. Black Circle Part 2 | Kisah Malam

Black Circle Part 2

0
64
kisah malam

Black Circle Part 2

Loh, Kamu???

Pagi ini Haris sudah berada di kantornya yang baru, tepatnya di ruang rapat. Bersama dia ada sekitar 15 orang lagi. Mereka semua kompak memakai pakaian yang sama, atasan putih dan bawahan hitam. Sebenarnya tidak ada ketentuan khusus tentang pakaian yang harus mereka pakai, bahkan di email yang mengabarkan kalau mereka lolos kerja dan meminta untuk datang hari ini, hal itu tidak disebutkan. Tapi ternyata, mereka semua kompak memakai pakaian seperti itu, semuanya.

Haris sudah sampai di kantor ini sekitar setengah jam yang lalu. Dia benar-benar naik ojek online hari ini. Dia tidak ingin telat dan membuat kesan buruk di hari pertamanya bekerja. Dan sama seperti dia, teman-temannya yang juga sesama karyawan baru ternyata kebanyakan juga seperti itu, meskipun ada juga yang datangnya mepet dengan jam masuk kantor. Tak lama kemudian masuklah seorang pria dengan setelan jas rapi. Pria itu tersenyum geli melihat para karyawan baru yang berpakaian seragam, padahal tidak diminta.

“Selamat pagi semuanya…”

“Pagi paaak…”

“Perkenalkan nama saya Doni Wijaya, manager HRD PT Dwiputra. Saya ucapkan selamat datang kepada kalian semua, dan selamat bergabung di perusahaan ini,” ucap pak Doni memperkenalkan diri dan menyambut para karyawan barunya.

“Nggak perlu banyak basa basi ya. Kalian adalah orang-orang terpilih dari sekian ribu orang yang mendaftar, jadi berbanggalah. Tapi ingat, begitu masuk di perusahaan ini, kalian dituntut untuk memberikan yang terbaik. Semua harus on the track. Jika ada yang keluar jalur, atau tidak bisa mengikuti langkah yang lainnya, maka siap-siap aja, karena di luar sana sudah banyak orang yang menunggu untuk menggantikan posisi kalian, paham?”

“Paham paak…”

“Sebelum saya lanjutkan, saya ingin bertanya dulu. Apakah setelah duduk di ruangan ini, ada diantara kalian yang berubah pikiran dan ingin mengundurkan diri sekarang juga? Kalau ada, silahkan bilang ke saya. Yang dari luar kota, saya akan belikan tiket pesawat untuk pulang. Yang dari dalam kota, saya siapkan mobil untuk mengantar ke rumah kalian.”

Tidak ada yang menjawab, malah mereka bingung, saling tatap satu sama lain. Baru masuk kerja, belum apa-apa, sudah ditanya seperti itu.

“Saya bilang begini karena saya nggak mau repot lagi. Mendingan repot diawal, cuma keluar duit buat biaya kalian pulang. Tapi kalau kalian udah tanda tangan kontrak, terus nantinya nggak betah dan pengen keluar, urusannya ribet, dan saya nggak mau dipusingkan dengan hal itu.”

Kembali semuanya terdiam, termasuk Haris. Dia masih bingung dengan maksud pak Doni, tapi dia sudah mantap untuk tetap berada di perusahaan ini apapun yang terjadi, paling tidak, sampai kontrak untuk masa trainingnya selesai. Setelah itu, hal lain bisa dipikirkan lagi nanti.

“Oke, kalau nggak ada, saya anggap kalian sudah siap untuk memperjuangkan posisi kalian di perusahaan ini, betul begitu?”

“Betul paak…”

“Nah gitu dong, wajahnya jangan tegang kayak gitu, kalian ini baru diterima kerja, jadi pasanglah wajah bahagia kalian.”

Beberapa orang tersenyum mendengar ucapan pak Doni. Berbeda dengan yang tadi bernada tegas, ucapan pak Doni kali ini terdengar seperti sedang bercanda, apalagi pria itu juga sambil tersenyum.

“Baiklah, saya akan jelaskan program yang akan kalian jalani mulai hari ini. Kalian akan menjalani program training yang akan dibagi menjadi 2 tahap. Pertama, selama 3 bulan kalian akan belajar tentang dasar-dasar dan SOP kerja di kantor pusat ini. Setelah itu, 3 bulan kemudian kalian akan belajar lebih ke operasionalnya, semacam praktek kerjanya. Nah, di 3 bulan kedua ini, kalian bisa saja masih berada di kantor pusat, atau mungkin disebar ke kantor cabang, tergantung kebutuhan. Di akhir masa training nanti, kalian akan diminta presentasi apa saja yang sudah kalian dapat dan kerjakan selama training, dan itu akan menentukan kalian layak diangkat menjadi karyawan tetap atau tidak.”

Terdengar pak Doni memaparkan panjang lebar tentang program training yang akan dijalani oleh Haris dan teman-temannya sesama karyawan baru.

“Maaf pak,” salah satu karyawan baru ada yang mengangkat tangannya.

“Iya mas, ada apa?”

“Jadi kita belum pasti diterima disini pak?”

“Iya, benar sekali. Saat ini, status kalian masih 50%. 50% lagi ditentukan dari selama kalian mengikuti training dan presentasi akhir nanti. Masih ada pertanyaan?”

“Saya pak. Apakah nantinya jika kami semua lulus, kami semua diterima? Atau menyesuaikan dengan kuota?”

“Oh tidak, kalau kalian semua lulus, semua akan diterima karena jumlah kalian yang berada disini, adalah sesuai dengan jumlah karyawan yang kita butuhkan, baik di pusat ataupun di kantor cabang. Jadi tidak ada patokan ranking, hanya patokannya standar minimal yang diminta oleh perusahaan. Ada pertanyaan lagi?”

Semua terdiam kembali. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan dan jawaban yang diberikan oleh pak Doni sudah cukup bagi mereka. Yang jelas sekarang mereka sudah tahu posisinya seperti apa. Meskipun belum sepenuhnya diterima, tapi mereka merasa lebih tenang karena tak perlu terlalu bersaing dengan sesama rekan karyawan baru. Jika semua bisa melewati standar minimal yang diminta perusahaan, semua akan lolos, tidak perlu diurut berdasarkan ranking.

“Baiklah kalau tidak ada pertanyaan lagi, saya rasa semua sudah mengerti. Sebentar lagi asisten saya akan membawakan draft kontrak kalian untuk masa training, yang berisi hak-hak dan kewajiban kalian. Sambil menunggu, saya absen dulu ya, biar lebih kenal.”

“Iya pak.”

“Oke, yang pertama, Aldi Wijaya…”

“Saya pak.”

“Beatrix Rosalia.”

“Saya pak.”

Pak Doni terus memanggil satu persatu nama dari teman-teman Haris. Ada untungnya juga, karena tadi Haris belum sempat berkenalan dengan semua teman barunya itu.

“Haristama Nagoya.”

“Saya pak,” Haris mengangkat tangan ketika namanya disebut.

“Nagoya?”

“Eh, iya pak.”

Pak Doni menatap wajah Haris, membuat teman-temannya di ruangan itu ikut menatapnya, yang membuat Haris jadi bingung.

“Nama kamu ada nuansa jejepangan gitu, tapi mukamu nggak ada jepang-jepangnya?”

“Hehe, saya memang bukan orang Jepang kok pak,” jawab Haris.

“Oh, berarti, lahir di Jepang?” tanya pak Doni.

“Nggak juga pak, saya lahir di Solo.”

“Lha terus? Kok namanya pake Nagoya segala? Apa singkatan atau ada arti khusus yang lain? Atau cuma gaya-gayaan?”

“Hmm, kalau kata bapak saya sih, emang saya dibuatnya di Jepang pak, makanya dikasih nama itu.”

“Wuahahahahaha…”

Seketika mereka semua tertawa mendengar jawaban Haris. Bahkan pak Doni sampai terduduk di kursi memegangi perutnya saking kerasnya tertawa. Harispun mau tak mau ikut tertawa. Dia sebenarnya tidak berniat melucu, karena memang itulah jawaban dari orang tuanya ketika ditanya kenapa namanya ada Nagoya-nya. Apalagi selama ini juga jarang ada yang bertanya tentang namanya. Dan ketika dia menjawab seperti itu, sikap teman-temannya biasa saja.

“Permisi…”

Tawa mereka terhenti saat seorang wanita dengan busana kantoran masuk membawa setumpuk kertas. Semua perhatian langsung terpusat padanya. Terutama Haris, yang sangat terkejut melihat siapa yang masuk.

“Oh kamu Vi, sana bagiin dulu draft kontraknya,” perintah pak Doni.

“Baik pak.”

Wanita itu langsung membagikan berkas yang dia bawa ke para karyawan baru. Yang terakhir adalah Haris, karena dia memang duduknya paling belakang.

“Loh, mbak Viona? Kok disini?” tanya Haris, setengah berbisik.

“Ya emang aku kerja disini, hehe. Udah kamu baca aja dulu itu, entar aja kita lanjutin ngobrolnya,” jawab wanita itu, yang tak lain adalah Viona.

Haris benar-benar terkejut karena tak menyangka Viona juga bekerja disini. Dari kemarin, tidak ada pembicaraan mengenai hal ini selama di rumah. Aldo tak membahasnya, Viona juga. Dan memang Harispun tak bertanya dimana Viona bekerja. Pantas saja kemarin Aldo dan Viona, terutama Viona menawarkan untuk berangkat bareng, ternyata mereka memang sekantor. Tapi ada untungnya juga bagi Haris berangkat duluan, karena memang sudah niatnya untuk tak sampai telat di hari pertamanya bekerja.

“Vi, bisa tolong kamu jelasin masalah kontrak itu?” pinta pak Doni.

“Baik pak.”

Viona yang baru saja duduk kemudian berdiri lagi, saat dilihat para karyawan baru itu selesai membaca draft kontrak mereka, dan menunggu penjelasan dari Viona.

“Baik rekan-rekan semua, sudah dibaca draftnya?”

“Sudah bu…”

“Oke, saya hanya akan sedikit menambahkan saja. Intinya, selama masa training ini, kalian akan menerima gaji sebesar 6 juta perbulan. Untuk tempat tinggal, bagi yang berasal dari luar kota diberi 2 pilihan. Pertama tinggal di mess perusahaan, kedua mencari tempat tinggal sendiri. Tapi jika mencari kos sendiri, dari pihak perusahaan tidak menanggung biayanya, jadi semua 100% ditanggung oleh rekan-rekan sendiri, bisa dipahami?”

“Bisa bu…”

“Maaf bu, saya mau nanya,” seseorang dari mereka mengangkat tangannya.

“Iya mas silahkan.”

“6 juta ini bersih atau masih dipotong pajak lagi?”

“Oh, 6 juta itu bersih. Untuk pajak sudah ditanggung perusahaan, sudah diluar itu.”

Semuanya mengangguk. Hampir semua tak mempermasalahkannya lagi, karena ternyata gaji pertama yang akan mereka terima jauh lebih banyak dari yang mereka kira sebelumnya. Termasuk Haris, yang waktu interview ditanya berapa gaji yang diinginkan, dia hanya menjawab 4-5 juta saja, tapi ternyata malah lebih tinggi dari permintaannya.

Masih training aja segini, berarti kalau udah diangkat jadi karyawan tetap, bakalan lebih tinggi lagi dong? Wah beruntungnya aku bisa masuk di perusahaan ini. Aku harus bener-bener berusaha nih, biar diangkat jadi karyawan tetap,’ batin Haris.

Viona kemudian menjelaskan beberapa detail dari draft kontrak kerja itu. Beberapa yang kurang jelas sudah ditanyakan, dan dijawab dengan baik oleh Viona. Akhirnya para karyawan baru itupun menandatangani kontrak kerja itu dan menyerahkan kembali kepada Viona. Selanjutnya Viona membagikan ID card untuk masing-masing karyawan baru.

“Oke, semua sudah tanda tangan kontrak, dan sekali lagi saya ucapkan selamat bergabung di perusahaan ini. Saya harap kalian semua bisa menjalani training dengan baik dan semuanya nanti lulus.”

“Amiiiin…”

“Ya sudah, saya rasa cukup. Saya permisi dulu karena masih ada kerjaan. Selanjutnya, nanti akan diarahkan oleh bu Viona. Mari semua,” pak Doni pun keluar dari ruangan, meninggalkan Viona dengan para karyawan baru.

“Rekan-rekan, karena hari ini kalian belum mulai bekerja, saya akan antarkan dulu kalian ke bagian masing-masing. Nanti silahkan kenalan sama mentor-mentor kalian, setelah itu kalau mau pulang dipersilahkan. Dan untuk besok, kalian tidak perlu memakai pakaian seperti itu lagi, berpakaian seperti biasa saja, seperti karyawan disini yang lainnya, dan ID card jangan sampai lupa ya. Kalau hilang atau rusak, segera lapor ke saya, mengerti?”

“Mengerti bu…”

Viona kemudian membawa para karyawan baru itu berkeliling kantor. Beberapa orang ditinggal di bagian mereka masing-masing untuk berkenalan dengan para mentornya. Sampai akhirnya hanya tinggal 2 orang saja, yaitu Haris dan seorang gadis bernama Lidya yang ikut Viona ke bagian personalia. Mereka masuk ke ruang kerja Viona. Setelah masuk mereka dipersilahkan duduk.

“Nah kalian berdua yang di bagian personalia, jadi selama masa training nanti sama saya ya,” ucap Viona.

“Iya bu,” jawab Lidya, sementara Haris diam saja.

“Kamu kenapa Ris kok diam saja?” tanya Viona.

“Mbak Viona kok nggak bilang kalau kerja disini juga?”

“Lha kamu kan nggak nanya.”

“Ya tapi kan mbak…”

“Lha emangnya kenapa? Ada masalah?”

“Yaa, enggak sih, cuma kan…”

Haris kebingungan. Memang tidak ada yang salah sih. Dia memang tidak bertanya. Tapi harusnya Viona cerita kalau dia bekerja di kantor ini juga, berada di bagian yang sama dan bahkan menjadi mentornya selama training. Tapi, diberitahu lebih awalpun juga sebenarnya tidak ada pengaruhnya juga, karena itulah Haris bingung apa yang harus dia proteskan.

Sementara itu Lidya, yang duduk di antara mereka malah kebingungan. Dia tak menyangka kalau Haris dan Viona sudah saling kenal, terlihat sekali dari cara ngobrol mereka yang sudah sangat akrab.

“Kenapa Lid? Kok kayak bingung gitu?” tanya Viona.

“Eh, nggak. Hmm, ini, bu Viona dan Haris, saling kenal?”

“Haha, iya, kami saling kenal kok,” jawab Viona.

“Baru kenal, lebih tepatnya,” sahut Haris, yang masih agak jengkel dengan Viona.

Viona akhirnya menceritakan kepada Lidya apa yang sebenarnya terjadi. Mendengar cerita itu Lidya yang tadinya kebingungan malah ikutan tertawa. Dia paham betul apa yang dirasakan oleh Haris.

“Bu Viona ini ada-ada aja, masak saudara sendiri dikerjain gitu?”

“Lho aku nggak ngerjain lho Lid, dianya aja yang nggak nanya. Kalau dia nanya kan pasti langsung ku jawab.”

“Yaelah mbak, mana kepikiran aku kalau mbak juga kerja disini,” sahut Haris yang masih saja sewot.

“Haha, udah ah Ris, masak sama kakaknya sewot gitu, nggak dilulusin kapok lho kamu entar,” ucap Lidya.

“Oh iya. Terus ini gimana mbak?”

“Apanya yang gimana Ris?”

“Hmm, yaa kan, aku trainingnya sama mbak Viona, terus kita tinggalnya aja serumah. Entar gimana kata orang-orang?”

“Yaa nggak gimana gimana. Kita tinggal serumah kan karena kamu itu saudaranya suamiku. Kamu masuk disini, keterima disini, juga karena usahamu sendiri. Aku juga nggak peduli kamu siapa, kalau kamu emang layak, ya aku lulusin, kalau nggak layak, ya nggak lulus, simpel kan?”

“Yaa tapi kan nggak sesederhana itu mbak. Gimanapun juga kan kita ini masih ada hubungan keluarga, meskipun jauh banget. Apa entar nggak dikira, KKN?”

“KKN? Kamu belum tahu aja sih Ris.”

“Belum tahu apa mbak?”

Viona tak langsung menjawabnya. Dia malah menatap ke arah Lidya sambil tersenyum.

“Lid, kamu mau bantuin jawab?” tanya Viona.

“Loh, kok jadi ke Lidya sih mbak? Ini kan urusan antara kita?” sahut Haris.

Viona kembali hanya diam saja, sekali lagi dia melihat ke arah Lidya.

“Iya Ris, nggak papa aku aja yang jawab. Mungkin kamu takut kalau bakal dikira KKN karena punya hubungan kekerabatan sama bu Viona, bahkan kalian tinggal serumah. Wajar sih, karena kamu bener-bener baru disini, dan belum tahu kondisi disini seperti apa.”

“Kondisi disini? Emang kondisi apaan Lid?”

“Disini, ada yang punya hubungan lebih dekat dibandingkan hubungan kamu sama bu Viona.”

“Hah? Maksudnya?”

“Iya. Kalau hubungan kamu sama bu Viona kan karena bu Viona itu istrinya sepupu kamu, jadi aku pikir, hubungannya masih agak jauh lah. Nah, disini, ada yang hubungannya lebih dekat lagi, seperti suami istri, atau orang tua dengan anaknya.”

“Hah? Serius? Lha bukannya itu nggak boleh ya? Bukannya udah ada aturannya?”

“Aturan itu emang menurutmu siapa yang bikin?”

“Yaa, hmm, perusahaan sih.”

“Nah itu dia. Di perusahaan ini, aturannya sedikit beda. Kebanyakan memang sama dengan aturan di perusahaan lain, tapi untuk soal yang satu itu, tidak ada larangan disini. Banyak kok suami istri yang kerja disini. Orang tua dan anak juga. Jadi, nggak perlu takut dicap KKN.”

“Lha bukannya malah memperjelas kalau itu KKN ya Lid?”

“Itu kalau asal masuk tanpa tes. Buktinya, aku bisa masuk karena melewati tes, sama seperti tes-tes yang kamu lewati. Jadi meskipun punya hubungan keluarga, bukan berarti bisa dengan mudah masuk ke perusahaan ini.”

“Loh, kamu juga? Emang ada keluargamu disini?”

“Iya.”

“Siapa?”

“Yang tadi nyambut kita pertama kali di ruang rapat.”

“Ooh, pak Doni?”

“Iya bener.”

“Lha emang kamu siapanya pak Doni?”

Sekarang Lidya terdiam, dan menatap ke arah Viona dengan tersenyum. Viona juga balas tersenyum.

“Kamu nggak sadar sesuatu Ris?” tanya Viona.

“Sadar apaan sih mbak?” tanya Haris bingung.

“Coba inget-inget lagi nama belakang mereka.”

“Nama belakang. Nama kamu, Lidya Wijaya kan? Eh tunggu dulu, pak Doni itu Doni Wijaya, berarti, kamu anaknya pak Doni?”

“Yups, bener banget. Makanya kedepannya nggak usah heran kalau ada yang kayak aku sama papa, atau ada suami istri disini, kamu udah tau kan sekarang?”

Haris hanya bengong menatap 2 wanita di depannya. Dia masih tak percaya, karena yang dia tahu, ada perusahaan yang menerapkan aturan tidak boleh menikah dengan sesama karyawan, atau tidak boleh mendaftar jika ada saudaranya yang bekerja di perusahaan tersebut.

“Udah, kamu nggak usah pikirin itu. Disini semua profesional Ris, dan aku juga minta kamu seperti itu, bisa?” ucap Viona.

“Bi,, bisa mbak.”

“Mbak? Katanya bisa profesional?”

“Eh, maaf. Iya, bisa bu.”

“Nah, gitu dong. Boleh aja tetep manggil mbak, tapi diluar jam kantor ya?”

Haris mengangguk. Haris sudah paham sekarang. Biarlah dengan semua aturan-aturan itu, biarlah ada hubungan saudara atau keluarga antar karyawan di kantor ini, seperti dirinya dengan Viona, yang paling penting, selama berada di kantor, atau di lingkungan pekerjaan, mereka harus profesional.

Meskipun sebenarnya hari ini mereka belum perlu untuk mulai bekerja, mereka memutuskan memulainya saja. Hari itu mereka habiskan dengan pengenalan SOP dasar yang harus mereka kuasai di bidang personalia. Yang tidak dimengerti langsung ditanyakan, dan langsung mendapat jawaban dari Viona. Haris dan Lidya bisa dengan cepat belajar karena mereka sudah punya basic di bidang itu. Haris semasa kuliah pernah magang di beberapa perusahaan di bagian yang sama, jadi apa yang dia pelajari hari ini tidak terlalu asing baginya.

Haris benar-benar beruntung, dia benar-benar mensyukuri apa yang dia dapatkan saat ini. Bisa diterima bekerja di sebuah perusahaan sebesar ini, mendapatkan mentor training yang ternyata tak lain adalah istri dari saudaranya sendiri, dan juga mendapat partner kerja yang sebaik, sepintar, dan secantik Lidya. Meskipun bukan jaminan semua akan menjadi lebih mudah, tapi paling tidak, tidak sesulit apa yang pernah dibayangkan oleh Haris sebelumnya.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Cerita Terpopuler