“emang kalau sudah sayang, sudah cinta terus ndak mandi gitu?” ucapnya

“iya adeku sayang iya” ucapku

Sekali lagi aku mengecup keningnya dan melepaskan pelukanku. Dian tersenyum dan kembali ke aktifitasnya sedangkan aku segera mandi. Tak kuhiraukan semua peralatan mandi dikamar mandi ini, semua aku pakai toh ini semua punya dian. ndak papalah bekas wanita cantik, lumayan. Kupakai kembali pakaianku dan keluar kamar mandi.

“mas kaosnya diganti, di almari yang sebelah kiri sudah ada” ucapnya dari dapur sambil menata makanan

“ndak usah yang, ntar dikasih warna pink lagi weeeek” ledekku

“yeee dilihat dulu sana, masa pakai kaos kotor terus” ucapnya

“daripada ade, pakai itu-itu terus. Ndak paka celana lagi” ucapku

“nggak suka ade pakai begini?” ucapnya

“eh… suka sih tapi… kenapa dari semalam ndak pakai celana?” ucapku

“biasanya ade kalau dirumah juga ndak pernah pakai weeeek… dan biar mas betah dirumah” ucapnya dengan wajah memerah dan membuang muka

“he’eh gitu saja” ucapku spontan sambil berlalu dan menuju ke kamar

Aku membuka almari pakaian yang ditunjukan kepada dian. dan aku terkejut untuk kedua kalinya, kaos-kaos yang diletakan di hanger semuanya sama persis dengan kaos-kaos miliku d jug asebuah celana jeans yang menggantung di hanger. Semua kaos berwarna gelap, dan hanya sedikit corak pada kaos-kaos yangmenggantung. Celana jeans model cutbray berwarna abus-abu dan gelap. Ketika aku melihat kaos-kaos ini membuatku kembali ke masa-masa sebelum bertemu dian. aku pakai salah satunya dan kupakai celana jeans.

“mas…” ucap dian dari belakang membuatku terkejut

“copot… ade nganggetin saja” ucapku

“yeee… mas saja yang lebay, ni celana dalamnya. Celana dalam mas dimasukan ke mesin cuci” ucapnya

“eh…” aku menerima celana dalam yang masih berbungkus

“itu ukurannya ada dua, ade kan ndak tahu ukurannya mas jadi tadi pagi ade belikan dua ukuran” ucapnya

“kenapa ndak bangunin mas saja, kasihan ade kan pasti malu beli celana dalam cowok” ucapku

“biasa saja kali… weeekk…. cepetan ganti, terus maem. Ndak usah pakai celana jeans panjangkenapa, itu ada celana jeans pendek kan” ucapnya mengecup pipiku dan berputar meninggalkanku, pandanganku terus kearahnya hingga dian menghilang dibalik pintu

Setelah aku berganti pakaian, kubawa pakaian kotorku. Dian yang sudah menungguku sambil melihat televisi menunjukan letak mesin cuci. Setelahnya aku makan bersama dian, wanita ini memang dari atas kebawah mencoba memancing syahwatku. Mungkin memang dia ingin melakukannya denganku, atau dian hanya ingin memancingku? Semalam aku sudah bisa menolaknya tapi kalau setiap hari seperti ini, huft semoga bisa semoga bisa. Aku ingin menikmatinya nanti kalau semuanya sudah selesai dan dia sah menjadi miliku. Kalau bisa?!

“maem… aaak…” ucap dian sambil mengambilkan sesuap nasi dan diarahkannya kemulutku

Ketika aku berganti menyuapinya dian malah tidak mau. Huh malah seperti anak kecil saja kalau begini. Aku hanya bisa mengikuti permainannya. Hingga selesai makan dian membersihkan dan aku membantunya sambil kita bercanda kesana kemari. Kadang aku usapkan busa sabun ke pipinya, dian pun juga membalasnya. Jika di masukan ke guiness book of record mungkin ini adalah acara mencuci piring yang sangat lama walau akhirnya selesai juga.

Sambil nonton TV dian duduk minta dipeluk olehku yang duduk bersandar disofa depan TV

“yang, anda gimana?” tanyaku sambil menciumi rambutnya

“hi hi hi… sok jago dia yang, sayang juga aneh dibilangin gitu sama anda malah ugh!” ucapnya

“auch… sakit sayang…” jawabku

“ade kan sudah tahu dia sebelumnya, ade sama anda kan cuma teman. Anda sendiri yang pdkt, kalau ade sudah bilang sama dia kalau kita cuma teman. Semenjak ngajak makan, ade selalu tidak mau tapi dianya selalu memaksa. Lagi pula anda itu sudah pernah punya hubungan sama mbak erna, mbak erna sendiri yang bilang. Pas kemarin anda bilang gitu ke mas, setelahnya ade semprot anda mengenai hubungan dia sama mbak erna. Eh, dia-nya langsung kaya orang bloon gitu, dan akhirnya dia mengakuinya mas. Dan satu lagi…” ucap dian sambil beranjak kemudian duduk, didekatkannya wajahnya ke wajahku

“stay close!” ucapnya dengan wajah judesnya

“eh… i… iya… ade wajahnya kaya gitu, mas takut nih” jawabku

“hi hi hi biarin weeeek…” ucapnya

Seharian aku bersama dian, mulali bercanda dan bergurau bersamanya. Ternyata di balik wajah judesnya tersimpan sifat manja yang tak kalah dengan seorang anak kecil. Benar-benar kewalahan aku dibuatnya. Tapi menjadi cerita sendiri bagiku yang selama ini belum pernah sama sekali merasakan memiliki pacar. Itulah kenapa wanita selalu menyembunyikan sifat aslinya ketika dia bersama lelaki yang bukan miliknya. Wanita penuh misteri? Mungkin benar apa kata Bon Jovi, She’s Mystery dalam album yang Crush.

“Maaaaaaaaas, gatel…” ucapnya manja sambil mengangkat tangannya mendekatkan ke arahku yang duduk memeluknya

“lha terus?” balasku

“garukin…” ucapnya

“jaded (manja)…” balasku lirih

“ndak suka?” ucapnya sambil tanganku menggaruk pelan kulit yang selalu membuat tanganku terpeleset

“ndak nyangka saja ade manja banget he he he padahal kalau dikampus hiiiii” ucapku

“oooo jadi kalau dikampus njengkelin gitu iya? he’em… gitu?” ucapnya dengan nada super judesnya

“ndak judes kok, tapi banyak he he he” ucapku

Langsung saja aku ditimpanya dengan bantal, tak berani aku membalasnya. Hanya mampu meringkuk di atas sofa. Dian, dian… Dari mau mengambil minum saja harus digendong, mau mandi harus digendong sampai ke dalam kamar mandi tapi akunya langsung keluar. Gatal saja, dia ndak mau garuk sendiri, minta digarukin. Hadeeeeeeh… dosenku dosenku.

“Ade punya plestesien juga to?” ucapku ketika kami bersantai didepan TV kembali

“hu’um… kan ade suka game, tapi ya ndak suka-suka banget. Cuma buat refreshing saja, sekarang ndak mau main lagi. Dah ada yang bisa buat refreshing” ucapnya

“huh? Emangnya apa?” ucapku

“mas… kalau mas disini ade ndak perlu ngegame lagi hi hi hi” ucapnya

Akhirnya aku main game pe-es juga bareng dian. dia duduk disofa atas tepat dibelakangku dan aku duduk dibawahnya. Kami main balapan sembari menikmati waktu kebersamaan bersamanya.

“tadi mama telepon” ucap dian

“mama?” tanyaku heran

“ibunya mas” ucapnya

“ke sematpon mas?” balasku sambil kepalaku mendongak ke atas

“ndak, ke telepon rumah ade. Mama bilang kalau mama sekarang sama tante ratna” ucapnya mendekatkan wajahnya ke wjahku

“eh… mas akan telepon ibu dulu, boleh?” ucapku berbalik ke arahnya

“ya boleh lah, masa ade nglarang mas buat nelepon mama. Tapi ingat lho…” ucapnya sambil menggoyang jari telunjuk tangannya

“he’em…” jawabku sambil tersenyum

Aku kemudian menelepon ibu dari telepon rumah dian. untung saja aku menyimpan nomor telepon tante ratna di sematponku.

“halo”

“tan, ni arya. ibu ada?”

“eh kamu mblo… mbak arya telelpon”

“halo”

“ibu, ibu dirumah tante ratna?”

“eh sayangnya ibu, iya kemarin setelah kamu keluar rumah. Ibu beres-beres terus berangkat ke tante ratna”

“owh… egh…” (Dian memelukku dari belakang)

“ada apa sayang?”

“ndak papa kok bu, ibu kok tahu nomor dian?”

“ehem… ehem… sudah ndak pakai kata bu nih? Dah jadian ya? hi hi hi…”

“yeee ibu ditanya malah ndak jawab”

“ya bisa dong, kan tinggal tanya developernya. Kan punya nenek kamu, lagian perumahan dian itu belum sepenuhnya selesai jadi gampang nyari tahunya. Pasti lagi dipeluk sama dian ya?” (dian menarik pundakku dan menempelkan kupingnya)

“iya, mah… hi hi hi “ (Dian menjawab)

“eh sini.. sini ibu mau ngobrol lagi sama dian, mumpung kamunya ada disitu”

“apaan sih ibu” (direbutnya telepon dan dian berdiri didepanku tangannya meraih tanganku agar memeluknya)

“iya mah” (dian)

“jagain arya ya, bilang sama arya, ndak usah pulang kerumah kalau perlu rumahnya sekarang di rumah kamu ya sayang”

“iya mah, mas arya juga denger kok. Mah, mama bicara sama mas arya saja ya”

“iya, sayang”

“halo bu, tapi ibu ndak papa kan?” (dian berbalik dan bersandar di meja telepon memandanngku sambil tersenyum, tanganku meremas tangannya)

“ndak papa, ibu sudah sama tante ratna. Jaga dian ya”

“iya bu, tapi bu kalau arya dirumah dian apa dia tidak curiga?”

“sudah kamu tenang saja, ibu sudah telepon ke dia kalau arya akan kos demi memperlancar penelitiannya. Dan ingat kamu harus selalu hati-hati”

“ya bu”

“ya sudah, ibu mau bantu tante kamu dulu”

“iya bu”

“dah sayang”

“dah ibu” tuuuut

Langsung saja dian memelukku, ada sedikit getir ketika mendengar suara ibu. rasanya aku ingin kembali tapi jika aku kembali tak akan ada perubahan dalam hidupku. Sekarang dianlah yang akan menjadi pendampingku dan ibu adalah ibu suri dikerajaanku. Dan aku harus segera menyelesaikan masalahku. Aku peluk dian dengan erat karena memang dialah “waktu” yang menghentikan semua kegilaanku

“mas kelihatannya ada yang mas sembunyikan dari ade?” ucap dian melepas pelukanku dan memandang kedua mataku

“belum saatnya kamu tahu yang, nanti mas akan cerita tapi mas mau pulang dulu sore ini ambil pakaian dan beberapa file yang memang mas harus bawa” ucapku

“iya, mungkin belum saatnya ade tahu. Tapi mas, mas harus hati-hati, karena… sejak mas dikejar-kejar oleh orang-orang itu ade mulai khawatir kalau mas terlibat sesuatu” ucapnya

“ya, memang terlibat sesuatu tapi tenang saja ade, mas ndak papa, karena mereka tidak pernah tahu jatidiri mas. Yang penting mas akan selalu hati-hati karena skripsi mas belum selesai ntar di judesi lagi sama dosen mas” candaku

“iya… mmm… dosen mas kaya apa sih?” tanyanya

“cantik…. tapi….” ucapku

“tapi apa?” balasnya

“judesnya minta ampun huh… dimarahin terus mas kalau bimbingan” ucapku, sambil melirik ke arah matanya

“oh gitu ya… hmmm… ya ya ya… cantik ya mas? Mmm… mas jangan kepincut sama dosen mas ya…” ucapnya. Lho?

“ya kalau dia mau sama mas bagaimana?” ucapku

“kan judes, kalau ade kan enggak. Pokoknya awas kalau mas main dibelakang ade, apalagi sama dosen mas itu” ucapnya

“ade itu ada-ada saja” ucapku sambil menyentuhkan hidungku kehidungnya

Menjelang pukul 18:00, aku segera pulang dan diantar dian hingga ke gerbang pintu. Berbeda dengan dian didalam rumah, ketika dia keluar rumah dia tampak lebih anggun dengan pakaian longgarnya dan celana legging. Kata “hati-hati” selalu terucap dari bibirnya dan sungguh membuatku sangat nyaman. Aku jalankan REVIA menuju ke rumahku, hingga aku tepat didepan rumah sudah ada mobil ayah yang terparkir di garasi. Pintu rumah terbuka, dan aku segera masuk ke dalam.

“Romo..” ucapku menghampiri ayah yang sedang sibuk menata pakaian di dalam kamarnya dan salim tentunya

“Oh, kamu. ndak ikut ibu kamu liburan besok?” ucap ayahku

“ndak mo, aku mau ngekos di temanku. Penelitianku ada yang ndak beres” ucapku

“ya, ibu sudah kasih tahu. Ibumu di rumah tante ratna tadi romo yang mengantar” jawabnya

“kapan romo akan berangkat?” ucapku

“mungkin minggu depan, beberapa hari ini romo akan mengurusi pekerjaan romo dulu sebelum perjalanan dinas romo” ucapnya

“ya mo, setelah penelitian selesai arya balik ke rumah lagi. Paling juga seminggu sekali arya pulang. Kalau romo?” ucapku

“ndak usah kembali juga ndak papa. Rumah ini hanya akan jadi kenangan. Romo ndak akan pulang sampai urusan romo selesai” ucapnya

“maksud romo, jadi kenangan?” ucapku

“kamu akan tahu sendiri suatu saat nanti” jawab romo

“ya sudah arya mau menata barang arya” ucapku, tanpa menghiraukan jawaban dari ayahku

Sambil melangkah menuju kamarku, ingatanku terbawa ke waktu bersetubuh dengan ibu. semua tempat dirumah sudah aku coba dan aku ciprati dengan cairan kenikmatan kami berdua. Tapi mungkin tak akan ada lagi semua itu. setiap langkah menaiki tangga, pikiranku masih berputar pada keindahan tubuh ibu. hingga di dalam kamarpun aku duduk dan memandang seisi kamarku. Hatiku berkecamuk dengan semua hal yang pernah terjadi, di kamar ini lah semua berawal. Ah, memang semuanya harus berakhir.

Segera aku mengemasi beberapa pakaianku yang akan aku kugunakan dirumah dian, wlaau sebenarnya tidak perlu karena disana sudah lengkap. Kunyalakan komputerku dan aku pindahkan file-file penting yang aku butuhkan, dan tentunya menghapus semua history dari komputerku. Tidak lupa aku mengambil sematpon KS dan juga kalung dari nenek mahesawati. Setelah semua beres aku duduk kembali di samping kamarku, kulihat sekelilingku dengan tangan masuk dalam saku jaketku. Ketika tangan kiriku memegang sesuatu yang berada di saku jaket, kutarik keluar dan kulihat. Aku hanya tersenyum…

“mungkin suatu saat nanti…” bathinku

Aku kembali berjalan keluar kamarku dan menghampiri ayahku. Wajahnya masih tetap sama, wajah tak peduli kepadaku. Apalagi kalau ada ibu, sama saja tidak ada kepedulian sedkitpun. Segera aku berpamitand dan keluar dari rumah ini. rumah yang akan menjadi kenangan. Aku jalankan REVIA menjauhi rumahku. Tiba-tiba dalam benakku kembali bergejolak karena teringat perkataan ayahku.

“kamu akan tahu sendiri suatu saat nanti”

Apa mungkin memang waktunya sudah semakin dekat? Apakah mungkin? Ah kenapa aku jadi gugup seperti ini. kenapa juga rani belum memberitahuku mengenai eri? Dalam perjalanan pulang kerumah baruku, pikiranku berkecamuk kesana kemari. Aku hentikan motorku dan mengrim bbm ke dian tapi sial, aku belum invite ulang BBM-nya setelah emosi saat itu. aku cari sms dan nomor telepon dari history Hpku. Sudahlah mungkin aku harus segera pulang. Ketika hendak menarik gas motor.

Forever and one, i will miss you… (helloween). Ringtone. Nomor tidak diketahui.

“Halo”

“mas…”

“oh ade, kirain siapa”

“makanya kalau marah-marah jangan hapus semua nomor sama kontak BBM. Huh!”

“iya… iya… maafin mas, jangan marah dong”

“hu’um”

“ada apa de?”

“mas kalau main ma koplak ndak papa, tapi inget ya”

“iya, mas ingat… tapi kenapa disuruh main sama koplak?

“ade ndak mau rumah penuh asap rokok, terakhir mas rokok di ruang tamu waktu itu. baunya ndak karuan”

“pengertian banget siiiih”

“Hm… gimana ya, kalau saja bisa ya ndak usah ngrokok”

“eh… iya, iya mas maen saja. Masalah rokok dibahas kapan-kapan yah”

“pulangnya jangan malam-malam dan kalau pulang langsung pulang saja ndak usah mampir-mampir!”

“eh… iya, langsung pulang kok. Oia Ade mas invite lagi dong bbm-nya”

“ndak mau! Invite saja sendiri weeeeek…. dadah sayang”

“iya sayangku” tuuuut

Ternyata punya pacar tidak selamanya di penjara. Nyatanya aku masih bisa main sama teman-temanku, mungkin dian sadar kalau aku juga butuh sahabat untuk berbagi. Argh, begitu beruntungnya aku. Tapi kenapa tiba-tiba ya? nantilah aku telepon lagi, ku save nomor dian. Ku arahkan motorku ke arah warung wongso, disana sudah ada anton dan dewo.

“WEIDIYAAAAAN (GILA) dah punya pacar nih” ucap dewo

“mas arya, peluk aku dong… ku pengen dipeluk” ucap anton dengan gaya cewek

“iya sayang aku peluk sini, ARYA CINTA DIAN!” timpal dewo dan kemudian sedikit berteriak meneriakan apa yang pernah aku teriakan di depan warung

“Ah, matamu su (njing)… biasa saja kali bro, kalian kan juga sudah punya. Masa aku ndak boleh punya?” ucapku sambil berjalan menuju ke arah mereka

“tapi lebay-nya itu lho ha ha ha ha” balas wongso yang keluar dari warung karena mendengar keramaian

“Mas, dimasukin saja ah… masuk mas…” goda dewo

“gundulmu, emang aku seperti kamu leng (leng = celeng = babi hutan)” balasku

“Oooooo lha bocah! Apa ndak ada kata-kata yang sopan lagi heh!” teriak ibu wongso dari dalam warung yang mendorong wongso kedepan

“AMPUUUUUUUN NDORO PUTRI!” ucap kami bersamaan

“kalian ngomong ndak sopan lagi ibuk giles pakai ulekan!” ucap ibu wongso

“inggih (iya) ndoro putri” balas kami, setelahnya ibu wongso masuk ke dalam rumah

Kami kemudian ngobrol, senampan teh panas diantarkan oleh asmi satu persatu mulali meningkatkan gas pemicu pemanasan global. Canda dan gurau kami berbalas dari masing-masing. Beberapa koplak tidak bisa datang karena mungkin banyak kesibukan, keberuntunganku saja bisa bertemu mereka bertiga. Dewo tiba-tiba melakukan foto selfie dengan memperlihatkan kami bertiga bersamanya.

“ngapain selfie? Kaya ababil saja kamu wo” ucap wongso

“alah, sekali-kali kenapa?” ucap dewo yang kemudian sibuk dengan sematponnya

“Lha kamu kenapa nton? Pakai ngrekam suara kita segala? Mau kamu laporin ke teman-teman kamu?” tanyaku

“enggak ini lebih darurat daripada temen, penting bro” ucap anton yang kemudian sibuk dengan sematponnya juga

Selang beberapa saat mereka memasukan sematponnya. Tiba-tiba aku teringat akan kata-kata ayah kembali, dan…

“bro, ada yang janggal tadi waktu aku ketemu sama ayahku” ucapku, kemudian aku menceritakan percakapanku dengan ayahku ketika mengambil barang dirumah

“ada yang aneh memang, apa mungkin pertemuannya akan diajukan?” ucap anton

“lha ada kabar dari si buku?” ucapku

“kalau dari sibuku belum ada, dia ada ditempat yang aman. Sedangkan ara, sudah aku posisikan untuk melakukan aktifitasnya seperti biasa dan tentunya aku suruh dia pasang wajah sedih setiap harinya. Tidak boleh bercanda ataupun memperlihatkan perasaan biasa-biasa saja atas ketidak adanya ayah angkatnya itu” ucap anton

“wah keren juga kamu nton, sampai segitunya menyetting orang” ucap wongso

“kalau tidak begitu, ara bisa saja diculik. Kemarin ara didatangi seseorang” ucap anton

“si siapa nton?” ucapku

“hantukah?” ucap dewo

“dewa mabuk! Ini serius” ucap wongso

“aku tidak tahu jelasnya, ketika itu ara bercerita kalau dia didatangi orang yang tidak dikenal. Menanyakan ayah angkatnya itu, tapi karena dari awal sudah aku atur. Ara menunjukan perasaan sedihnya, bahkan menurut penuturan ara, lelaki itu sangat percaya dengan aktingnya. Bahkan ara sempat menangis dan memohon kepada lelaki itu untuk menemukan ayahnya. Setelah itu semua terjadi tidak ada lagi gerak-gerik mencurigakan yang terjadi pada ara. Kami yang merasa kecolongan karena tidak mengawasi ara merasa lega dan sekarang ara aman, karena kita sudah mengirim empat orang secara bergantian untuk mengawasi ara” ucap anton

“oia cat, ada kabar dari rani?” ucap wongso

“belum ada kabar, ada sebuah pesan yang dikirimkan ke sematpon ayahku dan ibuku membacanya” ucapku kemudian menceritakan isi dari pesan yang masuk. Semua kemudian hening dan terdiam.

“darah dan sisanya…” ucap wongso

“kalau minum darah ndak mungkin ya? mereka kan bukan drakula, masa iya minum darah mereka… hiii ngeri dah, gimana ngrasainnya” ucap dewo. Anton tiba-tiba terhenyak dan memukul bahu dewo yang sedang mengankat gelas berisi teh hangat

“makasih wo!” teriak anton

“uhuk wasu celeng! Alon-alon (pelan-pelan) to ndes!” ucap dewo yang tehnya tupah kemana-mana

“kamu menemukan sesuatu ton?” ucapku dan wongso bersamaan

“begini, maksud dari darah dan sisa adalah mungkin eri akan diambil dulu keperawanannya dan sisanya akan dilemparkan ke ayah arya dan temannya itu” ucap anton

Membuat mataku terbelalak seakan tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Kami semuanya terdiam tidak tahu harus berbuat apa, tak ada pesan dari rani ataupun telepon darinya. Bagaimana mungkin kami bisa mencegah itu semua jika tak ada satu orang pun diantara kami yang mengetahui keberadaan Eri. Aku kirimkan pesan ke rani mungkin saja akan ada jawaban dari rani. Tapi lama kami menunggu sambil mengobrol kesana kemari pun juga tidak ada balasan dari rani. Seperti kapal bajak laut tanpa kompas tak tahu harus berbuat apa.

“ah, sudahlah itu hanya perkiraan saja. Kalau ada yang tidak beres pastinya rani akan telepon kita kan?” Ucap dewo menenangkan kami semua

“benar juga ya, kenapa juga kita seperti orang ling-lung ha… hahaha…” ucap wongso

“iya ya… ha….. hahaha” ucapku

“dasar ketawa nggak ikhlas kalian ha ha ha ha” ucap anton

Kami kembali ke asal kami, masa bodoh dengan urusan yang tidak jelas sama sekali. Kami kembali ngobrol menemani malam yang sudah semakin dingin. Canda gurau selalu bersama kami walau kami tahu dalam hati masing-masing dari kami semua sedang dalam kebingungan. Lawakan dewo, selalu dibalas dengan lelucon dari anton, aku pun tak mau kalah dengan mereka berdua. Apalagi wongso yang juga tidak mau ketinggalan.

Tringting…. ringtone sms

From : Dian “Angel” Rahmawati
Mas pulang sudah malam,
lama sekali ngumpulnya
To : Dian “Angel” Rahmawati
Iya ade, bentar gih
From : Dian “Angel” Rahmawati
CEPET!

Langsug kubalas sekenannya, widih ini cewek ternyata galak juga. Baru saja sampai di warung wongso jam delapan malam. Kumpul baru satu setengah jam sudah disuruh pulang, bagaimana nanti kalau dia jadi istriku? Bisa jadi aku ndak bisa keluar-keluar? Haduuuuuuuh tapi tak apalah kalau ndak boleh keluar, mending tak masuki saja si dian kalau sudah aku nikahi. Senyum cengengesan karena membaca sms dan membayangkan hal yang lain membuat aku dibully oleh mereka berempat.

“Sms dari pacar tuh….” ucap dewo

“baru Lejom bro, maklum ha ha ha” ucap wongso

“apaan lejom?” ucap anton

“lepas jomblo ha ha ha” ucap wongso diikuti gelak tawa mereka berdua

“ah sialan kalian, memangnya kalian ndak pernah ngrasain apa?” ucapku

“ya pernah sih, malahan waktu itu si asmi ck ck ck… sssstttt… aku lagi BAB saja ditungguin di depan pintu. Risih sebenarnya tapi mau bagaimana lagi?” ucap wongso berbisik

“beneran itu wong? Saking cintanya sama kamu ya wong” tanyaku dan wongso menganggukan kepala

“Parah lagi si dewi bro… sssstttt…. kemanapun aku pergi harus ngirim foto aku bareng sama teman-teman. Bahkan kalau aku lagi keluar daerah, semua harus aku foto dengan sudut pandang yang berbeda. Takutnya kalau foto perjalanan sebelumnya aku kirim ulang” ucap dewo

“hah?! Kamu kan bisa foto beberapa tempat dengan sudut pandang yang berbeda?” ucapku

“aku dulu mikir kaya gitu buat bohongin dia, tapi setelah ketemu isi sematpon di geledah semua bro. Dilihat detail gambar, kalau ndak ada gambar yang sama gimana coba? Aku pernah gitu satu kali dan yah… ngambek satu minggu bro si dewi, bahkan aku datang kerumahnya saja malah dikasih fotonya dia, dianya masuk ke kamar. terus kalau aku pulang karena jengkel, dia bakalan marah lebih lama! Gila nggak?!” ucap dewo

“berarti nasib kita sama… si anti juga seperti itu, tapi bedanya aku harus rekam suara percakapan kalian per jamnya dan aku kirimkan via email. Kalau sudah bareng, ndak boleh lepas gandengan. Mau BAB saja aku senasib sama wongso” ucap anton

“tapi kalian betah?” tanyaku keheranan

“YA BETAHLAH BRO! NAMANYA JUGA CINTA!” ucap mereka bertiga serempak

“kalau ndak ada asmi mungkin sama halnya aku ndak ada koplak. Bisa hancur masa depanku, dia yang selalu mendampingiku bro. Seandainya tidak ada dia, mana mungkin warung ini bisa jalan. Kalian tahu semenjak kebakaran itu fisik ibu sedikit melemah, tapi asmi yang menyediakan semua kebutuhan ibu. Dari mandi sampai BAB saja asmi yang ngurus, dari sakit menjadi sehat juga asmi yang ngurus. Jadinya ya, aku termasuk suami-suami takut istri tapi ya tidak sepenuhnya takut, karena aku juga laki-laki. Asmi paling takut kalau aku marah… ” ucap wongso

“kalau aku, kalau ndak ada anti ya, duniaku bisa-bisa hambar. Seposesifnya dia, tetap saja dia yang number one. Karena jarang ada cewek seperti anti yang mau menerima segala kekuranganku semenjak SMA. Kalian tahu sendiri kan aku dari keluarga yang biasa-biasa saja, dan yang paling aku suka dia hanya dandan kalau ada aku walau sebenarnya ndak dandan pun dia tetap cantik. Pernah aku mengintainya, ada beberapa cowok mendekatinya lebih tajir dari aku, dia nolak. Bahkan kalau keluar ketika ndak bareng aku dandanannya biasa saja, tapi kalau pas ada aku wuiiiiih…. cuantiknya, setiap kali selesai jalan-jalan langsung aku tubruk ugh.. mangsatbz!” ucap anton

“kalau aku, dewiiii engkaulah… pujaan hatiku huoooooo…. seorang dewo tanpa dewi, well goodbye my life… kenapa aku bisa berhenti dari kebiasaan minumku, karena dewi. Kenapa aku tidak sebrutal dulu juga karena kamu yang mempertemukan aku dengan dewi ar, dia itu ugh… aku selalu bertekuk lutut dihadapannya. Apalagi hiks hiks hiks kalau dia sudah buka baju dan celananya, aku… aku hiks hiks hiks ndak tahan” ucap dewo dengan gaya orang menangis

Benarkah yang mereka katakan tentang pacar-pacarnya?

“hei ar, kita itu seperti hewan liar… kamu masih ingatkan bagaimana kita dulu? Nah mereka pacar-pacar kita adalah pawang kita. Coba kamu lihat si hermawan, berapa kali dia ganti-ganti pacar? Kalau dia tidak ketemu sama Hermi, jomblo dia. Cuma hermi yang bisa menjinakan hermawan. Seperti halnya aku, anton dan dewo” ucap wongso

“dan satu hal lagi cat, aku memang dari dulu senang ketika kamu dekat dengan dian. karena dian yang akan menjinakan keganasanmu diluar, aku ndak pengen kamu membabi buta kaya dulu lagi ar” ucap anton

“benar tuh cat, coba dian suruh telanjang mungkin kamu akan menemukan sesuatu didalamnya ha ha ha” ucap dewo

“dasar ngeres!” ucap anton dan wongso

Aku tersenyum melihat mereka, aku sendiri juga sudah mulai merasakan hal yang sama seperti mereka. preman-preman yang takut pada istrinya, tapi jika dilihat dari pernyataan mereka bukan takut dalam artian sebenarnya. Takut karena memang mereka ingin selalu bersama dengan pasangan mereka. sama halnya pasangan mereka takut akan kehilangan mereka.

“oke bro,terima kasih buat share-nya… mau pulang dulu” ucapku

“mau pulang ke dian? betul kan?” ucap wongso

“iya, kok tahu?” ucapku

“lha itu tas segede trailer kamu bawa ha ha ha”

“aku juga pulang dulu” ucap anton

“aku juga, sudah ada warning nih” ucap dewo

“maaaas, tanganku gatel, garukin!” ucap asmi dari dalam

“iya dindaku…” ucap wongso yang langsung mendekati asmi kedalam warung, sambil mengacungkan jempol dan mempersilahkan kami pulang

Kami melihat itu hanya tersenyum, teringat ketika dian memintaku menggarukan kakinya yang gatal. Aku kemudian berpisah dengan koplak menuju rumah, dalam perjalanan aku senyum-senyum sendiri mengingat cerita mereka. tak terasa aku telah sampai di rumah dian. aku masukan motor dan masuk ke dalam rumah, maklum sudah punya kunci serepnya.

“adeeee…” teriakku pelan memanggil ketika menutup pintu depan. Tak ada balasan dari dalam, aku kembali melangkah ke dalam rumah kudapati dian sedang menonton televisi

“kok diem de?” ucapku sambil berlutut bersandar pada bagian samping sofa dimana dian berada didepanku

“ndak usah pulang sekalian saja!” ucap dian

“eh… waduh dia marah” bathinku

“maaf-maaf namanya juga kumpul-kumpul, dah lama ndak kumpul sayang. Senyum dong sayang” ucapku merayu

“iiih… sudah dikasih waktu buat main malah pulangnya malam, jelek jelek jelek” ucapnya sambil mencubit lenganku

“ouch… sakiiit ade…” balasku pelan

“awas kalau besok-besok lagi pulang larut malam. Maem dulu mas” ucapnya sambil berdiri menuju ke dapur.

Aku tersenyum ketika melihat tingkah dian. wanita dengan tank-top hitam dan celana payet berwarna hitam tapi ada yang aneh hmmm… aku mencoba mengamati lebih detail lagi. Akhirnya aku menemukannya, kenapa dadanya sekarang tampak lebih besar ya? hmmm… apa perlu aku menanyakannya? Aku kemduian ke dapur dan makan malam bersama dian.

“ade tuh dah lapar, mas disuruh main maksudnya bias ade bisa masakin mas. Malah mas pulangnya malam banget” ucap dian

“he he he maaf ndak tahu…” ucapku

“besok besok lagi kalau main dibatesi, mas sudah punya pacar. Dan pulangnya harus kesini, pokoknya kesini “ ucapnya dengan wajah ngambek

“uke…” jawabku cengengesan

Kenapa sekarang aku seperti memiliki istri ya? padahal belum juga disahkan oleh KUA. Tapi tak apalah, semua pasti ada jalan kedepannya. Aku tidak ingin tergesa-gesa seperti koplak yang lain. Aku sudah pernah merasakannya dan untuk yang satu ini, nanti dulu. Setelah selesai makan malam, aku membantu dian memebersihkan meja makan dan piring dicuci. Aku kemudian ke kamar mandi karena perutku terasa sangat mulas, sedari pagi belum setor. Memang benar-benar enak kalau BAB, tapi sayang tidak ada rokok yang menemaniku. Lama aku didalam kamar mandi.

“Maaaaaas ngapain sih lama banget didalam kamar mandi?” ucap dian dari balik pintu

“Sial! Kenapa nasibku sama seperti wongso dan anton” bathinku

“lagi BAB sayang, perut mas sakit” ucapku

“BAB lama, pasti sambil mainan Hape!” ucap dian

“ndak mainaaan, Hp mas ada di kantong jaket dilihat deh” ucapku

“cepetan! Ade ngantuk!” bentak dian

“iya sebentar” balasku

Segera aku membersihkan diriku, muka, dan gosok gigi. Selama membersihkan diri, pikiranku terus melayang kenapa dian bertingkah seperti ini ya? mungkin karena memang aku harus diseperti inikan. Tak apalah, aku akan menikmatinya. Aku kemudian keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju kamar, kulihat dian mencembungkan pipinya didepan pintu kamar. tanpa ngomong apa-apa dia langsung masuk ke kamar. sebenarnya wanita itu lebih dewasa atau lebih kekanak-kanakan ya? kenapa dia bisa semanja itu? dikamar aku langsung berganti celana dari balik pintu almari, kulihat dian sudah memejamkan mata dengan memeluk guling. Aku bergerak dibelakangnya dan memeluknya dari belakang.

“met bobo sayang” ucapku tanpa canggung

“bodoh!” ucapnya dan aku hanya tersenyum mendengarnya

“mas…” ucapnya

“apa?” balasku

“mas ndak malu kan pacaran sama cewek yang lebih tua?” ucapnya

“ndak, memang kenapa?” ucapku

“ndak papa… hi hi” ucapnya dengan tawa kecil

“ade, apa ndak papa kalau mas tidur dirumah ade terus. Secara kita kan belum…” ucapku tidak melanjutkan

“ndak papa… ade ndak mau jauh lagi dari mas, dan ini salah satu cara agar ade bisa ngawasi mas… to fix you” jawabnya

“terima kasih…” ucapku

Aku memeluknya dan kami terlelap dalam tidur. Aku merasa seperti seorang mahasiswa-mahasiswa lainnya, yang kadang tidur di kos-an pacarnya. Tidur dirumah pacarnya atas seijin orang tuanya, dilayani layaknya seorang suami. Hmmm… begitu beruntungnya aku. Jika dilihat kembali, beberapa teman kuliahku juga ada yang seperti aku sekarang ini, tapi entahlah mereka memang sayang atau hanya mencari kehangatan. Tapi yang jelas aku disini, karena aku tidak ingin jauh darinya, aku ingin selalu dekat dengan dian. malaikatku…

Tepat pukul 04:30…

“ade bangun yuk” ucapku sambil menggoyang pelan tubuhnya

“erghhh… jam berapa memangnya mas? Ergh.. hoaaam…” jawabnya sambil menguap dengan punggung tangan kirinya menutupi mulutnya

“eeee… jam setengah lima pagi, yuk bangun…” ucapku

“he’em… sebentar uuuughhh… mmmm aaahhh…” jawabnya

Setelahnya kami mencuci muka dan melakukan aktifitas yang seharusnya. Kira-kira satu jam setelah aku dan dian bangun, kami melakukan tea time bersama di pekarangan rumah, dimana aku duduk di bawah dan dian diatas tepat dibelakangku. Kami bercengkrama layaknya seorang suami dan istrinya, membicarakan hal yang tidak perlu dibicarakan.

Nothing else mateeer….. (Metallica). Ringtone.

Kami beruda langsung menoleh ke dalam rumah.

“mas angkat dulu ya?” ucapku

“he’em… ade tunggu di sini saja” jawabnya

Aku beranjak dan berjalan ke arah sematponku yang tergeletak didepan TV. Kulihat sebuah nama yang semalam aku kirimi pesan. Rani. Aku mengangkat telepon rani dengan duduk disofa.

“Halo ran …”

“kakak… hiks eriiii kak”

“ah… eri… eh eri… eri ke kenapa?” (aku sedikit gugup)

“hiks hiks hiks eri ini dibawa”

“maksunya bagaiman? Kamu jangan nangis dulu dong… ah… kakak jadi gugup”

“gimana mau tenang hiks eri ini lagi perjalanan pulang kerumahnya, kemarin sore aku telepon eri, kalau eri hiks dibawa pulang lagi kerumahnya”

“terus?”

“iiih kakak terus terus hiks hiks hiks eri itu dibawa pulang, mau digilir sama bapaknya plus anak buahnya hiks hiks”

“ka kamu ndak bercanda kan ran? Jangan bohong!”

“iiih kakak hiks beneran, eri kemarin aku telepon pakai nomor lain. Makanya rani telepon kakak sekarang. Semalam rani nyoba hubungi eri pakai nomor baru baru pagi ini ganti nomor lagi dan sms kakak baru masuk” (dian datang dan duduk di sampingku, melihatku dengan serius)

“oke… kapan kira-kira eri berada dirumah?”

“kemungkinan hari ini hiks hiks hiks”

“kamu jangan nangis dulu adik kecil, kalau kamu nangis terus kakak malah tambah galau” (dian tiba-tiba memasang wajah ngambeknya dengan pipi yang mencembung)

“kakak, hiks gimana ndak mau nangis hiks hiks hiks eri kak… eri hiks” (aku tarik kepala dian dan aku rebahkan di dadaku, tangan kananku mengelus kepalanya)

“okay gini, kamu telepon eri nanti siang. Kabari kakak, dan telepon kakak kamu secepatnya okay? Ndak usah sering ganti nomor biar kakak ndak bingung hubungi kamu, setelah ini kamu berikan nomor baru kamu ke kakak, sementara kamu gunakan nomor baru saja okay?”

“iya kak… hiks hiks hiks hiks pokoknya kakak bantu eri, rani ndak mau kehilangan eri kak hiks hiks”

“iya adik manis, sudah kamu tenang saja okay?”

“Iya kak, nanti rani kabari kakak hiks hiks hiks hiks lha ini kakak dimana? Kakak ndak pernah tanya-tanya kabar rani hiks jahat! Punya adik tapi ndak pernah diperhatikan”

“e… kakak kemarin ada masalah, sekarang kakak sudah punya pacar, ini sekarng kakak di rumah pacar kakak…”

“kakak sudah punya pacar hiks terus adiknya dilpuakan gitu jahat… sudah jadian ndak bilang-bilang sama adiknya, kan rani juga perlu tahu cocok apa ndaknya hiks pokoknya rani ndak mau tahu, walaupun kakak sudah punya pacar, kakak harus selamatkan eri… hiks hiks hiks”

“iya maafin kakak ndak kasih kabar atau tanya-tanya kaba ke kamu, sebe…” (teleponku direbut oleh dian, kemudian loudspeaker diaktifkan)

“halo, ini rani ya?”

“eh.. ini siapa? Hiks hiks hiks”

“sudah jangan nangis dulu sayang… ini dian, maafin kakak kamu ya ndak pernah tanya kabar kamu”

“hiks hiks hiks ini pacarnya kakak ya?”

“iya…”

“mbak dian hiks ndak boleh rebut kak arya dari rani sama eri hiks hiks hiks”

“eh ndak rebut kak arya dari rani sama eri… kan kak arya ada untuk kalian juga kan? Ya mungkin kak arya baru sibuk kemarin jadi ndak bisa tanya-tanya kabar…”

“hiks hiks hiks iya mbak hiks hiks hiks… mbak dian, pokoknya itu kakak suruh nolong eri mbak, pokoknya harus hiks hiks hiks”

“iya iya pasti kok, nanti mbak yang bilang sama kakak kamu” (kenapa jadi sok akrab begini mereka berdua?)

“makasih mbak hiks hiks hiks”

“sudah jangan nangis ya, nanti manisnya hilang”

“hu’um mbak, mbak kok mau sama kak arya?”

“jelek sih jadinya mbak mau hi hi hi sudah pokoknya kamu tenangkan diri kamu ya, dan kasih kabar kakak kamu, okay?”

“hu’um mbak, kak arya emang jelek itu… mbak… rani mau minta tolong…”

“iya, minta tolong apa?”

“pukulin kakak yang keras! Hiks hiks hiks”

“ya ndak bolhe dong, sudah kamu jangan nangis terus ya” (aku hanya bisa melihat mereka berdua bercengkrama)

“hu’um… mbak….”

“iya…”

“walau aku bukan adik kandung kak arya, aku juga disayang ya, pengen punya kakak perempuan hiks hiks hiks”

“eh… iya sayang”

“ya sudah kak, rani mau ganti nomor dulu, mungkin eri menghubungi rani hiks hiks hiks salam jitak buat kak arya mbak hiks hiks hiks jahat banget…”

“iya, sabar ya… nanti mbak yang ngomong sama kak arya…”

“hu’um” tuuuut

Telepon ditutup, dian memandangku dengan tajam. Aku memandangnya sebentar kemudian rebah bersandar pada sofa. pandanganku ke atas, seakan tak percaya baru saja tadi malam aku membicarakannya dengan wongso, anton, dewo dan sekarang eri muncul kembali ke permukaan. Informasi yang kurang jelas membuatku semakin gelisah.

“Ada apa to mas sebenarnya?” ucap dian lembut

“ahhhhh…” aku bangkit dari bersandarku

“rani, adalah teman KKN-ku, dan eri juga…”

“mereka berdua… ahhh… erghhhhhhh….” ucapku sambil menggosok-gosok rambutku bingung harus memulai dari mana

Dian bangkit dari duduknya dan bersimpuh dibawahku. Diapitkannya kedua lututku, dagunya direbahkan diatas kedua tangan yang sudah ditata diatas lututku. Pandangannya menusuk mataku, aku semakin terhanyut ke dalam senyum manisnya. kusatukan keningku dengan kepalanya.

“mungkin sudah saatnya kamu tahu semuanya…” ucapku

“he’em…” balasnya tersenyum dengan mata menyipit

“Aku harap kamu mau mengerti, hufttthhh….” ucapku

“he’em…” balasnya kembali

“ergh… ceritanya dari awal atau hanya tentang rani saja?” balasku yang bingung harus menceritakan semuanya

“terserah mas…” ucapnya lembut dengan senyumannya

“baiklah, akan mas ceritakan semua dari awal. Dari semua yang mas lakukan, dan tak akan mas tutupi lagi kisah kotor mas…” ucapku

“sssst… mau kotor atau tidak, itu adalah masa lalu…” balasnya

Aku sebenarnya bingung memulai dari mana cerita bodohku ini, ini semua karena memang penulis yang memposisikan aku seperti sekarang ini. aku ceritakan bagaimana aku memulai cerita bodohku. Di awali dari hubunganku dengan ibu, yang aku ceritakan tidak sedetail dengan kejadian namun itu sudah membut dian tertunduk dan memperlihatkan wajah sedihnya. Tak tega aku melanjutkan ceritaku namun dian memandangku kembali dan meremas tanganku untu melanjutkan apa yang seharusnya dia ketahui tentang diriku. Kulanjutkan ceritaku menuju ke saksi yang terbunuh bernama Kaiman Supraja, yang kemudian aku tahu dia adalah Ayah dari mbak erlina. Cerita bagaiman dian memberiku petunjuk sewaktu aku sedang buntu dalam memecahkan teka-teki. Tante ima, Ibu dari Rahman juga memberiku petunjuk mengenai semua teka-teki ini yang disisi lain juga merupakan sahabat dari Ibuku. Setelahnya aku bercerita mengenai bagaimana aku sampai di desa banyu biru dan banyu abang, bertemu mbak maya dan hubunganku dengan mbak maya hingga akhirnya aku bisa bertemu untuk pertama kalinya dengan Kakek Wicak dan Nenek Mahesawati yang kehidupannya sangat memprihatinkan. Kuceritakan garis besar bagaimana kehidupan mereka yang teraniaya oleh ayahku.

Berlanjut kembali ke teka-teki mengenai komplotan-komplotan Ayah, mencoba mengetahui siapa nama-nama dari mereka semua. Hingga menuntunku ke tempat seorang wanita setengah bay bernama Tante Wardani, yang akhirnya aku juga terpaksa melakukan hubungan dengannya. Mbak echa, mbak ella di PKL bagaimana aku bisa berhubungan dengan mereka. Dilanjutkan mbak erlina yang tidak sengaja aku selamatkan ternyata memberiku informasi besar mengenai semuanya. Mbak ara medita yang aku temui di KKN juga berkaitan dengan komplotan Ayah, yang merupakan anak dari Si Buku, orang yang mencoba memperkosa ibuku dan harus aku selamatkan nyawanya di kemudian hari. Rani, dan Eri teman KKN yang merupakan anak dari dua orang komplotan ayahku. Yang kemudian terkahir adalah ayah rani yang dapat diselamatkan memberiku petunjuk mengenai memori masa lalu ayah dan juga perumahan ELITE ini.

“maafkan mas jika cerita yang mas ceritakan membuat ade sedih. Itulah ayah mas yang sebenarnya, dan mas juga bingung dalam mengahadapi situasi ini, hingga akhirnya mas…” ucapku lirih

“itu jalan hidupmu dan aku disini untuk mendukungmu menjadi lebih baik. Aku hanya ingin kamu berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menjadi pasangan hidupku… ade berharap mas lebih hati-hati lagi karena ade tidak mau kehilangan mas” balasnya dengan air mata mengalir

“maafkan mas atas semua yang telah terjadi, seandainya saja ayah mas tidak sekejam itu. mungkin mas tidak akan terperosok jauh dalam lingkaran gelap ini” ucapku

“jangan pernah memarahi masa lalu, jangan pernah menyesali masa lalu karena masa lalu itu tidak akan pernah berubah sekalipun mas menangis memohon untuk dirubah.. mas menolong mereka, tapi mungkin setelahnya diluar perkiraan mas tapi… hiks… ehem…” ucapnya kemudian mengembangkan senyuman

“jangan pernah mengulanginya lagi, karena apa yang ada dimas… sudah menjadi milik ade walaupun belum seutuhnya…” ucapnya

“eh maksud ade?” ucapku

“mas adalah milik ade sekarang ini, ketika mas bersama ade… ade tidak bisa melarang mas ini itu, karena memang pada dasarnya mas adalah pacar ade. Dan ade tidak akan memaksakan semuanya ke mas. Tapi jika suatu saat nanti kita sudah benar-benar sah… sekali saja mas melakukannya diluar entah dengan siapa dan ade tahu…” ucapnya terpotong

“eh…” aku memandangnya tajam

“mas tidak akan melihat ade hidup lagi… karena ade tidak mau kehilangan mas” balasnya dengan senyum mengembang dan mata yang berkaca-kaca

“Ingatkan mas selalu, agar nanti ketika kita memang benar-benar bersama, mas sudah benar-benar baik untuk ade. Dan mas akan berusaha semaksimal mungkin untuk berubah, kamulah alasanku untuk berubah… bersama ataupun tidak selalu berada dalam hatiku karena kamu, Dian, yang bisa merubah aku…” balasku dengan air mata berlinang, dian kemudian bangkit dan memelukku

“maaaas hiks hiks hiks ade sayang banget sama maas, hiks hiks hiks pokoknya mas hati-hati, terus ndak boleh main sama cewek lain… mas Cuma punya untuk adeeeeee hiks hiks hiks buat ade seorang hiks hiks” ucapnya sambil memelukku erat, terasa air matanya membasahi bahuku

“he’eh… untuk ade…” ucapku

Aku menariknya dan membalas pelukannya, kurebahkan tubuhku diatas sofa begitupula tubuh dian ikut rebah bersamaku. Dian berada diatasku, duduk mengakangi pinggangku, pandangannya tajam ke mataku, dengan mata sendunya. Kening kami bersatu, diikuti hidung kami juga bersentuhan. Kurasakan air matanya menetes di wajahku, aku tersenyum dengan tangisan pelan.

“be with me… always” ucapnya lirih

“always… with you” balasku lirih

“hiks hiks hiks jangan pernah tinggalin ade lagi, ade sudah capek nyari mas… ade sudah ndak mau lagi jauh dari mas, ade ndak tahu kenapa ade bisa cinta dengan mas, ade ndak tahu kenapa ade benar-benar ingin selalu dekat dengan mas hiks hiks hiks… yang ade tahu cuma… ade akan bahagia bersama bocah itu… hiks hiks hiks ade sudah tidak mau lagi menanti dan kehilangan… sakit, ndak mau lagi hiks hiks hiks…” isak tangisnya semakin menjadi

Kami berpelukan kembali, menangisi jalan cerita yang tidak seperti kenyataan kami. seandainya saja sebuah cerita indah, bertemu lalu berpisah kemudian bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik tanpa ada sebuah konflik atau polemik, ah itu hanya di sebuah cerita film saja. Walau dalam hatiku aku selalu berharap hidupku seperti di film-film laga, dimana seorang ksatria selalu berada dijalan kemenangannya. Tak peduli seseulit apapun ketika berada dijalan yang gelap dan menakutkan, tetapi di akhir ceritanya selalu ada senyum di wajah sang ksatria itu.

Ah itu hanya mimpi, sekarang aku mempunya banyak beban di bahu dan hatiku. Ibu, kakek, nenek, pak dhe, bu dhe, sahabat-sahabatku, dan keluarga baruku erlina, rani, eri semua menjadi tanggung jawabku. Terlebih lagi kini ada seorang malaikat yang selalu menanti dan ingin selalu bersamaku, Dian. apa mungkin aku terlalu konyol dengan pemikiranku, menanggung semua beban ini sendiri?

“jangan pernah mas menanggung beban mas sendiri hiks ada ade disini mas yah, jangan pernah sekalipun mas merasa diri mas sendiri karena mas punya ade, Ibu, keluarga dan juga sahabat-sahabat mas… kami semua mendukungmu dan akan membantu menyelesaikan masalah mas sendiri” ucapnya lirih ketika wajahnya beringsut dari samping wajahku dan kini berada di atas wajahku. Aku memeluknya kembali, seakan menangis sekeras-kerasnya.

argh… tidak mungkin ku bisa menyelesaikannya sendiri. kenapa selalu seperti ini? kenapa semua selalu aku yang memikirkannya? Bukankah selama ini aku tidak pernah mempunyai rencana jika bukan koplak yang membantuku. inilah aku memang selalu begini, memojokan diri sendiri karena masalah yang aku hadapi. Merasa bahwa aku bukan orang yang paling bahagia, dan tidak pernah merasakan bahagia karena masalah-masalah yang ditimbulkan ayahku. Kenapa selalu begini? Aku punya mereka, mereka yang bisa selalu kuandalkan, yang selalu aku coba lindungi.

“terima kasih sayang… aku tidak menyangka dosenku sendiri yang sekarang menemaniku, terima kasih sudah memilihku, terlebih lagi selalu ada disetiap waktu, seandainya bukan kamu yang menjadi DPL-ku, seandainya kamu yang bukan menjadi dosbingku, aku tak mungkin memelukmu seperti saat ini… terima kasih, karena menjadi wanita yang menemaniku dikala itu, kita pasti bisa mengulanginya lagi sayang, pasti… hiks…” jawabku

“he’em sayang…mmmm…” ucapnya yang lalu meletakan bibirnya di bibirku

Tubuh kami bersatu walau pada dasarnya tidak seperti yang diharapkan seperti cerita-cerita sebelumnya. Aku hanya memeluknya, meremas tubuhnya dengan tubuhku. Merasakan hangatdari tubuhnya hingga akhirnya aku merasakan lelah karena menangis, kupeluk tubuhnya erat di sofa TV dengan rasa kantuk yang sangat kuat.

“ade…” ucapku dengan nafas sedikit tersengal

“Ya mas…”jawabny, terdengar nafasnya pun sedikit belum teratur

“ade tadi mandi?” tanyaku dengan bibir tersenyum

“Eng… mas itu yang belum mandi, ade sudah mandi mas tahu sendiri” balasnya sambil melepaskan pukulan ringan ke dadaku

“Ouwh… pakai air?” candaku

“iih… mas lama kelamaan nyebelin uh,ya pakai air” ucapnya sambil membalikan tubuhnya, dan kini aku memeluknya dari belakang, terlihat pipinya mencembung

“bohong…” balasku

“terserah week… mas itu aneh-aneh saja” jawabnya

“ade yang aneh… mandi ndak pakai air” balasku sambil memeluknya erat

“mas ada apa sih? Kenapa masku sayaaaaang?iya deh ade mandi ndak pakai air” ucapnya

“pantesss… ini mas lengket terus ndak bisa lepas, ade pakai lem pasti tadi mandinya he he he” candaku melunakkan suasana

“ehem… besok ade mau pakai solasi saja, biar mas ndak kemana-mana lagi, nempel terus hi hi hi” ucapnya sambil tersenyum dan memundurkan tubuhnya semakin kebelakang

“kalau ndak kemana-mana, berarti ndak boleh kerja dong?” candaku

“iya ya… hmmm… nanti ada saatnya… ade ngantuk, pengen bobo…” ucapnya lirih

“he’em… erghh…” jawabku sambil tanganku memeluk tubuhnya

Dalam keheningan siang ini setelah beberapa jam aku bercerita semuanya. Lelah juga dengan perasaan sedih, aku memutuskan untuk memeluknya dalam panas siang ini. tidurlah sayang… tidur, aku akan bersamamu. Ya, bersama wanita dewasa yang manjanya melebihi seorang gadis kecil. Wanita dewasa yang selalu manja dihadapanku, selalu ingin di dahulukan daripada yang lain. Wanita dewasa yang manja dan lebih dewasa pemikirannya dariku tetapi berlagak seperti anak kecil ketika dihadapanku. Membuatku seperti seorang lelaki dewasa walaupun sebenarnya tidak bisa sebijaksana, sebertanggung jawab, sehebat laki-laki dewasa pada umumnya. Tapi dihadapanya, berbeda…

These is real life, these is real thing, these is real life that i can’t hide (bon Jovi).Ringtone. nomor tidak dikenal.

Aku dan dian terkejut hingga terbangun karena suara ringtone sematponku yang tak henti-hentinya berbunyi. Beberapa kali sematpon itu diam tapi kembali lagi bersuara dengan kerasnya. Aku angkat tubuhku namun sebelumnya aku cium pipi kirinya. Dian tersenyum kepadaku dan masih tetap rebah pada posisinya. Ku ambil sematpon yang tadi direbut oleh dian di lantai.

“hoaam siapa mas?ergh…” ucapnya sembari mengangkat tubuhnya sebagian dan bertumpu pada kedua tangannya

“ndak tahu, nomornya ndak ke daftar, mas angkat dulu hoaaam…” ucapku duduk dilantai dan bersandar di sofa tepat dibawah dian. dian kemudian memeluk leherku.

“halo…”

“hiks hiks kak… eri sudah dirumah hiks…”

“eh rani…” (mataku langsung terbelalak kaget karena itu adalah rani, kemudian dian berbisik kepadaku untuk mengaktifkan loudspeakernya)

“cepetan tolong eri kak hiks hiks nanti malam dia hiks hiks hiks tolongiiiiiiiiin hiks hiks hiks”

“Eh iya… iya, kamu tenang dulu, kalau nangis terus kakak ndak bisa tenang juga?”

“iya hiks hiks hiks segitunya kakak sama rani hiks…”

“rani… tenang dulu… bukan maksud kak arya marahin kamu, tapi kalau adik ndak tenang nanti kitanya juga ikut bingung kan? Senyum dulu sayang” (Dian menangkan rani)

“mbak dian hiks hiks hiks kak arya nyebelin kalau ngomong bentak-bentak terus enakan sama mbak dian hiks hiks hiks”

“iya iya kakak minta maaf, dah sekarang rani cerita sama kakak tapi ndak pakai nangis dulu okay? Hirup nafas dalam-dalam okay?”

“hu’um huffffthhh….”

“sudah? Sekarnag cerita ya…”

“okay.. hiks… eri tadi rani telepon, katanya dia sudah ada dirumahnya di perumahan ARWAH (ASRI DAN MEWAH) di nomor 69. Ayahnya bilang bahwa malam nanti setelah jam 8 malam, eri harus mau melayani ayahnya dan juga anak buah ayahnya. Dan setelah malam nanti eri harus menjadi pelayan ayah dan semua anak buah ayahnya, tidak boleh menolak apapun alasannya. Jadi kakak jika bisa kak tolong eri kak… jika kakak bisa…”

“okay, i’ll do it…”

“terima kasih kak, kakak memang kakak terbaik buat rani dan eri… mbak dian jangan cemburu ya mbak hiks…”

“iya ndak cemburu kan sama adik ipar hi hi hi ayo senyum dulu…” (dian menjawab)

“he’em… adik sudah senyum kok mbak”

“okay sekarang kamu tenang ya, kalau eri memberikan informasi tambahan kamu langsung kabari kakak ya?”

“iya kak… nanti rani coba hubungi lagi, karena tadi setelah telepon eri bilang terlalu berbahaya kalau rani telepon terus”

“ran, memang sebaiknya kamu tidak hubungi eri dulu. History sematponnya akan mencatat nomor kamu”

“kakak tenang saja, eri tadi sudah bilang kalau setiap kali telepon eri selalu menghapus log informasinya dan juga sms-smsnya”

“hufth… okay, kalau begitu kakak akan memikirkan bagaimana caranya untuk sampai kesana, okay?”

“ya kak, kakak hati-hati, jagain mbak dian juga ya kak..”

“iya pasti, kakak akan jaga kalian semua”

“terima kasih kak, rani sayang sama kakak… mbak dian jangan cemburu lho”

“iya sayang…” (dian menjawab)

“dadah kakak dan mbak” tuuuut

Dian kini duduk bersila diatasku, kuletakan sematponku dilantai dan mendongak ke atas. bibirnya kemuadian mendarat di bibirku.

“hati-hati…” ucap dian

“pasti, karena kamu aku pasti akan lebih hati-hati” ucapku, entah kenapa tiba-tiba mata dian mengatakan sesuatu kepadaku tapi aku tidak bisa menangkapnya

Aku bangkit dan kulihat jam dinding yang mulai menertawakanku menunjukan pukl 16:00. Ku tinggalkan dian di runang TV tapi yang namanya cinta, dia tetap mengikuti masuk ke dalam kamar. Aku berganti pakaian didekatnya tanpa rasa risih sekalipun. Memakai semua penyamaran yang selalu aku gunakan, dian memandangku dengan tatapan mata yang sedih. Dian kemudian keluar dari kamar entah kemana dia, aku segera menyiapkan semuanya mengirim sms ke pak wan untuk menjemputku.

Aku keluar dari kamar,mendapati dian berdiri mematung didepan pintu kamar. wajahnya sedih, pandangannya menunduk ke bawah seakan tak ingin aku pergi dari rumah ini. aku mendekatinya dan kupeluk tubuhnya, tangannya perlahan memelukku. Ku dengar sedikit suara sesengukan darinya.

“Sudah tenang saja…” ucapku

“hiks hiks hati-hati pokoknya haru pulang lagi kerumah” ucapnya

“he’em…” balasku

Kami berpelukan lama, sebenarnya aku sudah tidak ingin lagi terlibat lebih jauh lagi. Sudah ada dian disini, sebenarnya aku jalani hidupku normal saja mungkin bisa. Iya, mungkin kalau saja ayah tidka mempunyai keinginan untuk membumi hanguskan keluarga besar ibu. percuma kebersamaanku besama dian, dan aku tidak bisa menikmati indahnya hidup bersamanya. Lama kami berpelukan hingga sebuah taksi membunyikan klakson di luar rumah.

“pak wan sudah datang, doakan mas ya…” ucapku

“he’em pasti…” jawabnya

Aku melepaskan pelukan dan berjalan ke arah pintu. Dian kembali menarik jaket yang aku kenakan dan merebahkan keningnya di punggungku.

“hiks… mas harus hati-hati, ade nunggu dirumah…” ucapnya

“pasti…” ucapku, aku berbalik dan mencium bibirnya

Setelahnya aku keluar dan dian hanya memandangku dari dalam rumah. Wajar dia tidak berani keluar rumah karena hanya memakai tank-top dan celana pendeknya. Aku masuk ke dalam taksi dan pak wan langsung berjalan, ku menoleh ke arah dalam rumaj. Tampak dian melambaikan tangannya ke arahku. Taksi berjalan semakin jauh, dan kini hanya aku bersama pak wan saja.

“kemana den?” ucap pak wan

“Perumahan Arwah” ucapku

“ada apa den? Apakah aden sedang dalam misi baru lagi?” ucapnya

“iya, misi baru pak. Eri, teman KKN-ku salah satu dari anak komplotan Ayahku. Dia harus diselamatkan” ucapku

Ciiit….

“den, cerita sama bapak dulu, baru bapak mau jalan” ucap pak wan

“ini mengenai anak dari komplotan ayah yang perlu diselamatkan pak. Dia nasibnya sama dengan Rani yang waktu itu lho pak, masih ingat?” ucapku

“tapi kenapa aden sendiria? Terlalu berbahaya den” ucapnya, yang kemudian menjalankan taksinya kembali

“sudah tidak ada waktu lagi untuk menghubungi koplak, jam mainnya jam 8 malam. Dan kalau harus menghubungi koplak akan terlalu lama pak. Ini sudah hampir jam 6 sore” ucapku

“terlalu berbahaya den, hubungi teman yang lain den…” ucap pak wan

“kalau dihubungi bisa-bisa malah yang disana sudah di K.O pak” ucapku

“terserah aden, yang penting aden hati-hati…” ucap pak wan

Perjalanan kembali berjalan tanpa pembicaraan, pak wan menyuruhku untuk berisitirahat sebelum sampai di tempat tujuan. aku berbicara kepada pak wan untuk membangunkan aku jika nanti aku tertidur. Dan benar akhirnya aku tertidur dalam lelapku, entah seberapa lama aku tertidur. hingga…

“arghhhh…..” teriakku spontan karena ada seseorang yang duduk diatasku, mataku terbuka dan mencoba mengangkat bokong yang mendudukiku

“sialan… siapa….. DIRA?!” ucapku yang seketika itu melihat keatas dan dira menoleh kearahku

“apa? Mau main sendiri? mending sama dira kan enyaaak hi hi hi” jawabnya

Plak… pipi kananku

Plak… pipi kiriku

“aduh… sialan ka ka kalian kenapa?” ucapku

“sialan kamu cat, asu, celeng , bajingan… sudah dibilang jangan main sendiri, masih main sendirian!” ucap wongso di kananku

“kemaki (sok berlagak hebat)… “ ucap dewo

“durung tahu digebuki po? (belum pernah di pukuli orang ya?)” ucap anton di depanku

“eh… kok kalian bisa disini” ucapku

“maaf den, pak wan ndak bisa membiarkan aden sendirian…” ucap pak wan

“BENAR ITU! MAIN BARENG ITU LEBIH BAIK DARIPADA MAIN SENDIRI YANG PENTING BUKAN KENTHU BARENG-BARENG! HA HA HA HA” jawab wongso, anton, dewo, dira

“maaf ya den, begitu bapak tahu aden mau melakukan misi sendiri. bapak langsung mengirimkan sms ke mas wongso” ucap pak wan

“dan yang bisa saat ini Cuma kita berempar cat, jadi ya kita berlima saja sudah oke. Dan tenang saja, nanti pak wan bisa langsung pulang karena kita tadi datang bawa motor tiga. Dari yang diceritakan pak wan, kita akan menyelamatkan eri tanpa ada orang lain. 3 motor, 1 untuk kamu, 2 untuk kami berempat. Nih kuncinya motornya ada dibelakang taksi, aku nanti sama anton, dira sama dewo ” ucap wongso

“lha ini dimana? Dir kamu turun kenapa? beratahu!” ucapku

“iiih… enak kan disini, kontol kamu kok ndak berdiri ya?” ucap dira

“lha aku tahu kamu cowok ngapain berdiri?!” protesku

“iiih segitunya, nanti dira tit fuck deh kalian satu-satu kalau selesai hi hi hi” ucap dira

“matamu!” teriak kami berempat

“ini sudah disamping perumahan, pos satpam ada didepan cat. Dam sekarang sudah jam setengah delapan” ucap anton

“lha bagaimana kita masuk?” ucapku

“tenang den, itu yang jaga orang banyu abang. Mereka teman bapak, dan juga tetunnya aden tahu kan. jadi aden dan teman-teman aden bisa masuk dengan bebas. Bapak tidak menduga kalau sasaran berikutnya tempat ini. Akan saya kode dari sini…” ucap pak wan

“mantabz! Teriak kami berlima

“maaf ya bro…” ucapku

“biasanya juga bagaimana… tenang bro…” ucap wongso menepuk bahuku, begitupula dewo. Anton mengacungkan jempol dan dira menekan dedek arya dengan bokongnya.

“pakai ini, untuk komunikasi… dan aku sudah siapkan rencana, plat nomor pak wan saja sudah aku ganti sejak tadi waktu berangkat dan mendengar cerita dari pak wan aku sudah siapkan semuanya… tapi ingat, ini rencana dadakan dan kita tidak tahu jumlah mereka” ucap anton memberikan peralatan komunikasi kecil kepada kami.

Pak wan mengedipkan lampu taksi, dan selang beberapa saat terlihat satpam keluar dari pos satpam. Kedua satpam itu dan memberi kode agar kami segera masuk ke dalam perumahan. semua motor yang berada dibelakang taksi kami tinggal begitu saja. Mobil melewati pos satpam.

“mas, tolong jagain motornya den arya” ucap pak wan kepada salah satu satpam

“inggih pak, kulo jagi, atos-atos nggih pak, den, kalihan mas-masnipun (iya pak, saya jaga, hati-hato ya pak, den, dan mas-masnya)” ucap satpam tersebut dengan sangat sopan apalagi ketika menghadap kearahku

“den wicak pokoknya hati-hati” ucap seorang satpam lagi sambil mengetuk pintu kaca belakang

“inggih mas (iya mas)” ucapku, mobil kemudian berjalan masuk ke dalam perumahan

“gila, arya hebat banget, pada hormat sama kamu semua” ucap dira

“kakek den arya yang selama ini membantu kami, dan kami belum sempat membalasnya. Jadi cucunya harus kami lindngi semua, kalau dikatakan siap mati, kami siap” ucap pak wan

Mereka berempak kelihatan melongo, dan yang jelas aku sedikit berkaca mengingat kakek yang terakhir kali memelukku. tak berlarut-larut dalam cerita, kemudian anton mengatakan rencananya kepada kami agar kami bisa masuk kedalam rumah.

“lha alamatnya?” ucap pak wan

“perumahan arwah nomor 69” ucapku

“okay, langsung pada posisi. Pak, berhenti dulu sebentar” ucap anton

Anton kemudian bersembunyi di jok depan mobil tepatnya meringkuk di tempat kaki. Dira kemudian duduk dipinggir kiri jok belakang, wongso meringkuk dibawah jok. Dewo keluar dan masuk ke bagasi belakang dan tentunya tidak ditutup rapat, sedangkan aku meringkuk disamping dira dan ditutupi oleh kain yang entah dari mana dapatnya. Lampu taksi dalam keadaan mati dan berjalan mendekati tempat tujuan, berputar-putar sejenak dan berhenti. Kulirik jam digital pada taksi menunjukan pukul 20:30.

DIRA (Sudut pandang orang ketiga)
Wanita? Bukan… pria? Juga bukan… inilah salah satu anggota koplak yang koplaknya kebangetan. Sudira, laki-laki perempuan inilah yang selalu menjadi tombak depan koplak ketika menyelesaikan masalah arya.

Klek… blughh… pintu taksi terbuka dan kemudian dibanting oleh dira. Dira dengan tas kecil tergantung di bahunya melangkah mendekati pintu gerbang diiringi Taksi yang bergerak maju kemudian berputar dan berhenti tidak jauh dari rumah Eri. Dira yang kemudian berada di depan pintu gerbang dihadang ada dua orang tinggi besar.

“Siapa kamu?! mau apa?!” ucap lelaki 1

“iiih si mas galak banget deh, ini akyu dipanggil kesini katanya ada pesta, dan akyu salah satu yang meramaikan lho mas, masa mas ndak bisa lihat sih dandanan akyu” ucap dira, kedua lelaki itu sebenarnya sudah terbelalak dengan pakaian dira yang sangat seksi dan bahkan memperlihatkan sebagian payudaranya

“hmmm.. slurrp enak tuh, namanya siapa nih?” ucap lelaki 2, menelan ludah sambil mencolek tangan dira

“Dira mas, ih mas colek-colek deh… kan jatahnya nanti, mau sekarang mas? Ndak papa sih, dira suka lho mas kalau main diluar. Asyik deh kayaknya apalagi lawannya dua orang hhmmm…” ucap dira

“ssst… bagaiaman, kita nikmati dulu saja?” ucap lelaki 1

“benar juga, mumpung masih fresh ini” ucap lelaki 2

“tapi jangan didalem bro, ntar kalau ketahuan disini saja” ucap lelaki 1 memberi isyarat ke lelaki 2 untuk bermain disekitar pintu gerbang saja, dira hanya senyum-senyum dan mendekati lelaki 1. Tangannya mengelus bagian selangkangan lelaki 1.

“ughhh… kayanya memang harus disini” ucap lelaki 1

“disini juga ndak papa kok mas, dira kuat kok… memang didalam masih ada berapa?” ucap dira menyelidiki sambil satu tangannya mengelus selangkangan lelaki 2. Posisi dira sekarang berada ditengah laki-laki

“Ouwh… ada 11 orang lagi didalam, emang kuat ya mbaknya kalau sembilan orang?” ucap lelaki 1

“iiih jangankan 11 orang, 13 sama masnya kalau minta lagi saja dira kuat kok. Suka banget kalau dira jadi pusat kontol-kontol masnya hi hi hi… kaya di pidio-pidio jepang gitu mas, mandi sperma”

“ayo kapan nih? Apa dira perlu masuk ke dalam dulu, masnya dapat sisa?” lanjut dira merayu

***

***

eh jangan mbak, barang bagus gini kok kita dapat sisa. Apalagi ini pepayanya kelihatannya sekel banget?” ucap lelaki 1 dan mentowel susu dira

“eh eh eh… ini bukan pepaya mas, kalau pepaya nggantung kebawah, ini melon mas, kan kenceng” ucap dira sambil meraih tangan lelaki 1 dan ditempelkannya ke susunya

“mbak, aku juga dong boleh ya… ndak pernah dapat sisa dari si bos nih” ucap lelaki 2 dan dengangenit dira menarik tangan lelaki 2 untu kmenyentuh susunya

“mau disini apa disitu mas?” ucap dira

“di dalam saja mbak, tenang saja mbak yang lain masih didalam mbak. Nanti kalau kita sudah selesai baru panggil mereka” ucap dira

“tambah satu ndak papa kok mas, kan lubang dira ada 3. Kasihan dong kalaulubang yang satunya dianggurin” ucap dira

“ssst.. gimana panggil saja si beton kesini, kemarin dia ndak dikasih lonthe sama si bos” ucap lelaki 2

“sebentar, BBM-nya saja biar aman” ucap lelaki 1

Selang beberapa saat kemudian lelaki 3 atau yang disebut sebagai si beton keluar…

“gila bro… barang bagus nih, ikutan yah” ucap lelaki 3

“yoi bro, dianya maunya rame-rame… tapi bagaimana didalam? Sudah pada mulai belum” ucap lelaki 2

“belum… itu si nonanya lagi disuruh nari stripteas, Cuma bisa ngocok doang…” ucap lelaki 3

“iiih… kelamaan… dira masuk saja deh kalau gitu…” ucap dira

“eh jangan mbak… ayo kita crotin dia” ucap lelaki 1

Lelaki 1 yang berada ditengah-tengah sudah tidak tahan langsung meremas kedua buah melon dira. Dira mulai mendesah, dengan sigap dira mulai meremas batang lelaki 2 dan 3 yang berada disamping lelaki 1. Tanpa babibbu, lelaki 2 dan lelaki 3 melepaskan celana mereka dan tangan dira mulai mengocok kedua batang yang lumayan besar. Tas kecil itu pun masih bisa menggantun di bahu dira.

“iiih… lebih kecil dari punya eko, iiih… tapi ndak papalah, mumpung cintaku masih diluar kota” bathin dira

Lelaki 1 dengan cekatan melorotkan kemben yang dikenakan dira. Tanpa curiga dengan bentuk payudara dira, padahal jika dibandingkan dengan payudara buan dengan payudara asli kemudian dioperasi seharusnya memliki bentuk yang berbeda. Tapi lelaki 1 tak bisa membedakannya, mungkin karena dia tidak pernah berselancar di internet. Kepala lelaki 1 kemudian turun dan memainkan puting dira, dira hanya bisa mendesah kenikmatan merasakan jilatan di payudaranya.

“bro… aku juga pengen ngrasain putingnya bro, gantian” ucap lelaki 2 ke lelaki 1

“enak bro…” ucap lelaki 2 yang sama sekali tidak sadar akan bentuk payudara dira

“aku juga bro gantian” ucap lelaki 3

Tanpa kehabisan akal, lelaki 1 menurunkan celana dalam dira. Direnggangkannya kedua paha dira, kepalanya maju dan langsung lildahnya menyapu vagina buatan itu. klitorisnya tampak lebih besar namun lelaki 1 ini tidak peduli, untuk menjaga mereka mengetahuinya. Dira mengapitkan kembali pahanya dan jongkok. Disuruhnya lelaki 1 berdiri, sambil menunggu lelaki satu membuka celana. Secara bergantian dira mengulum batang lelaki 2 dan 3.

“asuuuu… (anjiiing) enak tenan rasanya…” ucap lelaki 3

“weidian ini to rasanya main bareng… setelah ini kita bisa menikmati tubuh si nona muda” ucap lelaki 2

“ayo mbak, aku juga pengen mbak…” ucap lelaki satu menarik kepala dira, dengan santai dira mengulum batang lelaki 1

“hi hi hi… maafin dira cintaku, tapi dira butuh hi hi hi… habis ini, mmm… ndak boleh lama-lama kasihan juga tuh si nona, to the point sajalah” bathin dira

Secara bergantian dira mengulumi tiga kontol sekaligus. Selang beberapa saat dira merasa sudah yakin dengan keputusannya, dimintanya lelaki 1 untuk tiduran. dimasukannya batang lelaki 1 ke dalam vagina sintetisnya.

“masnya jangan pada diem, itu anus dira anget lho mas… masnya yang satu sini, mulut dira anget juga lho mas” ucap dira

Lelaki 3 menusuk anus dira, sedangkan lelaki 1 pasrah dengan genjotan dira. Lelaki dua maju kedepan wajah dira dan dimasukannya kontolnya kedalam mulut dira. Tiga lubang dira telah tertutupi semua oleh kontol-kontol yang menurut batin dira adalah lebih kecil dari milik kekasihnya eko. Dira yang juga merupakan ahli beladiri, sudah pasti tahu bagaimana merapatkan otot-oto tubuhnya. Dengan cekatan tanpa basa-basi, vagina dira menjepit kontol milik lelaki satu. Anusnya pun merapat membuat keenakan lelaki 3 yang terus menggoyang kontolnya. Sedangkan lelaki 2 terasa sangat ngilu dibuatnya oleh sedotan dira.

“dasar lonthe, tempikmu enak banget… peret sempit! Dah krasa mau keluar aku” ucap lelaki 1

“aku juga bro… anusnya juga wuah enak tenan bro…” ucap lelaki 3

“bibirnya sensual bro… uenak tenan, aku mau keluar” ucap lelaki 2

“iih dasar, gini saja dah keluar, si eko mah setengah jam baru keluar” bathin dira

Dan crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot

Ketiga lelaki menumpahkan sperma ke dira, di tiga tempat yang berbeda….

“uughh… pejunya enak mas… anget di tempik, anus sama mulut mmmm….” ucap dira, yang langsung bangkit karena memang tidak mengalami orgasme

“ediyan…. aku KO, beneran lonthe hebat kamu mbak” ucap lelaki 2

“sini mas duduk sampingan biar dira bisa pijit punggung mas pake melon dira” ucap dira, tanpa ragu mereka duduk berjajar dan dira dibelakang mereka semua

Dira mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya dan…

Clek… clek… clek…

“argh apa-apan kamu arghhh…” ucap lelaki 3 yang pertama kali tertusuk sesuatu

“bro… arghhh…” ucap lelaki 1 yang terlambat menyadari

“weits… arghhh… sialan… arghhh….” ucap lelaki 2 yang sadar dan sempat menghindar tapi apa daya lawannya adalah ahli bela diri, sehebat apapun menghindar tetap saja terkena pukulan dan tendangan dari dira dan akhirnya tertusuk juga

“dah masuk… dah beres…” ucap dira ke dalam mikropon, dan semua orang yang berada di dalam taksi tersebut tersenyum mendengar ucapan dira

(sudut pandang orang ketiga selesai)

Aku dan ketiga koplak langsung keluar dari taksi menuju ke rumah itu. Dengan sedikit berlari akhirnya kami sudah sampai di belakang pintu gerbang. Kami mendapati dira yang sedang membersihkan cairan di vagina buatannya dan juga anusnya, bagian susunya masih terbuka lebar karena kemben yang menutupi payudara sintetis itu belum dinaikan oleh dira.

“edan kamu dir, hampir saja aku ngocok tadi di bagasi” ucap dewo

“iiih ngocok, sini kalau mau ngrasain” ucap dira

“gundulmu! aku masih normal dir…” balas dewio

“kamu cocok dir kalau dimasukan ke dalam cerita panas, nanti tak buatkan cerita tentang lelaki bervagina, gimana dir? Nanti aku masukan ke forum semprot.com” ucap anton

“weh jangan, ntar cerita ini ndak kelar-kelar susah kita” ucap wongso

“benar juga, sudah biarkan dira bersih-bersih dulu… masalah cerita panas, kita bahas nanti. Ini masalah eri bro…” ucapku,

“eh iya sampai kelupaan, tapi siip… semoga racun dalam suntikan itu bisa ampuh dan tahan lama” ucap anton

“iiih kalian bisanya sap sip aja, hati dira sakit tahu, kalau eko tahu gimana coba hiks” ucap dira yang sok gaya

“lah, kan aku nyuruh kamu nggoda saja ndak sampe kenthu” ucap anton

“hi hi hi kelepasan sih, orangnya gede-gede sapa tahu kontolnya lebih besar dari eko, eh tahunya colokan kabel hi hi hi” ucap dira

“edan kamu dir… eh Dir tadi kok bisa nambah satu lagi” ucap anton,

“tuh masnya yang satu itu sms ke dalam, ya ketambahan pemain deh. Sensasi JAVnya dapet banget hi hi hi” ucap dira sambil menaikan kembennya

“edan… melon sintetis menggairahkan” ucap dewo

“iya ya kok bisa ya?” ucap wongso

“itu kamu masuki melon dir?” ucapku

“silikon bodoh… makanya besok, asmi, dewi, anti dan juga pacara baru kamu siapa namanya? Dian ya? suruh operasi kaya akyu… hi hi hi” ucap dira

“ndak usah kali…” ucap kami pelan secara bersamaan

“dir, aku foto… kamu setengah telanjang cepetan” ucap anton

“iiih… kamu mau sebarin di semprot.com ya? ogah ah, ntar pada calling dira” ucap dira

“edan kamu dir, cepetan buat mancing yang didalam dodol”ucap anton

“iya… iya, gini ya?” ucap dira sambil menyibakkan rok ketatnya ke atas dan nungging sambil menoleh kebelakang

“siiipz…”

“Sekarang kita mendekat ke arah pintu rumah gedong (mewah) ini” ucap anton, entah anton sedang melakukan apa tapi yang jelas, anton memancaing seseorang keluar dari rumah itu dengan menggunakan foto dira.

Kami bergerak secara bersamaan, mengendap-endap perlahan ke arah pintu rumah yang jaraknya lumayan untuk main futsal. Sesuai instruksi anton, Sekarang kami sudah berada di samping pintu masuk rumah. Dengan tetap tenang kami berlima tetap berada disamping pintu masuk bagian luarnya. Pintu rumah ini tidak tertutup rapat mungkin saja ketika aku mendengar permainan dira tadi ada tambahan satu orang, lupa nutup pintu mungkin. Kemudian…

“sialan itu orang dapat barang bagus saja bro” ucap seorang lelaki (lelaki 4)dari dalam rumah menuju keluar tampak sekali dia sedang bercakap dengan seseorang. Berarti benar anton mengrim foto dira.

“iya, kita dapat sisa ini” ucap seorang lelaki lagi (lelaki 5)

Kleeek… trap… trap… trap… tanpa memperhatikan kanan dan kirinya langsung saja kedua lelaki yang sudah terbakar oleh foto dira langsung melangkah maju

Set… set… set… aku dan dewo memiting dua orang ini.

“kalau you bergerak you mati!” ucap dewo berbisik dengan gaya bicara yang diubah

“ente juga, gerak berarti mati!” ucapku

“berapa orang yang ada didalam” ucap anton

“delapan orang egh… tolong ampuni kami…” ucap lelaki 4 yang aku piting. Kenapa jadi 8 orang?

“benar ada delapan orang…” ucap lelaki 5 yang dipiting dewo

“katakan posisi mereka” ucap anton

“dua orang di ruang tengah, dua orang ada di sekitar kolam renang dan dua orang menjaga bos…” ucap lelaki 4

“yang kamu sebutin masih tujuh bodoh!” ucap wongso

“yang satu nona sedang menari dipinggir kolam renang” ucap lelaki 5

“arghhhh…. “ ucap lelaki 4 dan 5 bersamaan dan jatuh karena suntikan dari anton dan dira

“dir… kamu nanti matikan lampu, jaga saklar tunggu aba-aba dariku” ucap anton

“iiih gantian beraksi, dira dilupain tapi ndak papa deh, yang dua ini kontolnya besar ndak ya?” ucap dira dengan santai menarik dua orang tersebut ke arah meteran listrik yang berada tak jauh dari pintu rumah

“ayo cepat masuk, mikrophone disiapkan!” ucap anton

Malam semakin larut, aku semakin khawatir dengan keadaan eri. Argh… sialan kenapa juga harus mellibatkan banyak orang seperti ini. rembulan malam yang tidak sempurna tapi sudah bisa memperlihatkan cahaya terangnya mulai menemani langkah kami. aku, wongso, dewo dan anton yang berada didepan kami memipin langkah kami. dengan mengendap-endap kami sudah memasuki ruang tamu. Terlihat dua orang lelaki yang tampak sedang mengelus-elus selangkanganya melihat kearah kolam renang dari kaca-kaca transparan yang menghubungkan ruang tengah dengan kolam renang. Terdengar percakapan mereka.

“gila bro… bodinya masih ketutup aja dah bagus kaya gitu bro… aseeeek… dapat sisa pun ndak masalah nih bro ha ha ha” ucap seorang lelaki (lelaki 6)

“aku juga bro, pengen aku sumpal itu bibir seksinya dengan kontolku… udah cantik, manis, seksi lagi ndak rugi tuh si bos nggedein anaknya ha ha ha” ucap seorang lelaki lagi (lelaki 7)

“dir… matikan lampu” ucap pelan anton ke arah mikrophone

Pet….

“ah sialanmati lampu!” ucap lelaki 6

“biarkan saja yang diluar yang ngurusi, toh disana juga rameeeeeehhhhh ughhhhhh…” ucap lelaki 7 menimpali yang kemudian jatuh karena tusukan jarum suntik anton

“heh bro… HAH, siap ughhhhhhh” lelaki 7 jatuh tersungkur

“tarik mereka kedalam kita kembali keposisi” ucap anton, menyuru kami kembali ke ruang tamu yang keadaannya lebih gelap

“CEPAT NYALAKAN LAMPUNYA!” teriak seseorang yang tak asing lagi si aspal

Selang beberapa saat kemudian terdengar langkah kaki mendekati memasuki rumah dari pintu belakang yang menghubungkan rumah dan kolam renang. Kami diuntungkan oleh cahaya rembulan, tempat kami gelap karena cahaya rembulan masuk dari kaca-kaca. Tampak dua orang lelaki yang masuk kedalam secara bersamaan dan berjalan ke arah ruang tamu. Cahaya rembulan yang menembus kaca dibagian belakang mereka membuat kami bisa mengawasi gerak-gerik mereka. semakin mereka mendekat kearah ruang tamu, semakin kami bersembunyi ke dalam. Dua orag lelaki itu sangat santai dalam melewati ruang tamu tanpa mengetahui keberadaan kami. tepat ketika mereka berdua berada di ambang pintu dan hendak membuka pintu, dengan sigap anton menancapkan dua buah suntikan ke punggung dua lelaki tersebut.

“arghh…” dua orang lelaki jatuh tersungkur, sebut saja lelaki 8 dan 9

“5 diluar, 4 didalam berarti tinggal empat orang plus si eri” ucap anton

Klek… klek… klekk…

“eh nton apaan tuh?” ucap wongso

“kontol, ya jelas senapan laras panjang” ucap anton

“dimana kamu nyimpennya, kan ndak bawa tas?” ucap dewo

“kamu masukin ke anus kamu nton?” ucapku

“gundulmu! Ini bisa ditekuk-tekuk tak masukan ke punggung dodol! Dah diem saja kalian… ayo ikuti aku” ucap anton

Kami berempat melangkah mendekati kaca-kaca yang menghubungkan ruang tengah. Mataku terbelalak ketika melihat keindahan tubuh eri yang sudah telanjang, dengan dua buah susu yang menggantung indah, masih sekal layaknya perawan. Ah… memang sempurna tubuhnya tapi kalau diingat-ingat lagi, eri dan rani memang memiliki kelebihan pada bodi tapi wajah oke juga. Kami berjarak kurang lebih satu meter dari kaca itu agar tidak terllihat dari luar, anton dengan senapan laras panjangnya membuka sedikit kaca, mengarahkan moncong senapan ke arah dua orang lelaki yang membelakangi kami. ya, ditengahnya ada seorang yang biasa aku sebut aspal dan seorang wanita yang sedang menari dengan air mata mengalir itu adalah eri.

Slugh…

slugh…

Dua kali suara pelan tembakan yang terdengar lirih dengan jarak waktu beberapa detik, karena aku melihat anton harus memasukan kembali peluru kedalam senapan itu. Dua orang terjatuh, si aspal kemudian berdiri dengan tubuh hanya bertutupkan celana dalam itu. Dia sangat kebingungan berteriak-teriak memanggil anak buahnya, kulihat eri terduduk bersimpuh dengan tubuh bugilnya. Tangisnya terdengar walau suara ayahnya lebih keras dari tangisnya. Tanpa berpikir panjang aku berlari ke arah kolam renang, aspal menyadari kehadiranku dan langsung mengambil pistol yang ada di meja dekat dengan kursi yang dia duduki. Dengan cepat dia mendekati eri dan menarik eri kearahnya. Dipeluknya leher eri dari belakang dan mengarahkan moncong pistol kepelipis eri.

“Siapa kalian?!” teriak aspal, jelas dia tidak mengenalliku karena penyamaranku. Aku terhenti sejenak karena kecerobohanku mendekat terlebih dahulu.

“Lepaskan dia…” ucapku berdiri dengan dewo dan wongso yang berada di tangga

“Apa mau kalian?” ucap aspal

“Dia, wanita itu berikan pada kami… kamu bisa mencari yang lain yang lebih darinya” ucap wongso aku berdiri dengan kaki sedikit gemetar lihat eri dalam ambang kematian, air matanya deras mengalir

“ha ha ha… aku bukan orang bodoh, yang dengan mudah kalian bohongi!… lebih baik kalian mati dulu saja” ucap aspal

“bodoh… kamu itu sendiri, sedangkan anak buahmu sudah mati semua! Mau apa kamu dengan pistol itu? kalaupun kamu menembak satu diantara kami jelas dua orang diantara kami akan bergerak menghajarmu, paling tidak satuorang diantara kami bisa membunuhmu” ucap wongso

“apa? Tidak mungkin! Kalianlah yang akan ma… argh!” ucapnya terpotong berbarengan dengan suara tembakan

Dhuar… klak… sreeeek… pistol terjatuh dari tangan aspal

“arghh…” rintih aspal ketika tangan yang mengacungkan tangan ke arah ku ditembak oleh anton

“arghhh… dasar perempuan jalang!” ucap aspal ketika tangan kirinya digigit oleh Eri.

Eri terlepas dari cengkraman aspal, dengan tubuh telanjangnya Eri berlari dia sembari mengambil pistol Aspal yang terjatuh. Dia langsung memelukku dan aku pun memeluknya dengan tujuan untuk menutupi tubuh telanjangnya.

“sudah dibilangin kalau kamu itu sendirian masih saja berlagak” ucap dewo

“sekarang kamu mau ngapain, sekali saja kamu teriak… MATI!” ucap wongso

“ayolah aku hanya bercanda tadi, kalian ingin uang? Aku ada banyak… akan aku berika ke kalian semua asal lepaskan aku. Kalau kalian ingin anakku itu silahkan nikmati tubuhnya… ayolah, kita bisa buat deal-kan? Kita bisa berbisnis kawan…” ucap aspal yang nampak kesakitan karena tangannya tertembak

“siapa bilang kita butuh uang dan wanita? Kami sudah punya semuanya” ucapku

“orang kaya kamu kasih uang buat apa?” ucap wongso

“mungkin lebih baik kita bius dia dan kita masukan ke dalam penjara saja daripada banyak bicara…” ucap anton yang muncul dari belakang dewo dan wongso sambil menenteng senapan anginnya

“tidak hiks hiks hiks… erghh….” ucap Eri yang berada dalam pelukanku

“er, kita bisa pergi biar lelaki ini masuk dalam penjara saja, nanti akan ada yang bisa mengurus…” ucapku

“kakak… hiks hiks hiks…” ucap eri tersenyum dan terisak kearahku

Eri melepaskan pelukannya dan berbalik, kini dia membelakangiku…

“Halooo ayah apa kabar? Baikkah ayah? Lihat ayah ingin ini ya? apa yang ini ayah?” ucap eri sambil menunjukan meremas buah dada kirinya, dan kemudian mengelus bagian vaginanya. Tangan kanannya masih erat memegang pistol ayahnya si aspal.

“Eri… maafkan ayah nak, ayah janji akan memperlakukanmu dengan baik” ucap aspal

“Lho ayah kok gitu, lihat yah… ayah pernah bilang kan sama anak ayah ini kan? ‘Eri kamu itu aku besarkan untuk aku nikmati tubuhkamu’ begitu kan kata ayah?” ucap eri

“eh… itu hanya bercanda sayang… sudah jangan diambil hati sayang…” ucap aspal

“lho, berari ayah beneran ndak mau ini? lihat ayah, ini kan juga hasil kerja keras ayah. Menyuruhku perawatan setiap minggu, biar kulit mulus, payudara besar, bokong juga kencang, lihat nih yah yang selalu ayah omongin, sekarang menggantung indah ayah tidak mau?” ucap Eri, tiga hanya bisa memandang dari belakang tubuh eri, sedangkan aku yang berada tepat di belakang eri benar-benar bisa melihat gerak-gerik eri.

“sayaaang… sudah sayang, ayah ndak mau kok sayang… sayang kan anak ayah yang baik” ucap aspal

“oh iya eri kan anak yang baik, yang selalu bantu ayah, tidak boleh buka-bukaan kan yah? Sekarang Eri buka untuk ayah.. kok ayah kelihatan sedih? Tadi Eri kan sudah nari, terus telanjang ini masih telanjang yah… ayah senyum dong…” ucap Eri, sambil kedua tanganya memegang pistol dan diarahkannya ke Aspal

“eri sayang maafkan ayah ya…”

“kawan-kawan ayolah kita bisa buat deal, kita bisakan berunding” lanjut aspal ke arah kami

“Er… sudah er, biarkan polisi yang mengurus dia” ucap Anton

“Sudah hentikan saja…” ucapku lirih

“Kak…” ucap eri

“hmm…” jawabku

“kakak sayang eri kan?” ucap eri, moncong pistolnya diturunkan

“iya… kan eri adik kakak…” ucapku

“kalau sayang eri, kakak dan teman-teman kakak diam” ucap eri, langsung saja membuatku terdiam dan juga yang lain

“Eh Ayah, maaf ya yah eri nyuekin ayah, padahal eri anak yang baik ndak boleh nyuekin ayahnya… eh ayah masih ingat ndak dengan yang namanya… emmm siapa ya, pokoknya dia itu cewek terus ayah itu suka banget narik rambut sama nampar cewek itu, namanya Rika Widiastuti ayah. Ayah ingat ndak? Itu kan juga ada dinamaku lho yah, namaku kan Eri Rika Widiastuti. Ayo yah ingat tidak?” ucap eri yang kemudian mengarahkan moncong pistolnya kembali ke arah ayahnya, Aspal

“Eh… Eri iya ayah tahu ayah salah, tapi ayah mohon maafkan ayah eri… ya, waktu itu kan ayah sedang eh eh mabuk, jadi waktu itu ayah khilaf…” ucap aspal

Dhuarrrrr… tubuh eri terdorong kebelakag dan langsung aku tangkap tubuhnya, eri kemudian berdiri kembali. Jika dilihat dari arah moncong pistol di awal, seharusnya mengenai kepala tapi kaki dari aspal terkena. Memang sulit jika belum pernah memegang pistol.

“argh Eri ampuuuun sayang ampun jangan bunuh ayah, kamu bisa memiliki semuanya…” ucap aspal

“khilaf ya yah? Berarti sebelum-sebelumnya hingga akhirnya Ibu meninggal, itu juga khilaf? Mmm… setahuku khilaf itu sekali yah… dan selanjutnya memang disengaja…” ucap eri yang kini posisinya sudah benar-benar emosi, pistol yang dipegangnya di arahkan ke kepala aspal

“ampun sayang maafkan ayah… hiks hiks” ucap aspal sambil menangis

“Er, sudah hentikan… anton, kalau dia mati kita tidak memiliki cukup informasi”

“cat hentikan Eri…” ucap anton

“Er… sudah hentikan, kita masih butuh di…” ucapku terpotong

“kak… lebih baik eri nyusul ibu daripada melihat lelaki ganteng didepan Eri ini masih hidup..” ucap eri, aku menoleh ke arah anton dan yang lainnya. Bahu mereka bertiga kelihatan kompak naik keatas. Aku berbalik memandang tubuh belakang eri yang telanjang.

“Ayah…” ucap Eri

“ampun sayang ampuni ayah… ampuuuuun…” ucap aspal

“masih ingatkah juga sama bibi Wiwid? Dia juga bernasib sama seperti Ibu, padahal dia hanya pembantu yang mencoba mempertahankan harga dirinya” ucap Eri

“ampun sayang ampuni ayah… ampuuuuun… tolong sayang ampuni ayah” ucap aspal

“ini untuk mereka berdua…” ucap eri

Dhuarrr….

Sebuah peluru panas tepat masuk kedalam kening aspal, matanya terbelalak tubunhnya jatuh kebelakang. Aku melihat kesamping kematian salah satu dari komplotan ayah. Aku berjalan mengambil pakaian Eri, aku melangkah mendekati eri yang menangis sesengukan. Ku tutupi tubuhnya walau tidak sepenuhnya tertutup. Tanganya turun, pistol terjatuh.

“kakak… hiks hiks hiks dia yang telah membunuh Ibu dan Bibi, dia yang selama ini menyiksa mereka berdua begitu juga eri kak… hiks hiks hiks aku benci dia, sangat benci dia kak” ucap eri yang tubuhnya bersandar ketubuhku, eri kemudian berbalik dan memelukku

“sudah, semuanya sudah selesai… kamu akan selamat bersama kakak dan teman-teman kakak” ucapku lirih

“Bro… kita ikat mereka dulu… nanti kita hubungi polisi, kita selesaikan secepatnya”

“Cat, segera bawa Eri pergi” ucap Anton

“Ayo Er…” ucapku dan dijawab anggukan oleh Eri

Kriiing… Kriiing… Kriiing ringtone sebuah sematpon di kursi yang tadi diduduki oleh Aspal. Sambil menjaga langkah eri, aku dekati dan amati. Nomor Ayah, tak kuangkat tapi aku tetap membawa sematpon itu. lampu rumah kemudian menyala, ku dapati koplak sedang mengikat anak buah yang terkena suntikan bius. Aku antar eri ke kamar, tak ada percakapan antara kami berdua.

“Kak, kakak disini saja eri takut hiks hiks” ucap eri

“lha kan eri mau ganti baju” ucapku

“kakak sudah lihat kenapa eri malu, sudah pokoknya kakak disini, eri masih takut” ucapnya

Aku menunggunya berdiri dan membelakanginya, selang beberapa saat eri sudah selesai. Eri sudah memakai kerudungnya dan Kemudian dia mengemasi semua barang-barangnya yang dinilai cukup penting baginya. Penting? Tapi kalau dilihat dari isi kamarnya tampak bersih semua, dengan senyum manjanya eri menyerahkan aku dua tas koper besar.

“gila!” bathinku

“semuanya penting kak, jadi ndak ada yang eri tinggal” ucap eri

“hadeeeeh…” ucapku

Aku dan eri keluar dari kamar, malah ditertawakan oleh para koplak mengenai apa yang aku bawa. Dua tas koper yang sangat besar, seakan-akan mau pindah. Wongso kemudian membantuku membawa, kami kemudian keluar dan dira sedanng asyik mainan kontol penjaga aspal yang terkulai pingsan. Anton dan dewo kemudian membantu dira mengikat bawahan aspal, sejenak aku menjelaskan ke Eri mengenai siapa dira. Setelah semuanya beres, kami dijemput oleh taksi pak wan. Eri didepan dan kami berempat dibelakang, sedangkan dewo asyik tiduran sambil merokok di bagasi. Eri nampak tersenyum ketika dira mulai menakali kami bertiga. Bahkan eri tak sungkan-sungkan untuk menyentuh payudara dira dalam perjalanan menuju pos satpam.

“aku manggilnya mbak apa kak nih?” ucap eri

“ya mbak ding masa kak? Kak kan buat cowok, akyu cewek” ucap dira

“ih, gede banget mbak” ucap eri sambil meremas susu dira

“iiih mbak mau lesbian sama akyu, ndak papa sih… akyu juga mau kok kalau sama cewek daripada cowok-cowok kaya gini, jantan tapi ndak ada yang berani” ucap dira

“WEGAH! (NDAK MAU!) kamu cewek jadi-jadian” teriak kami bertiga yang membuat kami tertawa terbahak-bahak, tawa canda kami hingga pos satpam

“Mas, pokoknya atur bagaimana caranya mas tidak tahu apa-apa, okay?” ucap pak wan

“inggih pak, niku mawon CCTV pun kulo risak, kagem alasan yen menawi mangkih di takeni kalihan polisi (iya pak, itu saja CCTV suda saya rusak, untuk alasan kalau saja nanti ditanya oleh polisi)” ucap satpam

“Sip mas” ucap kami semua

Dok dok dok dok….

“Den wicak… den wicak….” teriak seorang satpam, aku membuka kaca taksi belakang. Dengan cepat setalah kaca mobil terbuka, tanganku ditarik oleh mereka

“Akhirnya saya bisa salim sama turunannya Ndoro Wicak” ucap satpam itu dan kemudian satu satpam juga mengambil inisiatif yang sama

“walah mas sudah, mas… yang hebat itu kakek saya bukan saya” ucapku, tapi mereka hanya tersenyum

“pokoke atos-atos gih den, kawulo siap ngrewangi aden (pokoknya hati-hati ya den, kami siap membantu aden)” ucap mereka berdua

“terima kasih mas, saya ndak bakal lupa sama kalian” ucapku

Setelah basa-basi sebentar, taksi kembali berjalan menuju motor yang kami parkir. Sebenarnya motor itu disediakan jika terjadi kejar mengejar lagi, tapi karena ini tidak ada ditambah bawaan Eri yang sangat banyak akhirnya aku tetap bersama pak wan. Aku kemudian menelepon tante asih.

“halo…”

“tante, ni arya, mau nitip lagi”

“nitip apaan”

“Eri…”

“dasar, kamu habis! ERGH! Kamu ndak papa?”

“ndak papa, tenang saja tan”

“ya sudah langsung antar kerumah saja, kunci rumah ada di pot depan gerbang, dibawahnya pot ya… om kamu sama adik-adik kamu sedang dirumah kakek kamu bareng sama ayah tante (adik kakek) sekarang ini”

“iya tan, makasih”

“biarkan eri didalam rumah jagan suruh keluar, untuk malam ini tante tidak bisa menemani eri, karena tante nanti pulangnya ke rumah kakek”

“Iya tan” tuuuut

Aku menutup telepon dan kemudian berbicara sebentar kepada koplak. Diputuskan Dewo dan Dira kembali warung wongso sedangkan anton dan wongso dengan dua kendaraan mengikuti taksi menuju rumah tante asih. Perjalanan, Sesekali Eri memandangku kebelakang, dan aku tersenyum kepadanya. Sesampainya dirumah tante asih, aku mengambil kunci rumah tante asih. Setelah barang-barang eri dikeluarkan, Pak wan kemudian pamit terlebih dahulu karena sudah sangat lelah, dan selalu berpesan agar besok lebih berhati-hati lagi dan tidak gegabah. Anton kemudian memasukan satu motor ditinggalkan untukku.

“Aku tunggu dirumah wongso, oh ya sematponya kamu bawakan… mau kamu pegang atau aku saja?” ucap anton

“kamu saja nton” ucapku sambil menyerahkan sematpon milik aspal

“hei, jaga itu adik kamu, suruh dia bobo dulu sudah malam. Nanti kamu kerumahku, ada informasi penting” ucap wongso

“okay…” ucapku

“tapi ditungguin dulu itu adik kamu, informasinya masih bisa diundur 1 sampai dua jam jadi tenang saja. Lagian kita bakalan ngalong (begadang) malam ini” ucap anton

“yoi broooow…” ucapku

Anton dan wongso kemudian pergi meninggalkan aku dan eri. Setelah masuk ke dalam rumah, aku kirim BBM ke tante asih mengenai kamar yang dipakai oleh Eri, tante asih kemudian menjawab kamar tamu belakang. Aku antar Eri ke kamar tamu belakang. Sesampainya dikamar tamu, aku masukan semua koper.

“Kak…” ucap Eri

“iya…” jawabku sambil berbalik

Tiba-tiba Eri memelukku hingga ku terjatuh di kasur

“maafkan eri kak, Eri sudah memutuskan yang pertama adalah kakak…” ucapnya

“er… sudah, aku sudah ada Dian.. aku tidak ingin lagi melakukammmmmm….” ucapku tertutup oleh bibirnya

“Eri mohon kak, sekali saja kak… hanya untuk berterima kasih dan juga melepas semuanya kak, setelah ini Eri tidak akan minta lagi” ucap Eri

“tapi Er, aku tidak tega dengan kekasihku… sudahlah kamu menjadi adikku saja itu lebih dari cukup bagiku” balasku

“Eri sudah berjanji pada diri Eri, kalau kakak yang menyelamatkan aku… Eri akan meberikan Eri kepada kakak, jika Eri mengikari janji eri sendiri, lebih baik eri menyerahkan diri kepada mereka” ucap eri

“tapi er, dian er dian…” ucapku

“kak, mbak dian ndak bakalan tahu selama kakak ndak menceritakannya” ucap eri yang kemudian menciumku untuk kedua kalinya

“Hei…” ucapku sambil menatapnya tajam kedalam matanya, kedua tangaku dengan kasar memegang kepala yang masih berkerudung itu. Tatapan mata eri menjadi tatapan mata sedikit ketakutan akan wajahnya.

“Rino…” ucapku pelan

“Eh…” Eri tersentak ketika mendengar nama itu

Malam ini setelah semua petualangan dengan koplak dengan pimpinan anton telah selesai. Pak wan mengantar aku dan eri dengan taksinya, sedangkan anton dan wongso masing-masing menggunakan motor sendiri-sendiri. setelah sampai dirumah tante asih, anton memberikan motornya kepadaku dan dia pergi bersama wongso. Sedangkan aku mengantar eri kedalam dan coba menenangkan atas semua yang telah terjadi. Tapi terjad sesuatu yang mengejutkan tapi mau tidak mau aku harus bertahan, ada dian disana…

“Rino…” ucapku lirih

“Eh…” Eri tampak terkejut ketika mendengar nama itu

Tubuhnya beringsut turun dan terduduk di lantai bawah kasur. Dipeluknya kedua kaki yang tertekuk dan disembunyikannya wajah itu didalam pelukannya. Terdengar isak tangis dari dalam wajah yang terbenam itu. malam yang semakin larut, membuat isak tangisnya terdengar semakin jelas.

“Rino… hiks hiks hiks…”

“Maafkan aku ar… Eri janji hiks hiks hiks akan jadi adik yang baik hiks hiks hiks” ucapnya, aku beringsut dan duduk disampingya

“jadikan dia yang pertama, sejak KKN, dialah orang yang paling perhatian dengan kamu. dibandingkan dengan aku, aku hanya lelaki yang numpang mampir tidak pantas mendapatkan yang pertama dari kamu”

“Aku sudah memiliki tambatan hati, jadi aku mohon agar kamu bisa mengerti akan hal itu. aku sudah terlalu jauh saat itu dengannya, sekarang dia sudah berada didalam lingkaranku, aku tidak ingin dia jauh lagi. Aku tidak ingin melakukan kesalahan lagi, hanya itu…” ucapku, walau dalam bathinku selalu teringat akan kata-kata ibu ketika aku mencari dian

“maafkan aku hiks hiks hiks” ucapnya yang kemudian memelukku

“Kamu tahu Ar, dian sangat beruntung memilikimu hiks hiks hiks hiks” ucapnya

“Rino juga beruntung memilikimu, jangan pernah sekali-kali kamu melihat keindahan orang lain dan kemudian memandang keindahanmu berada di bawah mereka. karena kebahagiaan orang lain itu hanya sebatas pandangan saja. Karena yang menjalani hidup mereka bukan kita, jadi mungkin saja yang kita lihat tidak seperti yang mereka alami. Bersyukurlah atas kebahagianmu sendiri”

“jika kamu melihatku beruntung, itu sangat bodoh… kamu tahu sendiri bagaimana Ayahku… aku yakin rani telah bercerita banyak tentang aku dan Ayahku… haaaaah…” ucapku diakhiri desahan berbarengan dengan tubuhku yang bersandar pada kasur

“Ingatlah er, buatlah kebahagiaanmu sendiri dengan rino. Karena aku yakin dia telah banyak berkorban seperti halnya anta kepada rani. Bersembunyilah dan aku akan menyelesaikan semuanya bersama sahabat-sahabatku. Dan ingat jangan pernah bertindak bodoh, jika kamu ingin rino yang pertama maka kamu harus menjaganya. Aku tahu rino pasti juga akan memberikan yang pertama kepada kamu” ucapku

“Maafkan eri… maafkan eri hiks hiks hiks hiks hiks…” ucapnya

“Ar hiks hiks…” ucapnya kembali

“ya…” ucapku sambil mengelus-elus kepalanya

“apakah eri masih bisa jadi adik kamu? hiks hiks hisk” ucapnya lirih

“tentu adik manis, Ibuku pasti senang karena aku memiliki banyak adik. Ibuku juga ingin punya anak cewek lho…” ucapku, dia tersenyum dan kemudian memelukku

“terima kasih kakak, terima kasih… tapi aku ingin panggil kamu mamas saja ya” ucapnya

“eh… terserah deh, asal jangan panggil om saja nanti dikira om-om gatel he he he” candaku

“he’em makasih mamasku yang ganteng…” ucapnya

“mamas, jangan bilang sama rino atas kejadian malam ini ya, eri jadi malu kalau inget…” ucapnya

“ya ndak lah, rino kan sahabat mamas” ucapku

Dalam hening aku memeluknya sebagai seorang adik tentunya, dan akan kuceritakan semua kepada dian. Dialah sekarang pelabuhan terakhirku, dan dipelabuhan itulah aku akan mendirikan sebuah bangunan-bangunan permanen dan menetap didalamnya. Tak ingin lagi aku berlayar, tapi semua itu tergantung pada ibu. ahhh…. ibu, aku harap aku bisa menyelesaikannya agar semuanya segera berakhir.

“mamas…” ucapnya kembali memecah keheningan

“hemmmm….” balasku

“jika bertemu dengan rino, katakan pada dia aku baik-baik saja. Terakhir kali dia bertemu denganku, dia dihajar oleh anak buah ayah. Eri yakin rino adalah laki-laki yang baik, tapi eri tidak tahu setelah kejadian itu apakah rino masih memiliki perasaan yang sama pada eri. Karena eri sempat marah-marah ke rino waktu itu” ucapnya

“ouwh… kenapa tidak ditelepon dan bercerita sebenarnya?” ucapku

“eri malu mamaaaaas…” ucapnya

“ya deh, besok tak carinya anak itu” ucapku

“ya sudah, mamas mau ketemu sama teman-teman mamas dulu ya?” ucapku

“mamas, hati-hati…” ucapku

Eri kemudian aku beri nomor tante asih agar dia bisa menghubunginya. Dan aku berpesan kepada eri untuk tidak keluar rumah apapun yang terjadi sampai tante asih datang dan mengantar eri ke tempat rani. Hingga didepan pintu ketika aku membuka pintu rumah…

“mamas… tunggu eri ingat sesuatu” ucapnya

“eh, apa?” ucapku

“Apakah yang mamas tahu yang bernama pak warno?” ucapnya

“eh… itu kakek aku, apa yang kamu ingat? Cepat katakn” ucapku mendekatinya dan memegang kedua lengannya sambil menggoyang tubuhnya

“eh… iya mamas, sebentar kalau digoyang gini eri ndak bisa cerita” ucapnya

“eh maaf, sekarang ceritalah…” ucapku

“waktu itu, eri mendengar percakapan bajingan itu dengan seseorng ditelepon ketika eri disekap dirumah yang eri tidak tahu itu dimana….

“begitu mas ceritanya” ucap eri, aku geram, aku marah kupukul tembok-tembok yang berada di sampingku

“mamas, maafkan eri kalau eri salah ngomong” ucapnya

“oh tidak, tidak, mamas malah berterima kasih akan informasinya” ucapku

“lebih baik mamas sekarang memberitahu kakek mamas” ucapnya

Benar apa yang dikatakan oleh Eri…

“iya mamas, pamit dulu dan ingat jangan pernah keluar rumah karena bisa jadi mereka mencarimu. Pastikan semuanya dalam keadaan aman bagimu, tunggu tante asih, ingat didalam rumah saja! Dan ingat satu hal lagi, selama kondisi belum aman jangan pernah terbuai dengan keinginan ketemu dengan rino karena itu akan membahayakan kalian berdua, jika nanti rino hubungi kamu atau bagaimana kamu harus tetap menjaga diri kamu aman sampai mamas memberikan informasi kalau suasana sudah aman” ucapku tegas

“siap mamas” ucapnya yang langsung memeluku

“salim dulu mamas” ucapnya meraih tanganku dan mencium punggung tanganku

“kamu itu ada-ada saja he he he” balasku

Segera aku mengeluarkan motorku dan menutupnya kembali tanpa ditemani eri. Kunci aku kembalikan ke tempat semula sehingga semuanya tampak rapi. Aku pacu motorku ke jalanan menuju waurng wongso, tak ada penghalang malam ini. semua jalan tampak kosong sekali sehingga bisa dengan mudah aku menerobos semua jalanan. Hingga akhirnya aku sampai di warung wongso yang sudah sangat tertutup rapi tapi didepan rumah wongsoa yang terletak di belakang warungnya tampak ada bayangan lima orang disana. Aku heran kenapa bisa tambah satu orang lagi, padahal tadi kalau tidak salah kami beraksi hanya belima dan yang pulang juga empat orang. kenapa jadi 5? Aku segera parkir motorku dan berjalan kearah rumah wongso, tiba-tiba satu bayangan bergerak dengan cepat menghampiriku dan ketika orang itu terkena sinar rembulan yang redup baru aku tahu dia adalah….

“Ar, bagaimana keadaan Eri ar? Tolong katakan kepadaku…” ucap lelaki yang memegang kedua bahuku dan menggoyangnya

“ew ew ew ew ew ew ew” ucapku mengucapkan kata-kata ew setiap kali dia menggoyang tubuhku

“jangan bercanda ar, aku mohon… hiks hiks hiks” ucapnya

“sialan lho no, bagaimana aku mau ngomong kalau terus kamu goyang… kampret!” bentakku

“eh maaf ar, aku hanya khawatir dengan Eri” ucap rino

“dah kita kesana dulu, nanti aku ceritakan semuanya” ucapku sambil merangkul rino dengan wajah sangat khawatir

“cat itu temen lo dikasih obat bius saja dari tadi nangis terus nggak ketulungn nunggu kamu ha ha ha” ucap wongso

Kleeeeek….

“maaas… kalau begadang jangan malam-malam, atau huh” ucap asmi dari balik pintu yang baru terbuka dengan mengacungkan kepalan tangan ke arah wongso

“iya dinda, Cuma sebentar kok… nanti akan kakaknda usir koplak ya” ucap wongso kepada asmi, dengan wajah cemberutnya asmi masuk lagi kedalam rumah wongso

“Asu… koyok pitik ae digusah (Anjing kaya ayam saja di usir)” ucap dewo, kami semua tersenyum

Aku akhirnya duduk bersama koplak, sedangkan rino bersamaku dan dia masih saja khawatir

“kalian ketemu dimana?” ucapku kepada koplak

“waktu tadi habis nganter kamu, aku beli rokok sama wongso cat, pas lagi ngobrolin kamu sama eri eh… nih orang langsung nyambung dan malah sujud-sujud pakai nangis segala… kampret!” ucap anton

“ha ha ha ha… emang bener gitu no?” ucapku, rino hanya mengangguk

“Sudah, Eri dalam keadaan aman, dia juga menanyakan kamu…” ucapku

“benarkah erghhh…” ucapnya terpotong karena kaosnya depanya langsung aku cincing

“denger no, eri dalam bahaya dan juga kami semua. Kamu boleh hubungi dia, boleh telepon dia tapi ingat jangan pernah menunjukan ekspresi bahagia diluar sana. Karena aku yakin sudah merasakan bagaimana dihajar oleh bodyguard eri kan?” ucapku dan rino mengangguk dengan ketakutan

“sebelum aku mengijinkan kamu bertemu dengannya. Kamu boleh telepon, dan ketika kamu keluar kamu harus tetap merasa sedih. Itu demi kebaikan eri dan kamu, sekali saja kamu memperlihatkan ekspresi bahagia, yang aku takutkan hanya satu…. kamu dan eri mati bersama” ucapku, wajah rino semakin ketakutan

“eri ditempat yang aman, kamu bisa menghubunginya dan jika ada orang yang menanyaimu katakan saja kamu sudah tidak ingin berususan lagi dengan eri. Setiap kali kamu menghubunginya, langsung hapus semua pesan ataupun histori di hape kamu. kamu bisa?” ucapku

“bisa ar, aku yakin pasti bisa. Selama aku bisa bersama eri di akhir cerita hidupku” ucapnya

“okay, aku akan ijinkan eri menerima teleponmu tapi ingat jangan pernah membawa bahaya untuk kalian berdua. Bersikaplah seakan kamu tidak bisa menemukannya, bisa?” ucapku

“bisa ar… “ ucapnya kemudian aku melepaskan bajunya yang aku tarik ke atas

“kamu galak banget ternyata ar…” ucapnya

“widiiiiih ternyata kakak angkat eri galak juga ha ha ha” ucap dewo

“ini masalah nyawa no” ucapku

“aku bersyukur Eri baik-baik saja… jadi eri sekarang jadi adik angkat kamu ar?” ucap rino

“ya begitulah, kalau kamu sekali saja main-main sama eri… kamu akan berurusan denganku” ucapku dengan senyum jahat

“ndak Cuma dia lho mas sama kita-kita juga ha ha ha ha” ucap dewo yang tertawa seperti penjahat

“eh.. aku bersyukur bisa KKN bersama kamu dan Eri, seandainya saja KKN Eri tidak bersama kamu dan hanya aku saja, mungkin tidak akan ada titik terang dari perasaanku kepadanya” ucap Rino

“everything’s gonna be fine, as long as you can keep your love for a while” ucapku

“iya, ar dan mas-masnya teman arya terima kasih banyak…” ucap rino berdiri dan membungkuk ke arah kami

“woi… santai kenapa? ndak usah terlalu formal” ucap anton

“wah belum pernah hidup dijalan ini orang” ucap dewo

“sudah-sudah namanya juga mahasiswa teladan, tul ga no?” ucapku

“eh… bukannya begitu, aku hanya mengungkapkan rasa terima kasihku” ucap rino

“dah yang penting kamyu jaga diri ya sayang” ucap dira yang sedang bersolek dengan kaca di tangannya

Kami semua memananng rino dengan senyuman, rino pun tersenyum seakan mengerti maksud kami.

“ar, mungkin aku akan pulang kerumah terlebih dahulu sembari menunggu kabar darimu. Aku akan mengikuti arahan dari anta” ucap rino

“eh… anta, oia gimana kabar dia?” ucapku

“anta, sebenarnya terpukul ketika dia diharuskan menjauh. Dia bernasib sama denganku yang dihajar oleh body guard perempuan yang kami cintai. Tapi selang beberapa hari, rani menelepon anta dan menjelaskan semuanya. Dan rani kemudian menyuruh anta agar bersikap biasa-biasa saja, rani cinta anta, ar. Anta bercerita kepadaku mengenai rani yang diselamatkan seseorang tapi dia tik tahu siapa orang itu, dan malam ini aku tahu bahwa itu kamu ar”

“aku akan pulang kampung seperti halnya anta, aku dan anta sadar kalau ada bahaya dibelakang kedua perempuan yang kami cintai. Anta hanya mendapat informasi dari rani agar menunggu kabar selanjutnya jika situasi ama”Ucap rino

“begitu saja, kamu pulang kampung saja, pura-pura patah hati” ucap wongso

“iiih jangan patah hati sama dira saja gimana? Hi hi hi” ucap dira

“he’e dira nganggur tuh” ucap dewo

“oh lha gondes, ojo ndul! (oh lha gondes, jangan ndul)” ucap anton

“iiih anton nyebelin deh, lumayan tuh kelihatanya barangnya gedhe ndak seperti tadi tubuhnya aja yang gedhe, barangnya segedhe sosis siap saji uuh” ucap dira

“rasa ayam apa sapi dir?” ucap dewo diakhiri gelak tawa kami

“ya sudah, kamu sekarang pulang saja no. Dan selalu ingat pesanku, jika kamu ingin bersama Eri, jaga perasaanmu dan sekali saja kamu menyakiti eri…” ucapku kemudian diam sejenak melihat koplak

“TAK HAJAR KOWE (TAK HAJAR KAMU!)” ucap kami bersamaan

“eh… iya… iya jangan galak-galak gitu” ucap rino ketakutan

Perbincangan dengan rino pun selesai, dia kemudian ijin untuk pulang ke kos dan mempersiapkan diri untuk kepulangannya kerumah besok. Dalam bathinku aku bersyukur memiliki adik Eri dan calon adik ipar rino, karena jika dilihat dari sudut pandangku rino cukup baik untuk Eri. Selepas kepergian Rino, suasana menjadi hening kembali. Tak ada percakapan diantara kami, semua menunggu aku untuk berbicara. Satu batang dunhill aku sulut dan…

“Mereka akan membantai keluargaku setelah pertemuan besar di bulan kedua yang aku tidak tahu kapan itu” ucapku, mereka terdiam sejenak

“bagaimana setelah kejadian malam ini mereka akhirnya melakukan tindakan brutal” ucap wongso

“aku tidak tahu…. kematian aspal belum mereka ketahui… arghhhhhhh aku benar-benar bingung bro…” ucapku

“Ar, peretemuannya bulan kedua pada hari ketiga belas” ucap anton

“eh…” kami terkejut dan melihat anton

“kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa tahu kan?” ucap anton, kami semua mengagguk

“dasar koplak, aku pegang sematpon aspal, nih” ucap anton memperlihatkan sematpon sungsang

“jika dlihat dari multichat di BBM, antara ayahmu, nico, aspal, dan tukang aku bisa menyimpulkan mereka tidak akan membantai keluargamu dalam waktu dekat. Didalam chatnya juga terdapat keinginan aspal agar segera membantai keluargamu setelah kematian tukang, itu karena keluargamu yang selama ini mereka khawatirkan keberadaannya. Tapi aku tidak mengerti kenapa ayahmu menolaknya tak ada keterangan di chat-nya” jelas anton

“itu karena mereka kemungkinan tahu kalau keluargaku masih memiliki pengaruh kuat di daerah ini. dari penuturan Eri dan apa yang aku dengar ketika pertemuan mereka didanau. Ayah dan om nico memiliki rencana lain, sekalipun aspal dan tukang masih hidup mereka akan tetap disingkirkan. Juga dengan kolega-kolega mereka, termasuk bandar-bandar besar dan mengambil alih nahkoda dari bandar-bandar tersebut dan juga kolega-kolega mereka. Mereka ingin menguasai semuanya”

“setelah mereka berdua menguasai semuanya, maka mereka akan memiliki kuasa atas semuanya. Pejabat-pejabat, aparat-aparat kemanan dan semuanya yang melakukan hal-hal buruk akan diancam oleh mereka jika tidak menuruti mereka. dan disitulah, mereka akan menghabisi keluargaku. Jika semua orang yang ada didaerah ini menuruti kuasa mereka, pengaruh sebesar apapun dari keluargaku terutama kakekku tidak akan pernah berguna lagi. Tak akan ada penyelidikan, kalau semua pimpinan di daerah ini yang korup, kartunya mereka pegang. Bisa apa mereka? hanya dimanfaatkan oleh ayah dan om nico” jelasku

“berarti Cuma satu hal yang bisa kita lakukan… hari ketiga belas bulan kedua, hidup mati kita dan keindahan daerah ini” ucap dewo

“benar, Change it or die…” ucap anton

“well that’s right…” ucap wongso

“together?” ucap dira yang berdiri dan menjulurkan tangannya ditengah-tengah kami

Kami semua tersenyum dan ikut berdiri berputar, menumpuka tangan kami…

“KOPLAK!” Teriak kami

Malam semakin larut, setelah semua percakapan kami berakhir kami memutuskan pulang. Anton, mengatakan kepada kami, akan memberi kabar yang lain. Karena secara diplomatis dan penjelasan paling bagus hanya anton. Anton kemudian menyuruh wongso untuk mengantarku pulang tapi sebelumnya.

“aku harus memberitahu keluargaku mengenai ini semua, karena keluargaku merencanakan liburan. Aku harus segera menyuruh mereka berangkat” ucapku

“ya benar juga katamu ar, tapi tenang ar. Selama ini IN juga melindungi keluargamu jadi kamu tidak perlu khawatir berlebihan” ucap anton

“iya bener tuh kata anton, yang penting acara kita jangan sampai diganggu oleh anak buahmu nton” ucap dewo

“bener tuh, ntar ndak dapat jatah kan biasanya dira yang ada didepan hi hi hi” ucap dira

“kontol saja pikiranmu dir” ucap wongso

“sudah tenang saja, mereka hanya akan memback-up kita ketika kita butuh bantuan. Sampai sejauh ini aku masih memegang janjiku untuk tidak mengikutkan mereka. sudah lama bukan kita tidak pernah bersama, tapi jujur saja sebenarnya ini semua jauh dari permainan masa kecil kita. Ini seharusnya bukan kita yang menangani tapi mau bagaimana lagi, aku bagian dari koplak dan aku tahu bagaimana egoisnya, keras kepalanya koplak dan itulah yang aku suka” ucap anton

Kami pun tersenyum, kemudian tertawa seakan teringat pertama kali kami bertemu. Pertama kali kami berkumpul, dan pertama kali kami berkelahi. Semuanya akhirnya bubar jalan, aku meminta ijin terlebih dahulu ke asmi “istri” wongso agar mengijinkan wongso mengantarku di tengah malam ini. akhirnya diperbolehkan, dan kami melanjutkan perjalanan…

“untung Ar, tadi kamu mintain ijin. Bisa-bisa aku ndak dapat jatah dari asmi nanti…” ucap wongso yang memboncengkan aku

“iya bro, aku juga sudah ngrasain bagaimana punya cewek. Oh ya aku tak telp ibuku dulu yo, pelan-pelan saja” ucapku

“seeeepz!” ucap wongso, sambil aku membonceng aku menelepon ibu

“Halo sayang, kok belum tidur?”

“Arya mau ke tempat ibu sekarang, ibu dimana? Ada yang penting”

“penting apa? Ibu dirumah kakek ini juga semua masih begadang, ngobrol belum pada tidur”

“Siapa saja?”

“semuanya, adik kakek juga disini, tante asih dan semuanya…”

“arya kesitu, tunggu arya…”

“lho ada apa sayang?”

“Sudah nanti saja bu, dah ya bu”

“iya iya” tuuut

Setelah telepon aku tutup, wongso langsun menarik gas yang ada ditangannya. Motor melaju lebih kencang, kuperhatikan jam pada sematponku menunjukan pukul 00:30 pagi. Tubuhku sebenarnya sudah merasa lelah, aku juga yakin wongso mengalami hal yang sama. Dari mata wongso juga sangat terlihat kalau dia sangat kelelahan.

“Wong, maaf ya merepotkan. Ngantukkan kamu?” ucapku

“Ha ha ha ha… matamu! Sudah tahu aku ngantuk, masih ditanya tapi ya mbok jangan kaya gitu to suuuuu su!” teriaknya sambil tertawa

Kami tertawa terbahak-bahak selama perjalanan melewati malam ini. malam yang dingin penuh dengan kengerian dalam hatiku, sekilas bayangan dian melintas dalam benakku. Ingin rasanya aku memelukknya malam ini dan mencium aroma rambutnya. Tanpa terasa perjalanan telah usai, aku dan wongso masuk ke dalam rumah kakek yang disambut dengan ibu. ibu tersenyum pada kami berdua dan mempersilahkan kami masuk. Satu persatu aku dan wongso salim ke keluarga besarku ini, tak terlihat adik-adikku karena mungkin sudah pada tidur.

“Kakek..” ucapku kepada kakek

“sudah lama kakek ndak ketemu kamu, baik-baikah?” balasnya

“baik kek” ucapku

“nek…” ucapku dan langsung dipeluk dan dicium pipi kiri dan kananku oleh nenek

“ciyeee jomblo sekarang pacarnya cowok ya?” ucap tante ratna

“lho bu? Pemain sinteron kok disini?” ucapku ketika salim dengan tante ratna

“awas kami mblo ugh” ucapnya

“auch! Sakit tan, kejam banget sama cowok ganteng kaya aku” ucapku smabil mencium tangan tante ratna dan suaminya

“lha pacarnya mana? Kok malah cowok yang diajak jangan-jangan kamu?” tanya bu dhe ika

“apaan sih budhe itu huh!” ucapku ketika mencium tangannya. Ketika di pakdhe andi aku langsung dipeluknya erat

Setelah salim dengan semua anggota keluarga dan juga adik kakekku dan keluarganya…

Kleeek….

“Lho sama wongso ya ar?” ucap tante asih yang keluar dari kamar

“Wadiyah…” ucap wongso yang langsung melompak ke arahku, dan aku tangkap tubuhnya

“apa wong?” ucap tante asih

“eh ndak tan… endak… arya yang ngajak, saya ndak ikut-ikutan pokoknya kalau suruh nyapu halama rumah satu komplek, arya saja, aku ndak ikut-ikutan tan” ucap wongso

“ndak satu komplek tenang saja wong, Cuma satu kota saja, gimana?” ucap tante asih

“HAAAAH!” teriakku bersama wongso, mereka semua terbahak-bahak mendengar jawaban kami berdua

Sejenak kami saling tanya kabar, setelah sejenak itu kami kemudian hening karena tawaku yang terhenti. Wongso berada dibelakangku juga menghentikan tawanya. Semua pandangan tertuju kearahku dan…

“aku ke depan dulu ar” ucap wongso, dan hanya aku jawab dengan acungan jempol

“Arya mohon, segeralah berangkat liburan sampai arya menyelsaikan masalah ini” ucapku dengan tatapan tajam menyapu semua yang berada di dalam ruang keluarga

“Ada apa sayang?” ucap Ibu

“Ayah…” ucapku lirih dan semua mendengarkanku, pandangan mereka semua seakan mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan semua tentnag ayahku

“akan ada pertemuan ayah dengan beberapa orang dan itu tidak lama lagi, setelah pertemuan itu. kita akan dibantainya, jadi arya mohon untuk segera berangkat dan jangan kembali selama arya belum memberi kabar. Arya akan menyelesaikannya bersama sahabat-sahabat arya, sudah cukup baginya untuk bertualang dan saat arya mengehentikannya…” ucapku

“Arya tidak ingin kehilangan keluarga yang arya cintai, jadi arya mohon…” ucapku

“kamu tidak bisa menyelesaikannya sendirian ar, terlalu berbahaya” ucap Ibu

“benar kata ibu sayang, lebih baik serahkan semuanya kepada pihak aparat keamanan” ucap nenek

“tidak… mereka sudah mengakar, bisa jadi laporan kita menjadi bumerang bagi kita sendiri” ucapku

“Apa yang telah kamu lakukan malam ini? kenapa Eri bisa bersamamu?” ucap tante asih tiba-tiba keluar dari tema pembicaraan. Pandangannya heran penuh dengan pertanyaan..

“aku…” ucapku tersenyum

Perlahan dan pasti, aku menceritakan ketika mengambil eri dari dalam rumahnya. Cerita mengenai pembantaian yang akan dilakukan oleh ayah. Dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi setelah kematian si aspal. Ibu tampak terkejut mendengar ceritaku dan langsung memelukku, tangisnya pecah. Tak ada yang mampu mengungkapkan pendapat mereka, pak dhe, buhde, tante-tante dan om-omku pun semua diam.

“jika masih tetap disini, dan ternyata arya gagal… maka semua yang berkaitan dengan kakek akan habis” ucapku dalam pelukan ibu

“ini semua salahku, jika saja dulu aku tidak menerimanya daam keluarga ini. mungkin semua ini tidak akan terjadi” ucap kakek memecah keheningan

“Seharusnya kakek tidak berbicara seperti itu, karena dia arya juga ada walau…” ucap nenek terpotong

“Emmm…. maaf kakek, nenek, pak dhe, budhe, om, tante… menyela walau sebenarnya saya tidak boleh menyela…”

“saya harap yang terjadi biarlah terjadi, tinggal bagaimana menyelesaikannya. Tidak sepantasnya menyalahkan masa lalu, karena jika kejadian di masa lampau tidak terjadi. Mungkin sekarang Ibu saya sudah menjadi abu…” ucap wongso dari belakang, membuat semuanya memandang ke arah wongso

“eh… ar… aku kedepan lagi,maaf maaf” ucap wongso sambil merogoh saku jaketku mengambil rokok dan ngacir begitu saja

“benar apa kata nenek dan wongso, mungkin arya lahir dengan cara yang salah. Tapi arya lahir untuk kita semua, untuk menyelamatkan kita semua. Jadi jangan salahkan arya, karena arya juga diah jadi lebih bahagia hiks” ucap Ibu dengan memandang ke kakek, sembari mengelus-elus kepalaku

“maafkan kakek… tapi jika kamu melakukannya sendiri, semuanya terlalu berbahaya. Maafkan kakek pula karena tidak bisa mencegah ini semua terjadi” ucap kakek

“tapi arya mohon dengan amat sangat agar acara liburannya dipercepat, agar semuanya bisa dalam kondisi aman. Keluar negeri saja saran arya, agar mereka sulit mendeteksi keberadaan kakek dan semuanya. Jujur saja arya tidak tahu apa yang dilakukan oleh mereka setelah mendengar berita kematian salah satu komplotannya tapi arya yakin mereka tidak akan segegabah itu, jadi untuk menghindari mereka melakukan hal yang gegabah, arya memohon untuk segera berlibur” ucapku

“tapi bagaimana dengan kamu?” ucap pak deh andi

“apa kamu memang benar-benar bisa menyelesaikan semuanya?” ucap tante asih

“kamu ikut asaj mblo” ucap tante asih

“iya ar, berbahaya jika kamu terus disini” ucap bu dhe

“kita semua pindah daerah saja dan mulai membangun kehidupan baru” ucap suami tante asih

“benar, mungkin itu jalan yang terbaik” ucap om heri

“tidak… aku tidak akan pergi begitu saja, aku tidak akan mengingkari janjiku kepada kakek wicaksono dan nenek mahesawati” ucapkku membuat semuanya kembali terdiam. Kakek memandangku begitu tajam.

“mereka sudah meninggal kek, meninggal dalam pelukan cucunya. Mereka selalu menanti kehadiranku, dan baru ketika aku dewasa aku kembali bisa menemuinya namun hanya sesaat. Dan setelah sesaat itu pulalah mereka tiada” ucapku

Terjadi perdebatan panjang diantara kami semua. Mulai dari pakdhe dan om-omku yang memutuskan untuk tinggal dan membantuku. Tap aku menolaknya karena merekamempunyai budhe dan tante yan masih membutuhkan mereka. kakek nampak kehabisan kata-kata ketika melawan keegoisanku, dan berhenti menentang pendapatku.

“baiklah, kita semua akan berangkat secepatnya. Dan menunggu kabar dari arya. jika tidak ada kabar dari arya, kita akan pindah tempat tinggal” ucap kakek

“terima kasih kek, arya akan berusaha semaksimal mungkin dan arya yakin bahwa semuanya akan bisa arya selelsaikan dengan sempurna” ucapku

Tak ada lagi tante ratna dan bu dhe ika yang menggodaku. Semua diam dan menyetujuinya, terakhir aku memohon kepada mereka agar benar-benar pergi dari tempat ini agar aku tidak terus mengkhawatirkan mereka. dan mereka semua menyetujuinya.

“Arya, iku ibu ke kamar dulu, ibumau bicara” ucap ibu mengajakku masuk kedalam kamar. pintu kemudian ditutup ibu, ibu kemudian mengambil kotak yang berisi music box

“ini hadiah buat dian, ibu membelikannya buat kalian berdua” ucap ibu

“eh… terima kasih bu” ucapku

Ibu kemudian memelukku dan mencium bibirku, secara reflek aku membalasnya

“Ingat, ibu masih kekasihmu selama bajingan itu belum lenyap” ucap ibu

“Iya bu, arya akan selalu ingat” ucapku

“Love you beb” ucap ibu

“love you too beb” balasku

Kami kemudian keluar dari kamar dan menuju ruang keluarga kembali…

“Semuanya, tolong percaya pada arya dan doakan arya. dia datang satu paket dengan arya, dia adalah pemusnah dan arya adalah obatnya, anggap saja seperti itu” ucapku tersenyum kepada mereka

Ibu dan tante asih kemudian mengantarkan aku keluar menemui wongso yang sudah terlelap dalam tidurnya. Dengan sedikit ketegaan aku membangunkannya, tampak matanya merah karena lelah. Aku dan wongso kemudianmelanjutkan perjalanan kembali, sebelum berangkat ibu dan tante asih titip salam kepada dian. aku mengiyakannya dan langsung kami perjalanan menuju kerumah dian. sesampainya dirumah dian, tepat didepan rumahnya.

“Kamu yakin bisa pulang wong?” ucapku khawatir

“apapun akan aku lakukan, karena tadi pagi aku dapat BJ dari asmi, malam ini pasti akan lebih hot!” ucap wongso

“Kereeeeeen!” balasku

Bersambung

Hallo Bosku, Disini Admin KisahMalah
Agar Admin Semakin Semangat Update Cerita Cerita Seru Seterusnya, Bantu Klik Iklan yang Ngambang ya.
Atau Gambar Dibawah INI

Atau Bagi Kamu yang suka bermain game Poker Online atau Gambling Online lainnya, bisa di coba daftarkan ya. Banyak Bonus dan Hadiahnya Loh.
Untuk yang Kesulitan Daftar bisa Hub Admin di WA untuk di bantu Daftar.
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂